Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Kode Hijau Dari Emma


__ADS_3

Keberadaan Elvino di butik Shena membuat dirinya dan sang istri merasakan kecanggungan. Emma pun sedikit penasaran dengan hubungan Elvino dengan Shena, pasalnya dia begitu mengenal anaknya yang tak mudah mengenal wanita lain. Apalagi dia baru saja bercerai, meskipun Elvino mengatakan bahwa Shena adalah pelanggan di bengkelnya, tetapi wanita paruh baya tersebut tidak langsung mempercayainya.


“Ayo, Mama antar kamu pilih jasnya. Ngomong-ngomong, itu acaranya kapan sih, El?” tanya Emma seraya berjalan mengelilingi butik Shena yang begitu luas.


Elvino sesekali mengedipkan mata pada Shena sebagai isyarat agar wanita itu tidak mengatakan apa pun. Namun, Shena tidak mengerti apa maksud Elvino, wanita itu hanya mengedikkan bahunya. Elvino lantas mengeluarkan ponselnya dan menulis pesan singkat untuk Shena.


“Shen, maaf aku belum bisa mengenalkanmu ke Mama sebagai istriku. Kita tunggu waktu yang tepat, ya.” Tulisan di layar ponsel Elvino pun langsung terkirim dan terbaca oleh Shena.


Wanita itu pun membalas, “Tenang aja, bukan masalah besar. Aku sangat paham posisiku.”


“Terima kasih.” Elvino pun sekilas mengulas senyumannya terhadap sang istri.


Shena menghela napas panjang dan sesekali melirik ke arah lelaki itu.


Kini, Shena mengantar Elvino dan Emma mencari setelan jas yang pantas untuk acara besarnya nanti. Pada, jika dipikir-pikir, Elvino tidak pernah ambil pusing soal busana yang harus dipakai, bahkan jas yang dia miliki pun juga sudah sangat banyak. Kalau bukan karena tertangkap basah, mungkin Elvino tidak akan membeli di butiknya Shena.


Beberapa saat kemudian, setelah Elvino mendapatkan setelan jas atas pilihan Emma dan pendapat Shena juga, akhirnya Emma memutuskan untuk pulang dan diantar oleh Elvino.


Sesampainya di mobil, Emma menatap Elvino lekat, sesekali mengernyitkan dahinya seolah keheranan. “El, jujur sama Mama.”


“Jujur apa, sih, Ma? Kenapa Mama menatapku seperti itu?” tanya Elvino sedikit gelisah.


“Apa ... kamu ada hubungan spesial dengan Shena? Kamu kenal di mana wanita sehebat dia?”


“Kan, tadi aku sudah bilang, Ma, kalau Shena itu pelanggan di bengkel. Jadi ya, kenal gitu aja.” Elvino perlahan fokus menjalankan mobilnya tanpa memperhatikan mimik waah Emma yang sedang mengamatinya.


Emma tahu betul bagaimana anak lelakinya jatuh cinta, tatapan mata itu seolah tak dapat disembunyikan kala El menatap Shena dan pandangan binar cinta itu ditangkap oleh Emma.


“Kamu suka, kan, sama dia?”

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Emma, Elvino reflek menghentikkan mobilnya karena kaget. Ia sedikit menelan air liurnya dengan kasar. Dia bingung apa yang harus dikatakan pada wanita itu.


“Ehm ... enggak, Ma. Biasa aja.” Elvino melajukan mobilnya kembali.


Hal tersebut semakin meyakinkan Emma perihal kecurigaannya terhadap anak semata wayangnya itu. Sudut bibir wanita paruh baya itu terangkat ke atas.


“Dari mata kamu sudah kelihatan, El. Kamu nggak bisa bohongin Mama.” Emma sedikit menggoda anak lelakinya itu. Elvino pun tampak salah tingkah dibuatnya, pikirannya dipenuhi dengan Shena saat ini.


Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di rumah Emma. Elvino berpamitan untuk pergi ke bengkel lagi. Emma masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang bahagia mengingat putranya yang sudah mulai move on dari wanita ular–Celia.


Berbagai rencana mulai bermunculan dalam otaknya dan berniat menjodohkan Shena dengan Elvino. Sungguh dia sangat menyukai gadis tersebut.


Malamnya, Shena mendapatkan telepon dari Emma yang memintanya mendesain baju untuk sebuah acara reuni yang akan diadakan dua minggu lagi. Konsep dan detailnya Emma paparkan sambil mengobrol santai. Shena ternyata bisa mengimbangi percakapannya dengan mudah. Hal itu membuat Emma semakin yakin sama Shena.


Keesokan harinya, pagi yang cerah mengawali hari Shena. Sejak hari Senin hingga kamis, Shena hampir tak pernah menghabiskan waktu berdua dengan Elvino. Terakhir kali week end lalu ketika dirinya menginap di apartemen. Setelahnya, mau berjumpa pun terhalang kesibukan masing-masing dan juga Emma yang kini turut mengambil waktu mereka.


Tak dapat dipungkiri, rasa rindu salam hati Shena menyeruak semakin salam ketika mengingat Elvino. Begitu juga dengan Elvino yang sebenarnya begitu merindukan Shena. Namun sayang, akhir-akhir ini dirinya juga tengah disibukkan oleh penutupan akhir bulan, sehingga harus teliti mengolah bengkelnya.


"Apa? Mau apa?" tanya Melva dan membuat Shena menampilkan muka masam.


"Ah, nggak asyik kamu mah!"


"Ha ha. Lagian mau ngagetin dari belakang. Bayangan kamu keliatan di layar laptop, Shen. Ada-ada aja kamu?" ujar Melva sambil terkekeh.


"Temenin yok, Mel! Aku mau ke bengkel. Tapi males nyetir sendiri," ajak Shena.


"Ogah, ah. Nggak mau jadi obat nyamuk."


"Please," pinta Shena menampilkan wajah memelasnya sambil mengerjapkan matanya.

__ADS_1


"Bentar. Aku selesaikan dulu ini. Just ten minutes."


Shena melompat kegirangan lalu segera mengambil tas dan makanan yang sengaja dia siapkan untuk Elvino. Tadi, dia membeli lewat pesan online.


Mereka berangkat menggunakan mobil Shena. Tak butuh waktu lama, mereka sampai di bengkel Elvino. Sambil tersenyum semringah, Shena berjalan tanpa memedulikan Melva di belakangnya.


Shena menyapa para karyawan kemudian pergi ke ruangan Elvino. Saat ini jam istirahat, jadi Elvino sudah pasti tengah berada di ruangannya.


Shena mengetuk pintu yang sudah terbuka tersebut. Elvino beranjak kaget saat melihat istrinya datang tanpa memberitahunya.


“Hai, kenapa nggak kasih tau dulu kalau mau ke sini?”


“Memangnya kenapa harus laporan?” Shena berjalan mendekat ke meja Elvino.


“Nggak apa-apa sih, takutnya pas aku di luar, kan nggak ketemu.”


"Kamu sudah makan, El?" tanya Shena diikuti Melva di belakang.


"Belum, kamu bawa apa?" tanya Elvino menghampiri Shena. Shena menyalami suaminya itu. Elvino mengecup singkat kening Shena.


Melva menatap keromantisan sahabatnya itu menjadi jengah. Dia berdecap kemudian pergi meninggalkan sepasang pengantin baru tersebut. Jiwa jomblonya meronta melihat kemesraan Elvino dan Shena. Ia meratapi kesendirian yang tak kunjung usai. Sebenarnya banyak pria yang mendekatinya. Namun, karena traumanya pada masa lalu membuat gadis itu menutup diri dari para lelaki. Meskipun sebenarnya terkadang ingin memiliki pasangan, tapi dia terlalu takut untuk memulai hubungan baru.


"Kebetulan sekali. Aku beliin ayam bakar tadi." Shena tersenyum simpul.


“Padahal, rencananya tadi aku juga mau ke butik, mau ajak kamu makan siang bareng. Tapi, kerajaan belum selesai. Maaf ya kamu jadi repot-repot ke sini.” Elvino menggandeng tangan Shena dan mengajaknya duduk di sofa ruangan tersebut.


“Aku paham kok, kamu pasti akhir-akhir ini juga capek banget karena terlalu sibuk,” ucap Shena tanpa menatap lelaki di sampingnya. Tangannya sibuk membuka bungkusan makanan dan menyiapkannya untuk Elvino.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


Ada yang kangen nggak nih sama author hahaha. Nggak, maksudnya sama El dan Shena hihi. By the way jaga kesehatan selalu ya readers sayang. Terima kasih selalu menyempatkan waktu untuk mendukung El dan Shena dengan cara like juga komentarnya. Author sayang kalian ❤️


__ADS_2