
Perdebatan sengit pun mengalihkan perhatian para pengunjung. Shena terus memberontak minta dilepaskan. Namun, dari sekian banyak orang dan pegawai restoran, tak ada satupun yang berniat membantu. Seolah hal itu adalah wajar bagi sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Mereka hanya berani melihat tanpa mau mencampuri urusan orang lain. Tanpa mereka tahu, seseorang tak jauh dari situ tengah mengamati mereka. Orang tersebut memakai kacamata hitam dan kain penutup rambut di kepalanya. Hingga, tak ada yang mengenalinya. Dia sengaja merekam pertunjukan menarik yang sedang berlangsung.
Senyum liciknya tak henti merekah membayangkan jika video yang ia rekam berhasil sampai kepada Elvino. Orang itu adalah Celia. Sebenarnya, awalnya ia hanya penasaran kepada sikap Roger yang amat aneh. Pasalnya, Roger yang sedang mengantarkannya ke dokter untuk pemeriksaan janin yang sedang tumbuh itu tiba-tiba menurunkannya di jalan sesaat setelah menerima sebuah telepon.
Messkipun terpaksa, Celia tetap menuruti perintah dari Roger yang mendadak menjadi dingin dan kembali kasar seperti saat sebelum ia hamil. Akhirnya, rasa keingintahuannya membuat Celia nekat mengikuti Roger secara diam-diam menggunakan taksi.
Rupanya hal tersebut justru menguntungkan bagi dirinya. Ia jadi memiliki bahan untuk membuat hubungan Elvino dan Shena semakin runyam lalu berantakan. Begitulah kira-kira rencana yang terbesit dalam otaknya saat ini. Ia begitu yakin rencananya kali ini begitu mulus karena ia memiliki bom di tangannya.
Sebelum Roger atau Shena menyadari keberadaannya, Celia segera beranjak dan pergi dari cafe tersebut setelah membayar bill di kasir.
Sementara, Shena masih berusaha untuk lepas dari Roger karena tenaga pria tersebut lebih kuat dan membuat Shena semakin sulit untuk lepas. Kekuatannya tidak seimbang dengan Roger.
Dalam hati ia sangat menyesal karena sudah menemui Roger hari ini. Bukan hanya masalah yang tak terpecahkan. Namun, justru ia terjebak sendiri dalam rencananya.
Sebuah ide terlintas di benaknya. Shena menginjak kaki Roger dengan high heels miliknya dengan tenaga penuh. Akhirnya ia berhasil membuat seorang Roger mengaduh dan melepaskannya. Tak mau menyiakan kesempatan itu, Shena segera berlari keluar dari cafe dan menaiki taksi yang stand by di area restoran.
"Jalan, Pak." Shena memerintah sopir taksi yang sedang tidur di dalam mobil itu dengan menepuk kursi pengemudi. Hal itu membuat sang sopir tersentak kaget dan langsung terbangun.
"Ke mana, Mbak?" tanya sang sopir berusaha terjaga dari kantuknya.
"Jalan aja dulu, Pak. Cepetan!" Shena sungguh panik dan takut jika Roger berhasil menangkapnya kembali.
__ADS_1
Taksi itu akhirnya melenggang menjauhi restoran. Sedangkan, Roger kehilangan jejak Shena karena di saat yang bersamaan ada tiga taksi yang beroperasi. Jadi, dia bingung yang mana yang Shena tumpangi. Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang.
Di tempat lain, Celia sedang duduk di rumahnya sambil tertawa terbahak-bahak membayangkan betapa emosinya Elvino saat ini. Ia sudah mengirimkan hasil video dan bebeberapa foto yang ia ambil di restoran kepada mantan suaminya tersebut.
Sejauh yang ia kenal, Elvino pasti tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat Shena akan diceraikan oleh Elvino dan itu kesempatan emas untuk dirinya mengambil kembali mantan suami yang sangat kaya itu.
Ia menyesap minuman beralkohol di gelas kaca sedikit demi sedikit menikmati sensasi pahit dan menyegarkan di tenggorokannya. Sesekali menatap gelas itu seolah bayangan Elvino tengah menatapnya dengan senyum.
Tak lama, ketukkan pintu mengagetkannya. Ia berjalan terhuyung akibat pengaruh alkohol yang mulai bereaksi pada tubuhnya.
Celia membuka pintu dan Roger langsung masuk tanpa permisi. Perempuan itu menutup kembali pintu rumahnya lalu mengekori Roger yang berjalan penuh emosi.
"Celia, apa yang kamu lakukan?" tanya Roger saat mencium bau alkohol yang menyengat di ruangan tersebut. Ia mengendus-endus leher Celia memastikan bahwa hidungnya berfungsi dengan baik.
Meskipun begitu, ia melakukannya dengan pelan agar tak menyakiti Roger junior yang ada pada tubuh Celia.
*
Shena menghentikan taksi saat sudah sampai di butik. Ia mencari Melva untuk mencurahkan segala permasalahan yang dihadapi saat ini.
"Melva, ke ruanganku sekarang." Shena berkata saat baru memasuki butik miliknya.
Melva pun akhirnya mengekori Shena hingga dan ikut masuk ke ruang kerja bos sekaligus sahabat dan sepupunya itu.
__ADS_1
"Ada apa, Shen? Mukamu kaya kusut gitu? Mana mata panda pula?" tanya Melva dengan dahi berkerut dan tangan memeluk tubuh.
Tiba-tiba, Shena menangis sejadi-jadinya hingga meraung seperti orang kesurupan.
"Shen … woi? Kamu kenapa? Dih malah nangis kaya bocil minta balon? Cerita juga belom? Kamu kenapa? Sini cerita," ucap Melva lalu menghampiri Shena yang sedang terisak di sofa. Ia memeluk Shena dengan erat lalu mengusap punggung wanita tersebut agar tenang.
"Luapin, Shen. Luapin aja. Aku nggak tahu kamu lagi ada apa dan kenapa. Tapi kalau kamu sampe histeris gini aku yakin kamu sedang mengalami hal yang berat. Tenang Shen, aku akan selalu ada buat kamu. Aku siap bantu apapun buat kamu, Shen."
Shena hanya mengangguk menanggapi tapi terus menangis dan mengeluarkan segala sesak di dadanya karena masalah yang sedang ia alami. Ia sangat takut. Kekhawatiran terbesarnya saat ini adalah Elvino. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kisah selanjutnya antara dia dengan Elvino.
Setelah tenang karena menumpahkan kesedihannya dengan tangisan, Shena akhirnya menceritakan duduk persoalannya dari awal hingga akhir kepada Melva.
"Sialan! Siapa sih yang pengen fitnah kamu dan bikin hubungan kalian berantakan gini? Ish awas aja kalau sampai ketahuan pelakunya aku akan ulek dia jadi sambal aja bareng sama teri medan. Kesel aku tuh!" omel Melva lalu melonggarkan pelukannya.
"Kamu yang sabar, Shen. Aku bakalan bantu sebisaku biar hubungan kalian bisa diluruskan kembali. Tapi nih ya, kamu ngapain juga nemuin si berengsek itu, Shen … Shen. Nambahin masalah aja tau nggak? Gimana kalo Elvino tahu? Kamu nggak mikir apa gimana sih, Shen? Kenapa juga mendadak jadi bodoh dan berbuat nekat? Astagaaaa, aku pusing mikirin masalah rumit kalian," cerocos Melva penuh dengan emosi.
"Aku nggak kepikiran ke situ, Mel. Gimana dong? Tolongin aku, Mel. Sumpah aku bingung dan setres gara-gara ini. Masalahnya Elvino sampai nggak mau dengerin penjelasan aku?" terang Shena sambil sesenggukan.
"Nanti deh aku pikirkan, Shen. Sekarang mending kamu pulang dulu, kasih Elvino ruang biar lebih tenang juga. Kalian sebenarnya tuh butuh komunikasi biar hal ini cepet kelar. Tapi malah satunya egois dan cemburu buta. Hadeh," tukas Melva.
"Oke makasih ya, Mel. Sumpah aku bingung sekarang. Aku mau tidur aja habis ini. Nanti malem kita shopping ya, Mel. Biar setresku hilang?"
"Dengan senang hati, Tuan Putri. Masalah shopping itu adalah kegemaranku. Jadi, dengan senang hati. Yang penting jangan lupa traktir, ya?"
__ADS_1
"Huuu … dasar!" cibir Shena