
Melihat tingkah Shena, Elvino tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepala, menatap punggung Shena yang semakin menghilang dari pandangannya. Wanita itu kini dengan cepat menutup pintu kamar mandi. “Sampai kapan kamu akan berhenti membuatku gemas saat melihat tingkahmu, Shen. Semakin hari, aku semakin dibuat jatuh cinta sama kelakuan kamu yang lucu itu.”
Selang beberapa saat. Shena keluar dari kamar mandi dan menyusul Elvino yang sudah berada di meja makan. Keduanya pun menikmati sarapan. Shena yang baru pertama kali merasakan masakan Elvino pun terkejut, padahal hanya nasi goreng dan salad sayur, tetapi dia merasa takjub akan kemampuan lelaki itu.
“Masakan kamu enak banget, aku baru tahu ternyata kamu bisa masak.”
“Jika dua orang hidup bersama, bukankah memang harus saling melengkapi? Kamu tidak perlu memasak, aku bisa melakukannya. Aku tidak mau kamu terluka karena minyak goreng atau pisau.”
“Jangan meremehkanku, aku bisa masak kok. Tapi nanti, setelah aku belajar memasak atau mengikuti kursus.”
“Baiklah, jika kamu menyukainya. Aku hanya bisa mendukung.”
Shena pun makan dengan lahap hingga tak bersisa. Elvino yang melihatnya pun tersenyum dan ikut senang karena Shena mulai menerima dirinya.
“O iya, habis ini, aku mau pulang, El.” Shena berucap tanpa basa basi, membuat lelaki itu terkejut.
“Pulang? Maksud kmau?”
“Ya pulang, aku mau pulang. Nanti Papa sama mama nyariin gimana. Kan, Mama cuma booked hotel dua hari. Ini sudah dua hari aku nggak pulang, dia terus ngechat aku, nanyain kapan pulang.”
“Shen, kita kan, sudah menjadi pasangan suami istri, harusnya kita tinggal satu atap. Bagaimana bisa suami istri hidup pisah rumah.” Elvino tampak tidak terima dengan kalimat Shena.
“El, mana mungkin kamu bisa mengajakku tinggal bareng untuk saat ini, sedangkan status kamu saja masih suami orang. Aku juga nggak mau nanti dikatain pelakor atau simpenan kamu," ucap Shena dengan sedikit kesal.
“Nggak akan ada yang berani menyebutmu seperti itu, jika pun ada, orang itu tidak akan selamat."
__ADS_1
Elvino geram, dia lantas berdiri dari kursinya dan beranjak ke kamar. Shena yang melihat Elvino marah pun tampak heran. Harusnya dia yang marah karena mengingat posisinya sebagai istri kedua.
“Lah, kok dia yang marah, harusnya kan aku. Aneh. Shena meneguk jus dengan kasar hingga tandas.
Di kamar, Elvino menelepon mamanya untuk memastikan bagaimana kelanjutan perceraiannya, kapan sidang akan dilakukan. Setelah mendapat jawaban, dia lantas menghampiri Shena.
“Jika kamu ingin ulang, aku akan ikut. Aku akan bicara sama papa dan mama untuk mengajakmu tinggal di sini.”
“ya, ya. Terserah kamu saja. Tapi, ingat ya, walaupun mereka memperbolehkan aku tinggal di sini, bukaan berarti kamu melanggar perjanjian kita.”
“Aku lelaki, aku tidak akan mengingkari janjiku.’’
“Shen, mau sampai kapan kamu marah-marah terus, sampai kapan kamu akan membenciku, hem?” tanya Elvino, dia berjongkok di dekat meja makan, tepatnya dii sebelah kursi yang Shena duduki.
Shena terdiam, ingatannya memutar beberapa hari lalu sebelum pernikahan, Elvino giat dan keras kepala mendatangi Shena untuk meminta maaf. Namun, wanita itu memang sulit untuk memaafkan. Saat pernikahan hampir dimulai pun, Shena memaafkannya tetapi dia memang tidak bisa melupakan luka yang pernah Elvino torehkan.
Entah apa yang membuat paginya kini menjadi dramatis, siapa yang memulainya. Yang jelas hati itu membuat keduanya larut dan saling mengungkapkan luapan rasa yang terpendam selama ini. Elvino menggenggam tangan Shena.
“Shena, maafkan aku. Aku memang salah, aku terlalu bodoh karena memperlakukanmu seperti itu. Aku memang pengecut sudah menyakitimu. Tapi, semua itu aku lakukan karena terpaksa, tidak ada niatan sedikit pun untuk membuatmu terluka.
Tadinya, aku hanya ingin menjadi suami yang baik untuk istriku, tapi ternyata aku salah. Aku memberatkan wanita yang bahkan tak punya harga diri. Sekarang, takdir membawa kita bersama, aku yakin semua ini memang kehendak-Nya. Jadi aku mohon, sekarang maafkan aku, dan jangan ada sedikit pun rasa benci terhadapku. Jika perlu, aku siap menerima hukuman darimu.”
“El, aku tidak bisa mengatakan apa pun. Hanya waktu dan perbuatan kamulah yang mampu mengubahku. Berusahalah yang terbaik sebagai suamiku dan jangan pernah lelah membujukku. Percayalah, rasa sakit itu masih bersisa, El. Aku butuh waktu untuk melupakannya.” Shena meneteskan air matanya tepat di tangan Elvino yang tengah menggenggam tangannya.
El mengusap lembut pipi Shena. Elvino lalu berdiri dan mengajak wanita itu untuk beranjak, dia kemudian membawa Shena dalam pelukannya. “Maafkan aku.”
__ADS_1
Setelah keduanya sepakat, Elvino mengantar Shena pulang dan melaksanakan tujuannya—meminta izin untuk mengajak Shena tinggal bersama. Mereka menaiki mobil sport merah milik Elvino, menuju rumah mertuanya.
Di ruang tamu rumah Bagaskara, tampak Elvino dan Shena duduk berdampingan, berhadapan dengan Bagaskara dan Sandra. Keempat orang tersebut terdiam dan saling bersitegang seperti canggung.
Sementara Elvino, dia sibuk menyusun barisan kalimat di kepalanya untuk menghadapi mertuanya.
“Jadi, kapan kamu akan menceraikan istri kamu, El?” tanya Sandra dengan tiba-tiba.
“Tinggal beberapa hari menunggu sidang, Ma,” jawaban Elvino sempat membuat semua orang yang ada di sana merasa lega karena ternyata lelaki itu tidak mengingari ucapannya.
“Bagus, ingat ya,, setelah kalian bercerai. Jangan lupa janjimu, sahkan Shena di mata negara dan juga akui dia di depan publik.” Bagaskara menyambung.
“Baik, Pa. Saya akan pegang janji itu.”
“Dan, sebelumnya saya minta maaf, saya juga mau meminta izin untuk membawa Shena hidup bersama. Apakah boleh? Saya sangat berharap Papa dan Mama mempercayakan Shena terhadap saya.”
“Apa! Nggak, nggak, nggak. Aku tidak setuju.” Bagaskara mulai meninggikan suaranya.
“Saya paham, tentu tidak mudah sebagai orang tua menyerahkan putrinya terhadap lelaki seperti saya. Tapi, kali ini saya mohon dengan hormat. Shena sudah menjadi istri saya, Pa, Ma. Bukankah seharusnya setelah menikah, istri menjadi tanggung jawab suami?”
“Kamu pikir kami percaya begitu saja terhadapmu, kamu lupa dengan perlakuan kamu yang sudah menyakiti hati anakku? Kamu pikir kita sebagai orang tua nggak mampu jaga Shena, begitu?” Bagaskara terus berargumen, sedangkan Shena dan Sandra memilih diam untuk menunggu waktu mereka berbicara setelah lelaki itu selesai.
“Maaf, Pa. Bukan begitu maksud El. Tapi, El benar-benar ingin hidup dengan Shena, memperbaiki hubungan kami. Saya mau menebus segala kesalahan yang pernah ada.”
Bagaskara terdiam, dia masih berpikir untuk keputusannya. Sebenarnya, sebagai seorang ayah, lelaki itu tampak keberatan melepaskan anaknya, meskipun Bagaskara juga tahu, ada tatapan cinta dan ketulusan dalam mata Elvino. Akan teta[i, dia masih ragu karena mengingat status Elvino yang belum bercerai dengan istrinya.
__ADS_1
“Shena, apa kamu mau tinggal bersamanya?” tanya Sandra menanyai Shena yang tengah termenung.
Bersambung ...