Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Pertemuan Tak Sengaja


__ADS_3

“Oh, begitu.” Shena mengangguk tanpa berpikir apa pun. 


Beberapa menit telah berlalu, kedua wanita itu tampak semakin akrab dan asyik mengobrol. Hingga Shena juga mengenalkan butiknya terhadap wanita itu. Bahkan, obrolan mereka berlanjut hingga ke resto terdekat. Wanita itu malah tertarik untuk mencoba memesan dress di butik Shena. 


Di sisi lain, Elvino tengah berada di ruangannya, sejak tadi dia menunggu mamanya yang katanya akan datang ke bengkel, tetapi ditunggu-tunggu sejak tadi, wanita itu tak menampakkan batang hidungnya. Lelaki itu memutuskan untuk keluar ruangan dan bertanya pada Samuel.


“Sam, Mama belum datang, ya?” tanya Elvino pada Samuel.


“Udah dari tadi, Bos. Tapi nggak tau sekarang ke mana.”


Elvino pun mencoba menelepon Emma, tetapi tak diangkat. Kedatangan Emma ke bengkel hanya untuk bertemu rindu dengan sang anak karena akhir-akhir ini Elvino memang sangat jarang pulang ke rumah dia memilih untuk tidur di apartemennya meskipun hanya seorang diri tanpa adanya Shena.


“Ya, sudah. Nanti kalau Mama datang, suruh tunggu dulu ya, aku mau ke butiknya Shena, sudah jam makan siang.”


“Loh, Bos! Nona Shena ‘kan, tadi ke sini juga.”


“Hah? Kapan? Kenapa dia nggak bilang kalau mau datang,” ucap Elvino yang langsung disahut Samuel dengan mengedikkan bahunya.


Elvino lalu kembali memasuki ruangannya dan berusaha menelepon Shena dan Emma secara bergantian. Khawatir kedua wanita itu akan bertemu sebelum dirinya memperkenalkannya. 


Satu jam berlalu, Shena yang tadinya hendak menemui Elvino di bengkel pun akhirnya gagal karena terlalu asyik mengobrol dengan Emma. Namun, keduanya tak aling mengerti tentang hubungan keduanya dengan Elvino. Shena memutuskan untuk berpamitan pada Emma karena dia harus kembali lagi ke butik.


Sementara Emma, dia kembali lagi ke bengkel untuk menemui Elvino. 


“Elvino!” teriak Emma begitu dia sampai di depan ruang kerja Elvino. Wanita itu langsung membuka pintu ruangan itu.


“Ma, dari mana aja, sih? El nungguin dari tadi, di telepon juga nggak diangkat. Waktu El kebuang gara-gara nungguin Mama, padahal El harus pergi ada perlu.”


“ya ampun ni anak! Baru juga nunggu berapa menit udah mengeluh.”


“Menit dari mana, Ma. Sudah satu jam lebih Mama pergi. Kenapa tadi nggak langsung menemui El, malah pergi lagi.”


“Eh, El! Mama tadi ketemu cewek cantik banget, dia sopan, terus wanita karis juga, kayaknya sukses. Mama bener-bener terkesima sama dia.”


“Ah, sudah lupakan saja, Ma. Jangan bahas orang lain. Sekarang, mama tadi kan, bilang katanya dada hal yang penting yang mau dibicarakan, apa?”

__ADS_1


“Kamu nggak asyik, El!” sungut Emma seraya mendudukkan tubuhnya di sofa.


“Jadi, Mama mau bahas apa?”


“Gini, sekarang kan, kamu sudah sah bercerai, dan kamu juga  janji akan bawa Mama  ke apartemen baru kamu, kapa kamu mau kasih lihat Mama?” tanya Emma yang begitu penasaran.


Sejak Elvino membeli apartemen tersebut, lelaki itu sama sekali tidak mengizinkan mamanya untuk berkunjung. Salah satu alasannya karena di sana banyak barang Shena, tentu saja Emma akan terkejut jika anaknya yang saat itu sedang proses perceraian malah tinggal dengan seorang wanita di apartemennya, apalagi dia sama sekali tidak mengenal wanita itu.


“Nanti, Ma. Bersabarlah, aku pasti akan membawa Mama ke apartemen, juga ada satu kejutan yang akan Mama ta.”


“Kejutan apa sih, El? Jangan aneh-aneh deh. Jangan suka bikin Mama penasaran."


"Ma, yang namanya surprise, kalau dikasih tau sekarang ya nggak akan jadi kejutan dong. Elvino duduk di sebelah Emma. 


"Kamu nggak asyik ah, Mama mau pergi aja. Kamu jangan telat makan." Emma beranjak dari duduknya lalu bersiap pergi.


"Ish ngambek. Iya siap, Ma. Hati-hati di jalan." 


Emma hanya melambaikan tangan lalu pergi. Mobil yang Emma tumpangi melaju dengan kecepatan sedang ke arah butik. Dia memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam. Dia di sambut oleh Melva yang hendak keluar.


Emma membalas dengan anggukkan. Pandangannya menelisik setiap sudut butik mencari sesuatu. 


Tak lama, Shena turun untuk berdiskusi hasil rancangan terbarunya kepada Melva. Matanya berbinar melihat calon customer–Emma sedang berada di butiknya. Senyum mengembang di bibir Shena.


"Halo, Tante. Saya pikir Tante nggak serius mau datang ke sini lo. Saya terkejut," ujar Shena dengan jujur.


"Eh, Shena. Nggak dong, Tante orangnya selalu menepati janji. Kamu sibuk tidak? Bantu Tante pilih baju dong. Selera kamu pasti bagus," ucap Emma.


Mereka berdua berpelukan dan cipika cipiki layaknya teman sebaya. Sementara Melva pamit pergi keluar karena ada kepentingan mendadak.


"Saya tidak sibuk kok, Tan. Hanya saya awalnya mau berdiskusi dengan para karyawan tentang rancangan terbaru butik saya bulan ini," papar Shena.


"Wah, boleh Tante lihat?"


"Dengan senang hati, Tan. Ini coba Tante nilai. Tolong kasih kritik dan saran juga, Tan. He he." Shena memperlihatkan deretan gigi putihnya. Dia lalu menyodorkan beberapa kertas hasil gambaran rancangan kepada Emma. Wanita paruh baya itu mengangguk mengerti dan menerima kertas dari Shena.

__ADS_1


Sontak mulutnya menganga karena takjub dengan keindahan gaun dan baju casual yang Shena gambar.


"Waw. Ini sangat indah, Shen. Aku yakin ini akan menjadi sangat bagus ketika sudah direalisasikan dalam bentuk baju. Tidak ada celah. Ini sempurna." Emma menatap kagum satu persatu lembaran yang dia buka.


"Tante terlalu berlebihan. Tapi, terima kasih lo."


"Tante tidak berlebihan karena Tante mengatakan dengan jujur." Lagi-lagi Emma tersenyum dan semakin tertarik dengan Shena. 


Tiba-tiba, pintu butik terbuka menampilkan sosok laki-laki yang sangat mereka kenal.


"She–" ucapannya terhenti saat melihat kedua wanita yang tengah berbincang akrab itu.


"Elvino?" ucap Emma dan Shena bersamaan. Shena menatap Emma dengan tatapan bingung. 


"Dia anakku, Shen."


Shena membekap mulutnya dengan kedua tangan. Pikirannya berkecamuk karena mendapati kenyataan bahwa calon customer yang di hadapan dia sekarang adalah calon mertua. Shena memberi kode kepada Elvino agar tidak berbicara yang tidak perlu.


"Kalian saling kenal?" tanya Emma sambil menatap Shena dan Elvino secara bergantian. Shena dan Elvino bergeming beberapa saat karena bingung apa yang harus mereka jawab. Namun, karena sudah kepalang tanggung akhirnya Elvino bersuara.


"Dia pelanggan Elvino, Ma. Ya, dia pelanggan," jawab Elvino sedikit tergagap. Hal itu menimbulkan kecurigaan dalam pikiran Emma. Dia menatap Elvino dengan sorot tajam. 


"Oh, pelanggan." Emma mengangguk-angguk mengerti meski. Meskipun dalam hati merasa ada keanehan.  “Lalu, kenapa kamu kesini?"


"Aku hanya ingin cari pakaian untuk acara pertemuan besar nanti."


"Ah, bawalah Shena juga ke acara kamu itu. Mama tunggu kabar baiknya, ya?" 


"Tapi, Ma–"


"Tidak ada tapi-tapian, daripada kamu sendirian."


"Baiklah." Elvino mengangguk, sementara Shena hanya terdiam di tempat, merasakan jantungnya berpacu kencang akibat kejadian yang begitu kebetulan itu.


Hai readers tersayang apa kabar? Semoga sehat selalu dan rezekinya mengalir deras layaknya air yaaa. Tetep jaga kesehatan ditengah gempuran barang-barang yang semakin naik harganya. Love you gaes ❤️

__ADS_1


__ADS_2