Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Besanan


__ADS_3

Saat ini, Sandra berada di sebuah salon kecantikan. Dia sedang menikmati pijatan sambil menikmati alunan musik di ruang massage. Usianya yang sudah tidak muda lagi, membuatnya harus rajin perawatan. Ia selalu menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya, termasuk mengonsumsi vitamin, makan makanan yang sehat dan juga olahraga. Maka dari itu sangat wajar jika wajahnya awet muda dan memiliki tubuh yang bagus.


Menjadi istri seorang direktur utama–Bagaskara— membuatnya terkadang khawatir jika suaminya melirik wanita lain. Oleh karena itu, Sandra berusaha untuk merawat diri dari luar dan dalam agar sang suaminya betah dan juga senang memandangnya. Jika ada lelaki yang mengatakan menyukai istri yang alami tanpa make up atau apa pun, sebenarnya itu hanyalah omong kosong. Sebab, pada dasarnya mereka menyukai keindahan. Namun, bukan berarti berlebihan. 


Jadi, Sandra berpikir jika tidak bisa menahan usianya yang semakin bertambah, setidaknya dia bisa tetap cantik di usianya yang sudah hampir di angka lima puluh tahun. Skincare dan bodycare adalah sepasang perawatan yang tidak bisa di pisahkan. 


Sambil berbaring, wajahnya dibaluri dengan masker putih dan juga timun untuk menutupi mata. Hawa sejuk dari AC membuatnya terbuai. Ia tidak bisa menahan rasa kantuk yang mendera. Musik yang dia dengarkan, kini hanya samar-samar dan perlahan menghilang. Namun, hal itu hanya berangsur dalam berapa menit karena sebuah dering notifikasi panggilan terdengar memekakan telinga hingga membuat Sandra sontak terbangun karena terkejut.


Timun yang berada di atas kelopak matanya menjadi terlontar ke bawah akibat gerakan spontanitasnya. Sandra berdecak sebal karena ketenangannya terganggu. Dia menilik ponselnya kemudian membaca nama yang tertera di layar. Senyumnya mengembang mengetahui sang sahabat yang meneleponnya. Sandra menggeser tombol icon hijau lalu menjawab telepon tersebut.


"Halo, Jeng. Gimana, gimana?"


"Lagi ngapain, San?" tanya suara di seberang sana.


"Ah, aku sedang berada di salon langgananku. Memangnya kenapa, jeng?" Dahi Sandra berkerut penasaran.


"Aku mau ketemu, San. Kamu bisa nggak?" tanya Emma.


"Bisa. Mau ketemu di mana?" 


"Terserah kamu aja deh, San. Share lok, ya? Nanti aku ke sana jam satu deh pulang dari arisan." 


"Oke, kita ketemu di kafe deket sini aja,ya?"


"Oke. Habis ini on the way. See you, Jeng."


Setelah menutup telepon, Sandra memanggil seorang karyawan yang melayaninya. Dia meminta selesaikan skin routine-nya dengan cepat. Dia mengambil dompet di tas jinjingnya kemudian pergi ke kafe dekat salon sesuai dengan lokasi ketemuannya dengan Emma.


Emma belum juga menunjukkan batang hidungnya. Ini terlambat setengah jam dari yang di janjikan. Namun, Sandra tetap sabar menunggu sambil menikmati makanan ringan yang dia pesan untuk mengisi perutnya. 

__ADS_1


Tak lama, pintu kafe terbuka memperlihatkan seorang wanita paruh baya dengan rambut sebahu berjalan ke arah Sandra.


"Hai, Jeng. Maaf telat. Macet banget astaga," ucap Emma lalu bercipika cipiki dengan Sandra.


"Nggak papa, Jeng. Aku paham kok. Ayok duduk. Kamu pesan apa?" tanya Sandra sembari tersenyum.


"Ah gampang nanti. Tadi di arisan sudah makan camilan. Ada sesuatu nih yang mau aku tanyain, San. To the point aja ya. Sebentar …" ucap Emma membuat dahi Sandra berkerut bingung. "Kamu tahu ini?"


Emma memperlihatkan foto Elvino kepada Sandra. Seketika mata Sandra melebar mendapati foto menantunya ada pada Emma. Pikirannya berkecamuk. "Aduh, jangan-jangan Emma mertua Elvino dari istri pertamanya lagi. Duh, gimana ini?" batin Sandra.


"Jeng, jawab dengan jujur." Emma menatap tajam sahabatnya itu.


"Aduh, ehm sebelumnya aku mau tanya nih, Jeng. Itu Elvino siapanya kamu?" tanya Sandra dengan wajah pias karena khawatir.


Dahi Emma berkerut bingung dengan jawaban Sandra. Namun, sedetik kemudian Bibir Emma membentuk bulan sabit. Dia tidak menyangka Sandra tidak mengetahui hal ini.


"Dia menantumu, kan?" Emma ingin menggoda Sandra.


"Ha ha ha ha. Dia anakku, San." Emma tidak bisa menahannya lagi. Wanita tersebut tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Sandra.


"Maksudnya?" Sandra seperti orang linglung. Dia masih mencerna maksud perkataan dari Emma.


Emma menetralkan tawanya. Setelah tenang, dia menjawab, " Dia anakku, San. Anak kandungku. Dia menantu kamu dan kita besanan."


Detik berikutnya giliran Sandra yang tertawa terbahak-bahak. 


"Kamu jangan becanda, Emma." Sandra berujar di sela-sela tawanya.


"Aku serius, San. Ini foto keluargaku dan Elvino anakku satu-satunya."

__ADS_1


Seketika Sandra terdiam membisu mendapati kenyataan bahwa Elvino adalah anak dari sahabatnya. Antara senang dan terkejut.


"Benarkah, astaga kita besanan jeng." Sandra berkata dengan mata berbinar dan menggoyang-goyangkan lengan Emma yang berada di atas meja. Emma mengangguk mengiyakan. Dia sama bahagianya dengan Sandra.


"Ya ampun, Jeng. Nggak nyangka loh aku," ucap Sandra.


"Apalagi aku, Jeng. Kalo aja nggak mergokin Elvino dan Shena di apartemen mereka. Mungkin aku bakalan tahu pas kita punya cucu. Jahat kamu, San. Nikahin anak nggak izin, nggak ngabarin. Mana sama anakku pula," ucap Emma dengan wajah cemberutnya.


"Aduh maaf, Jeng. Aku tidak tahu nomor dan alamat baru kamu setelah kamu dulu pindah ke luar kota. Jadi, aku hanya mengundang kerabat dan teman yang masih berkomunikasi denganku. Lagi pula kejadiannya waktu itu mendesak, Jeng. Mereka baru bisa nikah siri karena waktu itu Elvino masih beristri. Maaf, ya. Jangan marah. Ceritanya panjang, Jeng. Lain waktu aku ceritakan deh," ucap Sandra.


"Ya, ya. Aku sudah mendengarnya dari Elvino. Nah, sekarang yang terpenting bagaimana jika kita meresmikan hubungan mereka? Kita berdua sambil quality time jalan bareng, nyari souvernir, gedung dan lainnya? Soalnya ngandelin kedua anak kita yang super duper sibuk itu mana sempat mereka. Eh tapi, aku mau mereka lamaran juga loh sebelumnya, nggak bisa langsung resepsi gitu aja. Mana bisa nikah tanpa lamaran dulu.” Emma berpikir sejenak dan langsung memberikan ide. 


“Lamaran? Kan, mereka udah nikah jeng, masa harus lamaran juga sih.” Sandra sedikit menolak permintaan Emma. “Lagian, nanti malah kalau Elvino nggak mau gimana?”


“San, mana mungkin sih Elvino nggak mau, dia tuh pasti bakalan nurut sama aku. Lagian, kan, demi wanita yang dia cintai juga.”


“Hemm, baiklah. Terserah kamu aja deh gimana nantinya.” 


“Aku mau undang semua temen-temen arisan kita, duh bahagianya!” Emma menatap ke awang-awang seraya mengkhayalkan pesta megah anaknya.


"Wah, ide bagus itu, Jeng!”


"Iya, Jeng. Besok kita mulai perjalanan menikahkan anak kita dengan layak dan mewah ya, Jeng. Duh, nggak sabar punya cucu aku," ujar Emma begitu antusias.


"Oke deh, Jeng. Nanti kamu atur waktunya. Pulang dari sini aku langsung bilang ke Bagas. Dia pasti seneng banget deh, Jeng. Aaaaa …" Sandra hampir berteriak saking bahagianya. Beruntung Emma segera memberinya kode agar diam dengan telunjuk yang di tempel di bibirnya. Jika tidak, mereka sudah menjadi tontonan pengunjung kafe tersebut. Sandra hanya tersenyum kikuk memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Oke deh, sampai ketemu besok, Jeng. Aku mau pergi lagi, nih. Tadi soalnya janji pulang cepet ke John," kata Emma lalu memeluk Sandra lantas pergi.


"Dah, Jeng. Hati-hati." Sandra melambaikan tangan ke arah Emma. Hatinya sangat bahagia. Sepulang nanti, dia akan membicarakan hal ini kepada Bagaskara, begitu juga dengan Emma yang tak sabar memberi kabar bahagia pada John.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2