
Melva memperhatikan Shena yang tengah menyapa seseorang, dia pun ikut menoleh ke belakang. “Shen, kamu ngapain ajak El dateng juga, sama dia lagi!”
“Memangnya kenapa, Mel? Nggak apa lah. Sayang juga, kan, tiket kamu nganggur, mending kita pakai bareng-bareng. Mubazir nanti.” Shena meringis, memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
“Ya, tapi kenapa mesti dia, sih. Udah tau tuh orang jengkeli banget!”
“Itu karena kamu belum mengenalnya, Mel. Coba kenalan, di baik kok. Asyik lagi!”
“Serah deh!” Melva menekuk wajahnya dan mengerucutkan bibir.
Tak lama, dua lelaki dengan tubuh tinggi kekar datang menghampiri. Shena pun berdiri dan tersenyum melihat sang suami. Wanita itu lantas mencium punggung tangan Elvino. Hal yang kini menjadi kebiasaannya semenjak menikah dengan Elvino. Kata orang tua, dalam pernikahan segala hal bentuk sentuhan fisik entah memeluk, mencium punggung tangan dan hal intim lainnya adalah ibadah. Maka dari itu, Shena berusaha menerapkannya dengan sang suami. Dia ingin rumah tangganya seperti mama papanya yang selalu harmonis.
Mendapat perlakuan manis dari Shena, Elvino membalasnya dengan mengecup sekilas dahi Shena. Hal itu membuat kedua jomblo yang di antara mereka yaitu Melva dan Samuel membuang muka ke sembarang arah. Dalam hati mereka sebenarnya iri dengan keromantisan Shena dan Elvino. Mereka ingin mendapatkan perlakukan dan perhatian seperti sepasang pengantin baru tersebut. Namun, sayangnya mustahil karena sampai saat ini mereka belum juga menemukan belahan jiwa yang cocok untuk menjadi pasangannya.
“Hai, Mel!” sapa Elvino.
“Hem,” jawabnya malas.
Samuel yang masih menatap sekitar merasa tidak nyaman, suasana menjadi canggung. Terlebih Melva memperlihatkan wajah tak sukanya ketika dia datang. Kalau boleh memilih, Samuel lebih baik kerja lembur daripada harus berhadapan dengan Melva.
Begitu pun dengan Melva. Rasa kesal dalam hati Melva pada Samuel ternyata masih membekas saat kejadian di bengkel waktu lalu. Begitu juga dengan Samuel yang malas meladeni wanita tersebut, dia hanya berniat menemani Elvino karena diajak.
“Kalian mau pesan apa?” Shena lantas menunjukkan buku menu yang ada di meja. Melva dan Shena pun juga belum sempat memesan makanan.
Setelah semua memesan makanan, Elvino pun memanggil salah satu karyawan untuk menyampaikan pesanannya. Keempat orang tersebut hanya saling pandang tanpa kata. Namun, Elvino berusaha memecah kecanggungan tersebut. Dia mulai mengajak bicara Shena dan menanyakan tentang kegiatannya seharian ini. Sesekali Elvino melempar candaan manis untuk Shena.Hal itu membuat sang istri tersipu malu.
Melva yang mulai jengah mulai menimpali dengan nada sebal. Shena paham dengan sahabatnya itu dan mulai mengganti topik tentang film yang akan mereka tonton. Akhirnya obrolan mereka lama-lama menjadi asyik dan seru.
Beberapa saat kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang. Karyawan tersebut menurunkan satu per satu makanan ke meja.
"Dua beef steak, satu spaghetti, satu burger. Silakan!”
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Shena.
Mereka berempat terlihat sangat menikmati makan malamnya dengan santai. Namun, saat Melva mengiris steak-nya, tiba-tiba saja irisan daging tersebut terpental dan mengenai dahi Samuel. Sontak lelaki itu menjadi kesal. Ia menarik napas panjang sebelum mengeluarkan kata-kata pedas untuk wanita yang berada di seberangnya saat ini.
"Ck. Dasar gadis ceroboh!" Samuel berdecak. Moodnya semakin buruk saat ini.
"Apa kamu bilang?" pekik Melva. Wajahnya seperti kepiting rebus menahan malu.
"Nothing." Singkat, padat dan jelas. Samuel enggan menanggapi lagi. Dia sibuk memotong steak-nya sendiri.
Hal itu membuat Melva sebal. Namun, baru saja hendak mengeluarkan sumpah serapahnya, tanpa diduga Samuel malah memberikan piring yang berisi daging steak terpotong rapi itu kepada Melva.
"Nih! Nggak usah protes, nggak usah ke-geer-an. Aku cuma nggak mau kena lempar daging lagi gara-gara kamu nggak bisa motongnya," sarkas Samuel.
Melva melipat bibirnya tak bisa berkata-kata. Ucapan Samuel sukses membuatnya kalah telak. Akan tetapi dia gengsi. Kalah dari lelaki tidak ada dalam kamus hidup Melva.
"Aku tidak-,"
Belum sempat menyelesaikan kalimat protes, Elvino menegurnya. "Sudah, selesaikan makan kalian dengan menikmati dan cepat," ucap Elvino.
Terbesit rasa bersalah kepada Samuel. Akhirnya, Melva pun segera meraih tisu dan memberikan ke Samuel.
Naas, baru saja dia terkena sial, kini tak sengaja dia malah menumpahkan minuman Samuel karena tersenggol.
“ASTAGA!” teriak Samuel seketika naik pitam.
“Ya ampun, sorry, sorry!” Dengan gerakan cepat, Melva pun segera mengelap paha Samuel dengan napkin yang tadi dipakainya.
Gesekan tangan Melva mulai membuat risih lelaki itu. Sementara, Shena dan Elvino hanya menatap tingkah mereka dengan menahan tawa.
“Minggir, aku bisa sendiri.” Samuel pun mengambil tisu di meja dan mengelap celananya yang basah.
__ADS_1
“Mel, lain kali hati-hati dong. Gimana nanti mau nonton kalau celana Sam basah gitu,” ujar Shena.
“Ya udah, nggak usah nonton aja.” Melva menjawab sekenanya.
“Mel, jahat banget sih!”
“Lagipula, kalau Bos El nggak ngajak ke sini juga lebih baik tidur. Males banget ketemu cewek kaya kamu!”
“Mel, aku nggak mau tahu ya, sekarang kamu harus pergi antar Samuel ke H&N beli celana, habis itu kita nonton!”
“Yaah, Shen! Kenapa sih nggak dia sendiri aja, udah gede kali, pake dianterin.” Melva melirik sinis ke arah Samuel.
“Ya kan, kamu yang salah. Tanggung jawab dong, Mel. Jangan lepas tangan gitu aja, kasihan tau!”
“Ya, ya, baiklah!”
“Sepertinya nggak perlu. Karena sepertinya aku harus balik ke bengkel aja.”
“Ngapain, Sam! Udah sana beli celana, filmnya keburu mulai, cepetan!”
Mau tidak mau keduanya pasrah menuruti perintah Shena. Mereka mengembuskan napas kasar. Setelah itu, Melva dan Samuel beranjak dari kursi dan berjalan menuju store yang tak jauh dari cafetaria tersebut. Langkah demi langkah yang mereka lalui seolah terasa sangat jauh dan tak kunjung sampai. Berjalan berduaan dengan orang yang tak disukai membuat Samuel jengkel. Baginya, Melva adalah sumber masalah sejak awal pertemuannya yang tidak disengaja.
Melva pun memilih untuk mengekori lelaki itu, berjalan dengan perlahan di belakangnya. Sesaat kemudian, mereka sampai di store, Samuel pun memilih celana panjang yang sesuai dengan ukurannya.
“Cepetan, lima menit lagi udah mulai filmnya!” Melva berucap tanpa dosa. Seolah dia tak menyadari jika semua ini adalah kesalahannya. Andai dia tak menumpahkan minuman, tentu saja dia tak akan membeli celana.
“Bisa diem nggak! Duluan aja sana!”
“Ogah, yang ada ntar diomelin sama si Shena.”
Di meja kasir, Samuel hendak membayar celananya. Namun, dicegah oleh Melva. Wanita itu bersikeras ingin membayarnya.”
__ADS_1
“Aku aja yang bayar, aku harus tanggung jawab!”
BERSAMBUNG...