
Sepanjang jalan menuju butik pribadi Shena, tanpa dia sadari sudah dibuntuti oleh seseorang dari belakang mobilnya. Mobil itu terus mengikuti mobil Shena sampai berhenti di sebuah tempat.
"Bos, target masuk ke dalam sebuah butik," ucap salah satu seseorang yang menjadi suruhan dari seberang telepon.
"Bagus, terus awasi jangan sampai kehilangan jejak tentang informasi dia!" perintah seseorang yang berada di seberang telepon.
"Baik, bos!" sahutnya sambil mematikan sambungan telepon.
Di sisi lain, Shena tengah duduk di kursi kesayangannya sembari menikmati jus favorite yang dibuatkan oleh Melva, hanya beberapa sedot, dia sudah menghabiskan minuman tersebut hingga tandas.
"Ya ampun, Shen. Kamu habis nguli?" tanya Melva begitu heran melihat sahabatnya itu meminum jus hanya beberapa teguk.
"Jus buatan kamu memang the best, Mel ... kenapa kamu gak buka usaha kuliner ajar?" saran Shena.
__ADS_1
"Belum ada niatan. Lagian, kalau aku buka usaha sendiri, nanti yang ada kamu tambah ngenes. Udah belum dapet pasangan, eh ... jauh dari aku," canda Melva.
"Mulai deh … dah, mana hasil laporan bulan ini? Udah kamu rekap belum?" tanya Shena.
Melva pun mengambil beberapa kertas hasil penjualan dan pemasukan barang selama sebulan, dan hasilnya sangat memuaskan Shena. Melva memang selalu bisa diandalkan baik itu sebagai asistennya mau pun sahabat yang selalu ada untuk Shena.
Jam terus bergulir diiringi dengan kesibukan padat Shena, tapi hari ini tidak seperti biasanya. Sebanyak apa pun yang Shena lakukan, tetap saja tidak bisa fokus pada pekerjaanya. Pikirannya tiba-tiba tertuju pada sosok laki-laki, yang sudah membuatnya merasakan desiran aneh dengan degup jantung yang berdebar kencang saat mengingat wajahnya.
Bagaimana bisa Shena melupakan pertemuan pertama dengan pria itu, sedangkan ia begitu tampan dan menggoda. Otot lengannya sangat terlihat jelas walaupun tertutup dengan kaos. Tetap saja, mata Shena masih bisa melihat betapa kekarnya dia, ditambah dengan noda hitam pada wajah dan tubuhnya karena bergelud dengan mesin mobil Shena, menambah kesan plus pada pria itu.
"Ah, iya! Ya, Rum. Kenapa?" Shena mengelap air yang ada disudut bibirnya ketika dia tersadar dari lamunannya yang membayangkan kembali pria montir itu.
"Ini data stok barang yang habis." Rumi menyerahkan data yang dipinta oleh Shena.
__ADS_1
"Oh, iya ... makasih ya, Rum," ucap Shena yang masih salah tingkah, dia pun kembali ke lantai dua untuk melihat barang yang sudah di display oleh karyawannya.
Para karyawannya menahan tawa melihat tingkah pemilik butik tempat mereka bekerja begitu aneh, karena tidak seperti Shena pada biasanya yang memiliki kesan tegas, cekatan, gesit dan tidak suka bertele-tele dalam urusan pekerjaan.
"Shena ... Shena," ucap Melva dari kejauhan.
Sementara itu, dari tempat yang tidak begitu jauh. Kedua orang yang masih memantau gerak-gerik Shena dari luar, terlihat oleh Melva dari balik jendela.
Melva pun berjalan perlahan mendekat ke arah jendela, guna memperjelas apa yang dia lihat. Dua orang pria yang terus melihat ke arah butik Shena tanpa meranjak sedikitpun dari posisinya.
"Mel, tolong ambilkan pesanan baju, Bu Siska." Shena turun dari lantai dua dan berniat menemui pelanggan setianya yang berada di etalase dekat jendela yang transparan dari luar.
"Oh, ya." Melva menganggukan perintah Shena untuk mengambil pesanan, tapi dia masih enggan untuk beranjak dari posisinya yang terus melihat kedua pria itu.
__ADS_1
Bersambung....
Hai Dealovers, terima kasih masih mengikuti kisah El dan Shena. Simak terus kelanjutannya dan happy reading... Jangan lupa tinggalkan jejak biar aku semangat..