
“Ma, panggil Shena suruh turun!” Teriakkan dari bawah terdengar lantang di telinga kedua wanita di dalam kamar tersebut.
Shena yang tadinya berniat untuk beristirahat, kini gagal akibat perintah papanya yang tidak bisa dibantah.
“Ayo, turun, Sayang. Kamu tahu sendiri, kan, Papa pasti akan ngamuk kalau kamu nggak nurut,” tutur Sandra mengajak turun Shena.
Mau tidak mau, Shena menurut dan mau untuk turun, menemui tamu yang sejak tadi menunggu dirinya. Padahal matahari sudah mulai tenggelam, berganti dengan senja yang keindahannya bahkan tak dapat menggantikan suasana hati Shena untuk saat ini.
Kaki jenjangnya menuruni tangga dengan malas, aura wajah yang semula kesal, kini malah berkumpul menjadi amarah yang menggelapkan kecantikannya.
__ADS_1
Bagaskara—papa Shena menyuruhnya untuk mengobrol dan saling mendekatkan diri satu sama lain. Akan tetapi, mata Shena masih enggan menatap sosok lelaki berperut buncit di hadapannya. Mulutnya pun terkunci rapat, dia akhirnya melirik ke arah papanya, napasnya diembuskannya kasar seolah membuang kekesalan. Namun masih sama, kesal itu malah semakin tak berujung.
“Shena, ajak ngobrol Lucky, dia sudah lama menunggumu sejak tadi. Hargailah, dia sudah jauh-jauh datang untuk menemuimu. Kamu beruntung, diia mau menerima kamu, Shena.”
Lucky tersenyum, memperlihatkan barisan giginya yang bahkan tidak ada rapinya sama sekali. Lelaki itu mengulurkan tangannya berniat untuk menjabat tangan Shena. Akan tetapi, Shena enggan menerima uluran tangan hitam nan kekar tersebut. Dia menarik napas panjang, menumpulkan keberaniannya, menyusun kata per kata membentuk kalimat dalam otaknya. Segera, dia mengeluarkan unek-uneknya yang sudah dipendam cukup.
Belum selesai Shena bicara, Bagaskara mendaratkan tamparan ke pipi putrinya itu. Padahal, selama ini lelaki itu sangat menyayangi anaknya walau dia mendidiknya dengan sangat tegas demi attitude yang harus dia punya.
“Hati-hai kalau berbicara Shena! Kau tahu sekarang sedang berbicara dengan siapa, hah? Mana sopan santun kamu, anak kurang ajar!”
__ADS_1
Seketika, Shena memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras yang diterimanya. Baru pertama kali ini, dia merasakan sikap kasar papanya. Dia memang anak yang tidak pernah melawan, kesuksesannya sekarang pun, atas didikan Bagaskara. Sejak sekolah, kuliah, bahkan training di luar negeri pun, dia dituntut untuk menjadi yang terbaik, sehingga dia selalu patuh apa pun keputusannya.
“Pa, sudah, jangan emosi, harusnya Papa tidak perlu menampar Shena,” ungkap Sandra berusaha mendinginkan suasana yang sudah terlanjur membara.
“Tidak apa-apa, Pak Bagas. Mungkin Dek Shena sedang capek, lain kali saja saya akan datang lagi. Bagas pun berpamitan, Namun, sebelum lelaki itu pergi, Shena lebih dulu meninggalkan ruang tamu dan bergegas keluar rumah, Dia membuka pintu lalu membantingnya keras5 saat menutup.
Shena menaiki mobil merah kesayangannya, dia mulai menancap gas dengan kencang meninggalkan rumahnya. Pikirannya tengah kalut, bahkan dia tak tahu harus ke mana. Jika dia mendatangi butiknya pun, sudah dipastikan akan menjadi pertanyaan semua karyawan, karena dia datang di saat hari sudah mulai gelap dan tak seharusnya dia berada di butik itu malam hari.
“Shena! Mau ke mana kamu!” teriak Bagaskara yang berusaha mengejar Shena hanya sampai depan rumah.
__ADS_1