
“Kita pulang!” ajak Shena.
Keduanya pun memutuskan untuk pulang, meninggalkan Reyzal yang tengah sendirian di restoran itu. Di dalam mobil, Shena tiada habisnya mengumpat pada Melva. Dia masih tak habis pikir akan nasib sialnya akhir-akhir ini.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah Melva. Shena yang memutuskan untuk tinggal sementara waktu, kini harapannya pupus sudah saat melihat dua orang lelaki yang sudah berdiri tegak berada di depan rumah Melva. Shena ynag sudah hafal siapa mereka, dia mendengus kesal.
“Sial! Kenapa sih Papa keras kepala banget!” Shena menggerutu saat Bagaskara mulai bertindak seenaknya. Padahal di usia Shena yang sudah bukan remaja lagi, seharusnya dia bisa hidup bebas tanpa kekangan dan larangan yang selalu menghantuinya.
“Berarti, kamu nggak jadi nginep dong?” tanya Melva yang sudah mengerti maksud ucapan Shena, Dia juga begitu hafal dengan dua bodyguard tersebut.
“Mau gimana lagi, kalau aku membantah, bisa-bisa aku nggak akan diakui anak lagi sama Papa.”
Shena lalu turun dari mobil lalu menghampiri dua lelaki tersebut. Dia menyampaikan rasa kesalnya yang sebenarnya enggan pulang. Namun percuma, kedua lelaki itu tak peduli apa pun alasan Shena, ya terpenting, mereka bisa membawa nona mudanya untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
“Mari, Nona. Silakan masuk ke mobil!” perintah salah satu lelaki mempersilakan Shena masuk.
“Tunggu, aku harus mengambil beberapa barang di dalam.”
Sesampainya di rumah, Shena disambut kedua orang tuanya. Shena benar-benar panik kali ini. Sudah dipastikan papanya akan mengamuk karena sudah dua hari ini dia tidak pulang ke rumah. Bahkan tidak pernah mengangkat telepon dari Sandra maupun Bagaskara.
“Sudah puas main-mainnya?” tanya Bagaskara yang berdiri di dekat tangga.
Shena tak menjawab, dia melirik ke arah Sandra, memberi isyarat untuk menolongnya agar terhindar dari ledakan amarah Bagaskara.
“Pa, sudah jangan marahin Shena. Biarkan di masuk ke kamarnya. Besok pagi, baru bicara dengannya. Waktu itu, Shena pernah cerita sama Mama, kalau katanya sudah punya kekasih, Pa. Dia pengusaha, ganteng juga, terus pinter, berpendidikan tinggi,” ucap Sandra.
“Apa itu benar, Shena?” tanya Bagaskara seraya menatap tajam ke arah anaknya.
__ADS_1
“Ehm ... iya, Pa.” Shena terlihat gugup saat menjawab pertanyaan dari Bagaskara. Mau tidak mau, dia harus berbohong dan mengakui kalau dirinya sudah mempunyai kekasih.
“Baiklah, kali ini Papa akan memberikanmu kesempatan. Besok bawa lelaki itu kemari!”
“Mampus aku! Besok?” batin Shena, matanya membeliak, mengingat dia belum ada persiapan sama sekali.
“Pa, bukankah besok Papa harus keluar kota?” tanya Sandra.
“Ya sudah. Kalu begitu lusa bawa ke sini. Papa mau bertemu dengannya. Kalau dia memenuhi kriteria, Papa akan merestui. Tapi, kalau semua yang kamu katakan tidak benar, dia tidak akan pantas jadi menantuku.”
“Oke, Pa. Ya sudah kalau begitu, Shena ke kamar dulu.” Shena melangkahkan kakinya menaiki tangga. Dia sedikit bisa bernapas lega saat meninggalkan Bagaskara dan Sandra yang membuat jantungnya berpacu kencang akibat kebohongan yang terpaksa dilakukannya
Shena menatap langit-langit kamar, dia semakin frustrasi ketika mengingat sosok lelaki yang diharapkannya—yang mampu menjalankan semua misinya.
__ADS_1
Bersambung...