
Tak lama kemudian, datang seorang lelaki dengan setelan jas navy yang menghampiri Shena. Dia menegur Shena dengan gayanya yang terlihat cool.
“Hai, cantik! Nona Shena, kan? Dress merah, rambut pirang panjang, dan ... seksi! Sesuai dengan yang ada di foto ini,” ucap seorang lelaki dengan menunjukkan ponsel yang terdapat foto Shena di sana.
Shena yang tengah menunduk bermain ponselnya, dia segera beranjak berdiri dan menatap lelaki yang berdiri di depannya sambil mengulurkan tangan.
“Hmm, lumayan ganteng. Keren juga,” puji Shena dalam hati.
“Ah, ya, betul. Aku Shena.” Shena menerima uluran tangan lelaki itu yang hendak berjabat tangan dan menyebutkan namanya.
“Reyzal Abimana, panggil saja ‘Rey’. Boleh duduk?”
“Ah, ya. Silakan.”
“Oh ya, kamu sudah tahu belum siapa aku?” tanya Reyzal memasang wajah setengah sombong sambil merapikan jasnya.
__ADS_1
Shena menggeleng pelan dan mulai mencium gelagat aneh pada lelaki tersebut.
“Aku adalah pemilik Abimana Group yang berdiri di bidang periklanan, sebenarnya aku adalah pewaris tunggal, sudah dipastikan jika kamu menikah denganku nanti, kamu akan menjadi Nyonya Besar.”
Shena mengernyitkan dahinya, dia benar-benar merasa keheranan dengan lelaki yang ada di hadapannya itu. Baru saja satu menit bertemu dan berkenalan, lelaki itu sudah menyombongkan dirinya dan memamerkan hartanya. Padahal, Shena paling benci dan ilfeel terhadap laki-laki seperti itu.
“Melva sudah menceritakan semua masalahmu, kalau kamu mau cepat berpacaran denganku, aku bisa memberikanmu apa pun. Aku orang kaya, jadi hartaku nggak akan pernah habis.” Lelaki itu melanjutkan kalimatnya yang semakin membuat Shena tertegun. Dia tidak menyangka sahabatnya akan mengumpankan dirinya pada lelaki yang aneh seperti yang ada di hadapannya sekarang.
Shena melirik ke arah Melva, memberi isyarat agar dirinya ingin segera pergi dari tempat itu, meninggalkan lelaki tak waras tersebut. Namun, Melva hanya diam tak menanggapi maksud tujuan Shena. Shena kembali menatap Reyzal, dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Akan tetapi, Reyal kembali menyusun kalimat dalam ucapannya.
Kali ini Shena sudah tidak tahan lagi, dia memilih untuk meninggalkan kursinya. Namun, dengana lembut dia berpamitan pada Reyzal.
“Sorry, sepertinya aku harus ke toilet sebentar,” ucap Shena beranjak dari kursinya.
“Ah, mau kuantar? Sebagai lelaki yang baik, aku akan menjaga wanita semaksimal mungkin.”
__ADS_1
“Tidak perlu, terima kasih. Aku bisa senidiri.” Shena buru-buru melangkahkan kakinya menuju toilet. Melva yang menawasinya dari kejauhan, dia lantas menyusul Shena ke kamar mandi.
“Woy, ngapain ke sini?” tanya Melva yang berada di belakang Shena.
Dengan keras, Shena melayangkan pukulan ke lengan Melva sehingga empunya meringis kesakitan.
“Aauw! Gila ya!” pekik Melva memegangi lengannya.
“Kamu tuh yang gila! Sengaja, ya, ngenalin menghubunginya aku sama cowok freak kaya dia, geli tau nggak!” Shena melajukan langkahnya tergesa-gesa seolah ngambek dengan sahabatnya itu.
“Emangnya kenapa, sih? Ada yang salaha dengan Reyzal?”
Melva benar-benar tidak tahu jika teman lelakinya itu sudah berubah, dulu terakhir kali mereka bertemu saat kuliah. Dia hanya mengetahui informasinya dari media sosial, dan iseng menghubunginya kembali. Jadi masuk akal jika Melva tidak tahu akan keanehan lelaki tersebut.
“Kita pulang!” ajak Shena.
__ADS_1
Bersambung...