Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Tagihan Pertemuan


__ADS_3

“Anu ... Elvino ketiduran, Ma, karena begadang ngecek laporan bulanan,” ujar Elvino berbohong. Tangannya menggaruk-garuk tengkuk.


“Celia mana? Kok nggak ada?” cecar sang Mama sambil memicingkan mata menaruh sedikit curiga.


“Dia lagi, olahraga Ma. Ya ... olahraga.” Elvino mulai berkilah. Akan tetapi sebagai seorang ibu pasti punya feeling tersendiri apalagi soal anaknya.


Ikatan batin yang paling kuat adalah ikatan seorang ibu dan anak. Emma mendesah. Tanpa Elvino jelaskan pun, dia tahu jika sang anak sedang menutupi sesuatu darinya.


“Kalian berantem? Nggak usah bohong. Kamu nggak jago dalam hal itu, El. Berantem kali ini kenapa?” 


“Sudahlah, Mah. Itu urusan kami. Maaf,” kata Elvino menunduk menutupi kegalauan hatinya.


Emma mengerti, tak sehat ia ikut campur dalam rumah tangga sang anak. Dia bergerak meraih tubuh Elvino lalu memeluknya.


“Maafkan Mama, Nak. Dulu Mama terlalu memaksakan kamu untuk segera menikahi Celia karena berpikir dia baik. Pada kenyataannya kamu malah jadi tidak bahagia begini. Tanpa kamu tahu, Mamah sebenarnya sering memergoki kamu tengah bertengkar dengan Celia. Tapi Mamah memilih diam. El, jika kamu tidak bahagia, kamu boleh berhenti.” 


Elvino hanya bergeming mendengar penuturan Emma. Hatinya tersayat sembilu. Sesak rasanya.


*** 

__ADS_1


Sementara itu, di sisi lain Shena yang sudah tampil cantik menuruni anak tangga dengan raut wajah yang ceria. Meski tampilannya tidak terlalu terbuka, tapi tetap saja kecantikannya begitu memesona.


"Pagi, Mam ... pagi, Pa." Shena mencium pipi kedua orang tuanya, kemudian duduk sembari meminum susu yang sudah disediakan oleh asisten rumah tangganya.


"Pagi, Sayang ... tumben, ceria banget hari ini?" tanya Sandra.


"Masa sih, Ma?" Shena mengambil sandwich, lalu melahapnya dengan semangat.


"Ingat, besok malam jam tujuh kamu bawa pacar kamu ke sini! Papa tidak mau bila ada alasan dia sibuk karena tidak bisa datang," ujar Baskara yang memberi peringatan kepada putrinya.


"Beres, Bos!" sahut Shena dengan semangat.


Mendengar perkataan dari Baskara, Shena hanya memajukan bibirnya sekilas yang seperti anak kecil, dia pun membalas ucapan dari Papanya. "Iya!"


Shena pun kembali menikmati menu sarapannya, begitu juga dengan ke dua orang tua Shena. Namun, di sela-sela mereka sedang menikmati sarapan, tiba-tiba suara notifikasi pada ponsel Shena berbunyi. Tertera pesan dari Melva yang memberitahu tentang situasi di butik saat ini.


"Ma, Pa, Shena langsung ke butik, ya, sekarang." Shena menenggak susu yang tersisa sedikit, lalu bergegas pergi.


"Loh, nggak dihabisin sarapannya?" tanya Sandra.

__ADS_1


"Nggak, Ma, udah kenyang." Shena kembali lagi mendekat ke arah kedua orang tuanya untuk berpamitan.


"Jangan lupa besok jam tujuh, tidak boleh telat!" ucap Bagaskara.


"Iya, Pa!" Shena bergegas pergi setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya.


***


Seorang wanita dengan paras cantik dengan penampilan yang cukup terbuka, menampakkan kulit putih mulus pada bagian bahunya sedang melampiaskan rasa kekecewaannya pada barang yang kemarin dia beli di butik tersebut.


Mendapat kabar tentang coustomer yang komplain terhadap produk yang Shena rancang sendiri, tentu menjadi tanggung jawab Shena sebagai pemilik butik.


"Saya tidak mau tahu, pokoknya saya minta ganti rugi dua kali lipat!" ucap Wanita itu yang tersulut emosi.


"Nggak bisa gitu dong, Bu! Ini kan rusak ketika barang sudah Ibu beli. Masa kita yang harus ganti rugi?" ujar pegawai Shena yang membela nama baik butik.


"Mana sih, Bos kamu? Biar saya yang bicara sama dia." Wanita itu menerobos ingin masuk ke dalam ruang pribadi Shena.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2