Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Ketika Cinta Harus Berjuang


__ADS_3

"Tolong biarkan Shena sendiri dulu, Ma," pinta Shena dengan wajah memelas.


Sandra mengangguk sambil mengusap bahu Shena dengan sayang, lantas keluar dari kamar anaknya.


"Shena, turunlah! Aku ingin bertemu dan berbicara sesuatu! Aku tahu kamu bisa dengar aku! Aku mohon Shen, aku minta maaf sama kamu! Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya!” Elvino kembali berteriak memanggil Shena. Namun, Shena bergeming. Tubuhnya bersandar pada ranjang lalu terisak lagi. Sesekali dia mengintip dari balik jendela dan meremas kain gorden tersebut.


Dua jam telah berlalu, Elvino belum tergerak sedikit pun dari tempatnya. Sandra merasa kasihan dan berkali-kali menyarankan untuk pulang. Namun, Elvino menolaknya dengan halus. Dia tetap bersikeras untuk bertemu dengan Shena. Di balik jendela, Bagaskara diam-diam mengamati Elvino dan ia merasa sedikit tersentil melihat perjuangan Elvino. Namun, egonya menolak semua hal tersebut. Terlebih, besok Shena akan menjadi istri dari Lucky.


Tidak lama kemudian, tetesan hujan pun turun, Elvino menadahkan wajahnya ke arah langit, tangannya dia buka untuk menangkap buliran air hujan yang turun semakin deras. Dia tersenyum ketika hujan deras langsung mengguyur tubuhnya yang masih menanti Shena keluar. Dia sangat ingin bertemu dengannya, walau diiringi hujan deras serta angin yang begitu dingin menusuk pori-pori. Meskipun Joko sudah menyuruhnya pulang, tetapi keras kepala Elvino masih tinggi, dia tetap menunggu Shena keluar dan berharap mau bertemu dengannya.


"Shena. Aku akan tetap di sini hingga kamu turun menemuiku dan aku juga tidak akan menyerah untuk menunggu, walaupun hujan deras sekali pun!” Setelah mengatakannya, Elvino merebahkan tubuhnya di atas mobil, menikmati setiap tetes air hujan yang terus membasahinya.


Elvino masih bersikukuh tetap menunggu Shena. Shena berulang kali mencuri pandang ke arah balkon memastikan Elvino pergi atau bertahan. Kendati demikian, Shena tetap pada pendiriannya. Ia enggan menemui Elvino meski dia memang sangat ingin. 


Kilat dan petir mulai terdengar, jantung Shena bergemuruh merasakan perih yang amat dalam karena melihat Elvino masih terus menunggunya. Wanita itu tidak tega dan berniat menyuruh Elvino pergi. Jika tidak begitu, sama saja dia menyiksa lelaki itu karena terus menunggunya melawan hujan petir dan angin.


"Elvino!" teriak Shena saat dirinya keluar dari balkon.

__ADS_1


Elvino segera beranjak dan tersenyum semringah melihat ke arah balkon. Ia bahagia akhirnya Shena mau menunjukkan wajahnya meski tak begitu jelas karena terhalang pagar yang cukup tinggi.


"Aku mau ngomong sesuatu, Shen. Kumohon turunlah," pinta Elvino.


"Tidak. Kamu pergilah, El. Tidak ada yang perlu di bicarakan. Besok aku akan menikah,” suara Shena melengking, air mata yang menetes pun bersaing dengan suara derasnya hujan.


"Aku akan tetap di sini, Shen. Aku akan menunggumu di sini."


"Kamu pergilah, El." Shena menangis tersedu-sedu menahan sesak yang sedari kemarin enggan pergi dari dadanya. "Aku tidak ingin kamu sakit, pulanglah. Jangan bodoh Elvino!" sambung Shena. Namun, Elvino hanya menggeleng tanda tak mau. Shena akhirnya menyerah. Dia memilih diam. Keduanya saling menatap dalam kebisuan. Saling berbicara lewat tatapan mata. Tersirat kerinduan dan kesakitan bercampur menjadi satu. Dua insan tersebut saling tersiksa akibat cinta terlarang yang mereka tanam dalam hati.


Sandra mengetuk pintu kamar Shena. Merasa tak ada respons jawaban, Sandra langsung membukanya tanpa permisi. Ia khawatir dengan Shena. Dia kaget karena Shena sedang terduduk di balkon dengan keadaan basah kuyup. Sandra  segera berlari menghampiri Shena dan mengajaknya untuk masuk dan berganti baju.


Esoknya, di sebuah gedung mewah terlihat para tamu undangan sudah berkumpul memadati ruangan besar itu. Bunga-bunga cantik dan hiasan semakin memeriahkan kemegahan acara hari ini. Tak kalah mewah, di ujung ruangan terdapat dekorasi panggung penuh dengan bunga yang di rangkai sedemikian rupa membentuk tanda love. 


Keriuhan dan alunan nada klasik dari orkestra semakin menambah kesan epic di sana. Berbanding terbalik dengan salah satu ruangan yang di dalamnya terdapat Shena yang baru saja selesai di make up. 


Wajahnya tampak muram dan tak bersemangat. Tatapannya sayu seperti bunga yang layu oleh matahari. Sandra memasuki ruangan tersebut mengabarkan jika para tamu undangan sudah hampir delapan puluh persen, sudah datang. Tinggal menunggu sang mempelai pria yang belum juga terlihat batang hidungnya.

__ADS_1


"Kamu yakin, Shen?" tanya Sandra setelah MUA yang mendandani Shena pergi. Shena hanya mengangguk. Namun, tak ada satu kata pun keluar dari bibir tipisnya.


"Ini belum terlambat, Shen. Masih ada kesempatan jika kamu ingin berhenti atau pergi dari sini. Mama yang akan bicara dengan Papa nanti," ucap Sandra seraya menatap sendu anak perempuannya. Lagi-lagi Shena hanya merespons dengan gelengan yang membuat hati Sandra semakin teriris melihat sang putri. Keceriaan Shena seolah lenyap seketika. Dia merasa sangat kehilangan dan sedih.


Menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak dicintainya membuat Shena seakan menahan rasa sesak yang begitu mendalam di dada. Akan tetapi, pernikahan ini harus tetap dilanjutkan. Meski bujukan sang mama menyuruhnya untuk pergi, dia enggan melakukan hal itu. Keputusannya sudah bulat.


Selang beberapa saat, Melva pun memasuki ruang rias Shena. Sandra lantas keluar dan menitipkan Shena pada Melva. Sahabatnya itu juga ikut merasakan kesedihan yang Shena rasa. Meski awalnya Melva sama sekali tak mendukung pernikahan sahabatnya dengan pria tua tersebut, tetapi Melva berubah pikiran sejak Shena membulatkan niatnya. Padahal, Melva sudah sering bilang untuk tidak menyiksa hati dan mengorbankan dirinya untuk lelaki yang bahkan sama sekali bukan kriterianya.


“Shen, jangan sedih terus dong! Masa pengantin murung begitu. Apa yang kamu pikirkan?” Melva duduk di kursi samping Shena dan menatap pantulan wajahnya di cermin.


“Mel, aku sudah pasrah. Mau seperti apa pun nanti, aku harus mencoba ikhlas menjalani rumah tangga dengan Lucky.” 


Meski kebaya putih nan suci melekat di tubuh molek Shena, tetapi keindahan itu sama sekali tidak membuat dirinya bahagia. Bahkan, kini air matanya mulai menggenang di pelupuk. Entah apa yang harus dia lakukan nanti untuk menerima Lucky dengan sepenuh hati sebagai suami, baginya ini begitu sulit. Wanita itu seolah tak menyayangkan dirinya sendiri untuk diserahkan pada lelaki tersebut. 


“Shen, jika kamu melakukan ini semua hanya untuk membalaskan rasa sakit hati kamu sama El, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan nggak ada gunanya. Kau tahu, waktu itu aku orang pertama yang menentang berat pernikahan kamu sama Lucky. Tapi, percuma juga aku melarangmu, aku bisa apa jika kamu sudah punya keputusan sendiri. Tadi, aku sempat dengar tante menyuruhmu pergi, apa aku bisa membantumu untuk kabur, Shen?” tanya Melva berbisik, mendekatkan bibirnya ke telinga Shena. 


Bersambung ....

__ADS_1


Hai pembaca tersayang, jangan lupa huat ninggalin jejak komentar yaa. Biar author bisa makin semangat nulisnya hihi. Makasih ya, love you ❤️


__ADS_2