Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Kecurigaan Emma


__ADS_3

“Diam, bedebah! Aku bayar, bukan hutang,” tukas Celia mengambil tangan sang bar tender agar menerima gelas yang dia pakai sedari tadi.


“Baiklah, Nona.”


Tak jauh dari tempat Celia duduk, seorang lelaki dengan wajah lumayan tampan memasuki area club. Dia menyapu setiap sudut memindai mangsa yang ingin dia lahap malam ini. Matanya tertuju pada sosok Celia. Senyumnya terbit dari sudut bibirnya kemudian berjalan menghampiri Celia.


Dia terkejut karena mendapati wanita yang dia incar adalah mantan kekasihnya yaitu Celia. 


“Hai ... Celia, kan? Lama tak jumpa, makin seksi aja nih!” sapa Roger, lantas menjatuhkan bokongnya tepat di kursi sebelah Celia.


Celia yang merasa namanya terpanggil, menoleh ke arah pria di sampingnya. Matanya memicing memastikan penglihatannya. 


“Jangan bilang kamu lupa. Aku Roger, Beb.” Roger memaparkan seolah tahu apa yang tengah Celia pikiran.


“Benarkah? Kamu juga terlihat lebih tampan,” ucap Celia. 


“I miss you so, Babe,” kata Roger kemudian membelai paha mulus Celia dengan sensual. “Do you want to sleep with me tonight?” tanya Roger tanpa basa-basi, kemudian mengerlingkan mata.


“Why not? It’s my pleasure,” jawab Celia dengan senyum semringah. 

__ADS_1


Tanpa tahu siapa yang memulai, keduanya mulai mendekatkan wajah mereka lantas saling bergelut lidah di depan seorang bar tender tadi. Sudah menjadi hal wajar di tempat tersebut sebagai latar untuk setiap orang yang ingin melepas hasrat birahinya.


“Ini, Nona pesanan Anda,” kata pria tersebut.


Kedua insan yang tengah menikmati sensasi berdesir itu akhirnya melepaskan tautan bibir mereka. Celia mendengus kesal.


“Ck ... ganggu aja!” ketus Celia menatap tajam bar tender itu.


“Sepertinya kita butuh ruangan lain, Beb.” Roger memberi kode lewat alisnya, kemudian mengambil kartu kredit dari dalam dompet untuk membayar tagihan Celia.


Roger yang sudah menahan hasrat lantas menggendong Celia keluar dari club itu ke mobil. Dia segera memacu mobilnya ke hotel terdekat demi menuntaskan hasratnya.


Keesokan harinya di rumah Elvino, orang tuanya datang berkunjung menemui dia.


“El ... Elvino! Bi Onah, Bi ...!” panggil Emma. Hanya sahutan dari Bi Onah dari dapur yang menjawabnya.


“Iya, Nyonya. Saya di dapur,” ucap Bi Onah, asisten rumah tangga Elvino yang sudah paruh baya itu sambil berjalan menghampiri Emma.


“Elvino sudah berangkat, Bi?” tanya Emma.

__ADS_1


“Belum, Nyah. Den El masih di kamarnya,” kata Bi Onah.


“Baiklah, saya akan naik. Bi Onah silakan lanjutin pekerjaannya,” perintah Emma lalu tersenyum kemudian pergi ke kamar Elvino.


Tepat di depan kamar Elvino, ia mengetuk pintu kayu coklat minimalis itu, tapi tak ada jawaban. 


Akhirnya, Emma menerobos masuk ke dalam kamar dan melihat sang putra masih terlelap tidurnya di sofa.


Emma menggelengkan kepala lantas berjalan menghampiri Elvino.


“Nak, bangun. Sudah siang, kamu nggak ke bengkel?” tanya Emma seraya mengusap puncak rambut Elvino dengan sayang.


Elvino menggeliat dan mengerjap-ngerjapkan mata dan terkejut melihat sang mamah tengah duduk di sampingnya.


“Eh, Mama. Sudah dari tadi di sini atau baru datang?” Elvino bertanya seraya menguap.


“Baru datang terus liat rumah sepi. Jadi, Mamah masuk, eh ternyata kamu belum bangun. Mana tidur di sofa lagi?” 


“Anu ... Elvino ketiduran, Ma, karena begadang ngecek laporan bulanan,” ujar Elvino berbohong. Tangannya menggaruk-garuk tengkuk.

__ADS_1


“Celia mana? Kok nggak ada?” cecar sang Mama sambil memicingkan mata menaruh sedikit curiga.


Bersambung....


__ADS_2