Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Salah Paham


__ADS_3

Rasa sakit terus menggerogoti kepedihan pada wanita berparas cantik itu, bagaikan hujaman bertubi-tubi ditancapkan oleh anak panah dalam relung hati kecil Shena. Bagaimana tidak sakit ketika bola matanya melihat sendiri kemesraan itu.


Istri mana yang tidak merasakan sakit dan kecewa, memergoki suami bersama wanita lain dalam satu ruangan dengan posisi berpelukan? Sungguh di luar ekspektasi Shena saat dia ingin memberikan kejutan sebagai permintaan maaf untuk suaminya, tetapi justru dia yang mendapatkan kejutan luar biasa.


Air mata terus membanjiri pipi mulus wanita yang tengah mengemudi mobil mewah. Sepanjang perjalanan dari bengkel menuju rumah, Shena tidak henti-hentinya menangis. Rasa kesalnya pun dia lampiaskan dengan memencet klakson secara terus menerus saat macet memperhambat jalanya agar segara sampai di apartemen.


"Aaaakkkh!" teriak Shena sembari menangis dalam mobil ketika lampu merah yang menjadi penyebab macet.


Kepala dengan rambut berponi Shena tempalkan pada gagang setir, cengkraman kedua tangan dengan kuat pada gagang setir pun menjadi saksi sebagai rasa pelampiasan emosi dalam dirinya.


"Kamu jahat, El! Jahat!" bentak Shena dengan berlinang air mata.


Sampai pada akhirnya suara klakson dari mobil lain terus berbunyi agar Shena menjalankan mobil karena lampu sudah berubah menjadi hijau, dia pun langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar segera sampai.


Ya, dalam beberapa menit kemudian, Shena masuk ke dalam apartemen dan membanting pintu dengan cukup keras. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang empuk, barulah dia sepuasnya menangis dan menjerit saat kepalanya dia pendam pada bantal.


Sementara di posisi Elvino yang belum sempat mengejar sang istri, dia mengempaskan Celia dengan kasar lalu mengambil paper bag yang terjatuh di lantai.


"El!" panggil Celia yang tidak terima saat tubuhnya terempas dengan kasar.


"Diam kamu!" bentak Elvino saat mantan istrinya mencoba mendekat.


Tangan kekar berurat itu mengambil sebuah kotak dari dalam tas tersebut, lantas berlari keluar melihat mobil istrinya sudah tidak ada. Dia menebak bahwa Shena telah salah paham dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Pada akhirnya, Elvino memutuskan untuk memanggil Samuel dan menyuruhnya memeriksa rekaman CCTV dan mengirimkan rekaman saat dia bersama Celia ke nomornya, sedangkan Elvino bergegas menyusul istri tercinta.


"El, tunggu! Kamu mau ke mana? Aku mohon jangan pergi, El!" Celia mencoba menahan mantan suaminya itu agar tidak meninggalkannya. Dia terus berusaha meraih tangan Elvino.


Namun, secara kasar Elvino membentak mantan istri di depan sebagian para pekerja. "Diam kamu, Cel! Hubungan kita sudah berakhir. Sekarang aku minta baik-baik sama kamu, jangan pernah muncul lagi di hadapanku apalagi mengganggu rumah tanggaku dengan Shena, sebelum aku bakalan nekat bertindak lebih sama kamu!"

__ADS_1


Elvino langsung masuk ke dalam mobil, mobil pun berjalan meninggalkan bengkel tersebut yang sudah menjadi pusat perhatian perdebatan Elvino dengan wanita yang sudah mereka ketahui bahwa Celia—mantan istrinya bos mereka.


Selama perjalanan Elvino terus mencoba menghubungi istrinya, tetapi panggilan telepon dari dia sama sekali tidak digubris oleh Shena.


"Sayang, come on ... angkat teleponnya!" ucap Elvino begitu khawatir terhadap Shena.


"Maaf, nomor yang Anda tu—"


"Aaakkhh ... sshit!" Elvino pun melempar ponselnya tepat di kursi samping dia mengemudi saat mengetahui Shena tak juga mengangkat telepon darinya. "Shena, kamu salah paham, Sayang!"


Elvino menambah kecepatan laju mobil, agar segera sampai dan melihat istrinya untuk menjelaskan secara detail bahwa semua tidaklah seperti apa yang Shena lihat.


Mobil pun melesat cepat, hingga sampai di apartemen yang kini ditempati oleh Elvino dan Shena. Bergegas kaki jenjang itu melangkah menuju pintu lift setelah dia turun dari mobil.


Jemari Elvino tidak hentinya terus mengetuk berulangkali pada pegangan lift saat dia bersandar kebelakang sedangkan tangan satunya lagi bertengger di atas pinggang, sorot matanya terus memperhatikan angka bergulir pada layar atas pintu lift.


Ting! Suara pintu lift terbuka Elvino berlari mendekat ke arah pintu apartemennya. Dia menekan tombol kata sandi secara cepat, lantas masuk ke dalam dan memanggil istrinya.


Langkah kaki pun menuju kamar yang terlihat tertutup rapat, Elvino langsung membuka handle pintu tetapi sayangnya terkunci dan itu menandakan bahwa istrinya berada di dalam kamar.


"Shen ... buka pintunya!" Tangan Alvino menggedor-gedor pintu kamar tersebut. "Shen, Aku tahu kamu ada di dalam, buka pintunya!"


Namun, seberapa berusahanya Elvino membujuk Shena untuk membuka pintu tidak ada tanggapan sedikit pun dari dalam sana. Hingga terpaksa jalan satu-satunya yaitu dengan mengancam pada sang sang istri.


"Shen, kalau kamu tetap seperti ini dan tidak mau membuka pintu, aku bakalan nekat mendobrak pintu ini dan meminta hakku!" teriak Elvino dengan sangat keras agar istrinya tersebut mendengar ancamannya.


Tidak ada sahutan sama sekali dari arah dalam, terpaksa Elvino pun mendobrak pintu itu dengan paksa. Hingga suara dentuman pada pintu yang dibentur oleh tubuh Elvino terdengar menakutkan di telinga Shena.


Akhirnya mau tidak mau wanita dengan mimik wajah sembab akibat menangis, membuka pintu kamar dengan berat hati. Secara perlahan tangan itu membuka, sampai Elvino terlihat jelas di mata Shena.

__ADS_1


Deru napas tersengal, keringat bercucuran serta sorot mata yang intens tergambar jelas pada diri Elvino di mata Shena. Dia membalikan tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam kamar, tetapi tiba-tiba saja Elvino memeluknya dari belakang.


"Maaf," ucap Elvino dengan napas masih tersengal.


Shena mencoba melepaskan pelukan itu tetapi Elvino justru mempererat pelukannya, membuat dia tidak bisa berkutik sama sekali dalam pelukan tubuh sang suami.


"Maaf, Shen! Apa yang kamu lihat barusan tidak seperti apa yang kamu pikirkan," ucap Elvino yang mencoba menjelaskan pada Shena.


"Semua sangat jelas, El! Kalau kamu masih cinta sama dia, ya sudah! Biar aku yang mengalah!" tutur Shena dengan menutup wajahnya saat air mata kembali menetes.


"Enggak, Shen! Aku sudah tidak mencintainya! Sama sekali. Kamu sudah salah paham ... dia yang memelukku secara tiba-tiba! Dan aku juga tidak membalas pelukannya." Evino terus mempererat pelukan pada tubuh Shena saat dia menjelaskan dari belakang telinga wanita tersebut.


"Tapi kamu juga menikmatinya, kan?" tenya Shena dengan suara gemetar. "Aku melihat dengan jelas El, kamu itu—"


Shena sudah tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, karena begitu menyakitkan saat harus mengatakan sesuatu yang membuat hatinya jengkel.


"Demi Tuhan, Shen, aku sama sekali tidak mau dipeluk sama dia! Aku punya buktinya." Alvino melepaskan pelukannya kemudian mengambil ponsel dari dalam saku.


Elvino menunjukkan bagaimana rekaman CCTV yang berada di dalam ruangan kerjanya, terlihat jelas bagaimana Celia yang mulai memeluk dia lebih dulu, terus memaksa meski Elvino menolak secara kasar.


Dalam rekaman CCTV tersebut terdengar juga sebuah percakapan antara Elvino dan juga Celia, itu membuktikan bahwa pria yang ada di sampingnya tidaklah seperti apa yang dipikirkan oleh Shena.


"Sekarang, kamu percayakan sama aku?" tanya Elvino yang menelan saliva dengan susah payah saat menunggu jawaban dari sang empu.


"Please, Shen ... hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di sini." El menunjuk dadanya.


Elvino mengambil tangan Shena, dia mencium punggung tangan itu dengan penuh harap. Sampai kedua bola matanya melihat bagaimana Shena mengangguk sebagai tanda sudah memaafkan dirinya.


"Really?" tanya Elvino sekali lagi tetapi hanya mendapatkan anggukan dari wajah dengan kelopak sembab itu, membuat senyuman terukir disudut bibir Elvino.

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi, Elvino memeluk tubuh istrinya dengan erat, lalu menghapus air mata Shena. Dia mengecup kening itu dengan mesra sembari memeluknya kembali. "Terima kasih, Sayang!"


__ADS_2