Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Insiden


__ADS_3

Shena berjalan setengah berlari ke arah Elvino hingga membuatnya terpeleset akibat cipratan minyak ketika goreng udang tadi. Elvino bergegas menghampiri Shena yang berteriak kesakitan. Terlihat Shena masih mengenakan celemek dan rambut yang di cepol ke atas itu sedang meringis kesakitan dan duduk di lantai.


Elvino dengan sigap segera menggendong Shena dan mendudukkannya di sofa. Kemudian ia berjongkok.


"Mana yang sakit? Kamu tidak apa-apa?" cecar Elvino sambil meraba-raba pundak dan berung pada betis Shena yang mulus. Daster selutut yang wanita itu pakai sedikit tersingkap ke atas karena posisi duduk. Elvino meneguk ludahnya mencoba berkonsentrasi.


"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit ngilu di bagian pinggang dan kaki kiri."


"Sebentar, aku mencoba pertolongan pertama. Kamu harus sedikit menahan sakitnya, ya." Elvino memijat kaki Shena yang sakit, hingga Shena mengaduh kesakitan. Namun, setelah itu ia merasakan lebih baik.


"Makasih," ucap Shena tulus.


"Iya, lain kali lebih berhati-hati. Jangan ceroboh." Elvino mengusap tepung yang berada di pipi Shena. Elvino gemas sekaligus terpana melihat Shena dengan penampilan rumahan seperti saat ini. Ia merasa Shena semakin cantik natural. Ia beranjak dari posisinya dan mengambil paper bag berisi makanan. "Kamu diamlah. Aku akan membereskan semuanya. Aku bawakan salad untukmu. Makanlah." 


Shena melirik ke arah paper bag yang Elvino maksud, lalu membuka isian di dalamnya. Salad buah yang Elvino bawa sangat menggiurkan.


"Terima kasih lagi."


"Sama-sama." Elvino menimpali seraya membersihkan dapur. Sementara Shena asyik memakan salad. Sesekali tatapannya tertangkap Elvino yang tersenyum ke arahnya.


Selesai beres-beres, Shena dan Elvino makan bersama di meja makan. Suapan pertama membuat Elvino terdiam.


"Kenapa? Nggak suka? Nggak enak?" tanya Shena dengan wajah cemberut.


"Aku suka kok. Apa pun yang kamu masak aku suka." tukasnya.


Shena tersenyum dan menyendokkan nasi miliknya ke dalam mulut. Kemudian, ia memuntahkan makanan yang sudah ia siapkan.


"Maaf, masakanku tidak enak. Kamu boleh membuangnya, El. Kita pesan delivery aja," kata Shena sedih.


"Ini enak kok. Aku akan memakan semuanya. Kamu pesanlah makanan online untuk kamu saja. Aku makan makanan yang istriku buat."


Shena terharu, lantas tersenyum dan tetap memakan makanannya bersama Elvino.

__ADS_1


Selesai makan, mereka mandi dan masuk ke dalam kamar. Keduanya kini duduk di sofa panjang, menonton televisi. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Suasana semakin canggung kala ada adegan ciuman di film aksi yang mereka tonton. Sungguh suasananya berubah menjadi sangat canggung dalam keadaan sekarang. Sesekali mereka saling lirik satu sama lain. Hingga akhirnya Elvino berdehem dan mulai membuka suara.


"Shen, apa aku boleh bertanya?" 


"Ya?" jawab Shena.


"Bolehkah aku meminta hakku?"


Seketika Shena terdiam. Lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat karena bingung apa yang dikatakan.


"Shen, kamu tidak mau kah?"


"Ehm ... selain belum siap, aku juga tidak mau kontak fisik sebelum kamu dan istrimu resmi bercerai, El. Aku tidak mau rugi," kata Shena lalu mengubah posisinya sedikit menjauhi Elvino.


"Baiklah. Jika kamu maunya seperti itu. Tapi jika sekedar cium atau peluk boleh?" tanya Elvino.


Shena hanya mengangguk tanda setuju.


"Nggak bisa gitu dong?" protes Shena. “Nanti tangan kamu nggak bisa diem lagi, curang. Itu namanya melanggar kesepakatan.”


"Baiklah, jika tidak setuju aku juga tidak mau menuruti keinginanmu tentang hakku." Shena kalah telak. Dia tidak punya pilihan lain.


"Deal. Aku tidak bisa berkata tidak kali ini. Tetapi jangan langgar aturanku. Hanya boleh peluk dan cium. Tidak boleh lebih," tukas Shena. 


“Ayo!” Elvino lantas menggandeng Shena ke tempat tidur. 


“Ke mana? Mau ngapain?”


“Aku ingin segera tidur dan memelukmu.” 


Tanpa kata, Shena hanya menurut dan mengembuskan napasnya sedikit kasar. Keduanya pun kini berada di ranjang dengan selimut yang sama. Namun, Shena membelakangi Elvino dan posisinya berjarak.


"Kok menghindar, sini dong. Masa pelukan jauhan gitu, kan tanganku nggak sampai."

__ADS_1


Shena bergeser mundur sedikit.


"Mendekat lagi, Shen. Ayolah."


Akhirnya Shena membalikkan badannya dan tak sengaja wajah mereka saling bertabrakan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Elvino langsung menempelkan bibirnya, Shena menerima ciuman lembut yang Elvino berikan. Tanpa ada penolakan sedikit pun dari wanita itu. Shena terbuai hingga deringan ponsel mengganggu mereka. Shena melepaskan tautan mereka dan menyenggut di bawah ketiak Elvino seperti anak kucing kepada induknya. 


Elvino mengumpat kasar dalam hati, merutuki siapa yang berani meneleponnya malam-malam dan mengganggunya. Ternyata telepon tersebut berasal dari Celia. Ia segera mematikan ponselnya dan meletakkan kembali di atas nakas.


Shena yang mencium aroma parfum Elvino pun dengan cepat memejamkan matanya. Pelukan yang hangat dan menenangkan itu menjadi hal candu bagi Shena. Padahal, sejak awal Elvino menginginkan pelukan tersebut, tetapi malah Shena yang mulai nyaman dengan hal itu hingga saat ini dia berada di alam mimpinya. 


Keadaan saat ini membuat Shena semakin reda dan damai menerima kenyataan. Meskipun dirinya sempat membenci Elvino karena kebohongannya, tetapi kini dia mulai menerima lelaki itu dalam hidupnya. Apalagi saat dia tahu bahwa rumah tangga Elvino bermasalah dan sudah hampir bercerai. Jadi, Shena berusaha menerima lelaki itu kembali di hidupnya. Tak dapat dipungkiri, rasa yang mereka punya menyatu begitu saja, takdir membawa mereka dalam ikatan perikanan yang tak pernah terbayangkah sebelumnya. 


“Selamat tidur, Sayang. Semoga mimpi indah,” ucap Elvino setelah tau Shena sudah tertidur pulas. Dia kembali mendaratkan kecupan di pucuk kepala istrinya itu.


Keesokan harinya, Elvino bangun terlebih dahulu. Dia menyadari Shena memang tidak bisa memasak, dia memutuskan untuk menyiapkannya sarapan sebelum istrinya itu bangun. Keahlian memasaknya sudah dia lakuan sejak di bangku kuliah, dia terbiasa hidup mandiri meskipun terlahir dari orang yang berada.


Tiga puluh menit berlalu, Elvino telah selesai menyiapkan nasi goreng dan salad sayur. Tak lupa, dia juga membuatkan jus buah untuk Shena. Elvino pun masuk ke dalam kamar, berniat mengecek Shena sudah bangun atau belum. Ternyata, wanita itu sedang duduk dan bersender di kepala ranjang seraya menguap.


“Selamat pagi,” sapa Elvino seraya menyodorkan susu dari tangannya untuk Shena.


“Terima kasih.” Shena menyeruput susu itu sedikit dan meletakkannya di nakas. 


Elvino pun duduk dii tepi ranjang dan memandangi wajah Shena. “Jangan melihatku seperti itu, aku belum cuci muka.”


“Wajah kamu semakin menggoda saat bangun tidur.” Elvino tersenyum, mencolek hidung Shena dan mengelus sebentar pipi wanita itu. “Aku sudah menyiapkan sarapan. Kita makan, yuk!”


“Aku ke kamar mandi dulu.” Shena buru-buru melompat dari ranjang, dia tak kuasa dengan tatapan Elvino yang begitu menembus ke jantungnya.


Melihat tingkah Shena, Elvino tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepala, menatap punggung Shena yang semakin menghilang dari pandangannya. Wanita itu kini dengan cepat menutup pintu kamar mandi. “Sampai kapan kamu akan berhenti membuatku gemas saat melihat tingkahmu, Shen. Semakin hari, aku semakin dibuat jatuh cinta sama kelakuan kamu yang lucu itu.”


Bersambung....


Hai readers kesayangan jaga kesehatan ya, tetap semangat dan jangan dengarkan orang lain. Karena, terkadang sedikit banyak perkataan orang lain bisa membuat kamu down dan sedih. Jadilah pribadi yang kuat karena kalian spesial. Sampai ketemu besok 🥰💕 Terima kasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2