
Elvino menaikkan sudut bibirnya sedikit saat mendengar permintaan istri keduanya. Akan tetapi, senyuman itu ditangkap oleh mertuanya. Bagaskara yang memperhatikan Elvino, kini mendekat ke arah pria yang sudah resmi menjadi suami anaknya.
"Jangan senang dulu, saya akan terus mengawasi kamu! Sampai kamu benar-benar bercerai dengan istri pertama kamu dan membawa pernikahan anak saya sah di mata negara! Ingat itu! Kalau kamu menyakiti anak saya baik itu fisik ataupun batin, maka jangan salahkan saya bila menembak kamu habis!" ancam Bagaskara dengan serius.
Elvino menelan saliva-nya secara kasar mendengar ucapan mertuanya, dia pun menjawab ucapan Bagaskara. "Om tidak perlu khawatir, karena saya mencintai putri Om, walaupun saya tidak bisa memberikan janji-janji manis, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya bahagia!"
"Ck! Ok, kita lihat seberapa hebatnya kamu membuat anak saya bahagia! Ingat, laki-laki sejati itu tidak akan lari terbirit-birit saat senapan berada tepat di matanya!" ucap Bagaskara yang meledek Elvino agar tidak berani menghindar ketika Elvino melanggar ucapannya dan bersiap mati di tempat.
Elvino tersenyum tipis mendengar ucapan mertuanya yang sederhana tapi mampu membuat bulu kudu merinding. Tanpa membalas ucapan Bagaskara, Elvino langsung menuruti ucapan Sandra yang menyuruh untuk segera istirahat di kamar hotel.
Suara pintu kamar hotel tertutup begitu menakutkan untuk Shena, padahal suaranya biasa saja mungkin karena dia tahu bahwa dia akan tidur bersama Elvino malam ini, sehingga dia menjadi sedikit parno.
Shena melihat isi ruangan kamar yang dekorasi sebagus mungkin, dengan tirai gemerlap, lampu tidur yang berbentuk lilin di sepanjang jalan menuju tempat tidur. Bunga mawar merah dan juga lily casablanca dirangkai rapi di setiap sudut ruangan. Aroma kamar yang begitu harum serta taburan kelopak bunga mawar merah yang berada di atas tempat tidur, menambah kesan romantis untuk malam pertama pengantin baru.
Hati Shena mungkin akan senang bila ini adalah malam pertamanya dengan Elvino tanpa embel-embel status istri kedua, tetapi keadaan membuatnya menjadi sedih bila malam pertama yang dia bayangkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Menikah dengan lelaki yang dicintainya adalah harapan terbesarnya. Ya, Elvinolah lelaki itu. Lelaki selama ini sangat dicintainya, tetapi malah memberikan luka mendalam.
Elvino membuka jas, jam tangan serta kancing kemeja bagian atas. Dia melihat ke arah Shena yang masih terpaku dengan dekor cantik kamar pengantinnya.
"Ehhm! A–aku, mau mandi duluan!" ucap Elvino yang entah kenapa menjadi gugup karena ucapannya sendiri.
Tanpa menjawab ucapan Elvino, Shena membuang arah pandangannya dan hanya mengangguk. Dia pun duduk ke tepi ranjang sembari menunggu Elvino selesai.
Shena membatin, jika dia akan menunggu Elvino selesai mandi. "Menunggu? Memangnya apa yang akan terjadi setelah dia selesai mandi?" batin Shena bergelut dengan pikirannya, dia sedikit menyunggingkan senyuman seakan tahu apa yang akan terjadi pada pasangan normal.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Elvino keluar dari dalam kamar mandi dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Matanya melihat Shena yang sedang tersenyum senang memainkan kelopak bunga, tapi itu hanya sesaat setelah dirinya baru saja keluar dari kamar mandi dan Shena langsung berhenti tersenyum dan bangun dari rebahannya.
"Ja–jangan salah paham! A–aku cuma suka aja sama bunga mawarnya, bukan senang karena pernikahan kita. Jadi, jangan harap ada malam pertama!" ucap Shena dengan intonasi suara yang begitu ketus, dan langsung menutup mulutnya ketika menyadari ucapannya.
Elvino langsung mengerjapkan matanya seraya tidak menyangka dengan ucapan Shena, entah mengapa dia tahu apa yang di maksud oleh Shena, dia pun tersenyum seraya maju perlahan mendekat ke arah istrinya tersebut.
"Eh, mau ngapain? Jangan dekat-dekat!" Shena langsung menyingkapkan bagian dadanya dengan kedua tangannya.
"Memangnya, nanti malam kita mau ngapain?" tanya Elvino yang berbisik di telinga Shena, saat tangannya mengambil kaos yang sudah tersedia di atas tempat tidur yang berada di belakang Shena.
"Iihh, El!" Shena langsung mendorong dada bidang suaminya dan beranjak untuk pergi ke arah kamar mandi, karena begitu malunya dengan apa yang diucap oleh Elvino seakan dia mengharapkan sesuatu terjadi malam itu.
Elvino tertawa senang, melihat tingkah Shena yang begitu menggemaskan. Ini pertama kalinya dia tertawa lepas lagi setelah masalah yang menimpanya beberapa minggu ke belakang.
Shena pun mencoba membuka baju pengantinnya, tapi dia kesulitan karena resleting belakang macet, dia berusaha sekuat tenaga untuk membukanya. Namun, tangannya terlalu lelah bilah terus-terusan di tekuk ke belakang untuk membuka resleting itu.
"Iiihh, gimana dong? Masa aku minta tolong dia buat bukain? Kan nggak mungkin! Apa aku nggak usah mandi aja kali, ya? Tapi masa tidur dengan badan lengket dan masih pakai baju kaya gini!" rengek Shena yang akhirnya mau tidak mau dia membuka pintu kamar mandi dan meminta tolong kepada Elvino.
"Ssuuttsss! Ssuutts!" ucap Shena yang memanggil Elvino saat pria itu hendak memakai bajunya.
Elvino pun berbalik melihat ke arah sumber suara yang ternyata Shena sedang memanggilnya dari balik pintu kamar mandi, Elvino pun celingak-celinguk ke arah sekitar dan menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Iya, kamu! Siapa lagi yang ada di kamar ini? Iihh ngeselin, buruan sini!" ucap Shena yang jengkel dengan sikap pura-pura Elvino.
__ADS_1
Elvino membulatkan matanya saat mendengar ucapan Shena, baru saja wanita itu memanggil dengan tidak sopan sekarang menyuruhnya dengan tidak sopan pula? Elvino langsung mengabaikan Shena.
"Elvino, iihh! Ke sini sebentar aku butuh bantuan, cepetan!" rengek Shena dari dalam kamar mandi yang hanya memperlihatkan kepalanya saja.
"Nggak mau! Kalau kamu mau minta tolong sama aku, yang sopan!" ucap Elvino yang sedikit marah kepada Shena.
Shena pun menyadari kesalahannya bila dia memang tidak pantas seperti itu dengan suaminya. Namun, hal itu dia lakukan juga karena terpaksa, jika tidak meminta bantuan lelaki itu. Sudah pasti dia akan bersikap gengsi dan jual mahal. Shena pun menarik napas pelannya seraya berkata, "Elvino maaf! Aku tahu salah, maafin aku! Boleh minta tolong buat bukain baju aku? Tangan aku pegal dari tadi tidak bisa kebuka."
Mendengar suara lembut Shena yang meminta maaf, Elvino tersenyum lalu berkata, "Ke sinilah, kalau memang mau aku bantu membuka bajumu!"
Tanpa Elvino duga, Shena menurut dan berjalan mendekat ke arahnya sembari menunduk, dia pun memutarkan tubuhnya dan membelakangi Elvino.
Debaran jantung Elvino tiba-tiba berpacu cepat ketika Shena menyibakkan rambut dan memperlihatkan leher jenjang putih yang terdapat bulu halus, tangannya sedikit gemetar ketika ingin membuka resleting punggung Shena.
Pada saat tangan itu menurunkan sedikit resleting ternyata benar susah, resleting itu macet dan hanya memperlihatkan sedikit punggung putih mulus Shena yang ternyata memiliki bulu halus. Elvino pun mengeluarkan tenaga sedikit kencang untuk membukanya lebih lebar lagi karena hatinya tertarik untuk bisa melihat punggung Shena lebih banyak.
"Bisa nggak?" tanya Shena yang tidak sabar dirinya begitu kegerahan.
"Tunggu sebentar, dikit lagi!" ucap Elvino yang mengeluarkan tenaga lebih besar tapi hasilnya tetap saja sulit untuk membukanya.
Bersambung...
Terimakasih untuk para readersku sayang yang masih membersamai Shena dan Elvino sejauh ini. Author sayang kalian. Love you more ❤️🥰 Terus baca Shena dan El yaa. Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan like jika sudah baca, biar author makin semangat buat update. Oke deh sekian chapter yang author persembahkan hari ini. Semoga kalian suka. Semoga sehat dan lancar rezekinya ya dealofers ❤️
__ADS_1