Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Bukti Dari Samuel


__ADS_3

“Kenapa kita jauh, El. Harusnya kita hidup bahagia setelah menikah. Mau sampai kapan kita seperti ini, El? Apa kamu masih akan tetap bersikeras menuduhku? Aku sakit saat kamu tidak mempercayaiku, aku sakit saat kamu menjauh dari ku, aku juga sakit jika kamu terus mengabaikanku seperti ini. Aku wanita biasa yang bisa rapuh kapan pun, El. Andai sedikit saja kamu percaya padaku dan mendengarkan kata-kataku, mungkin hidup kita tidak akan seperti ini, saling menyiksa satu sama lain. Apa kamu nggak capek, El?”


Wanita itu mulai terisak di samping El seraya amerebahkan tubuhnya di dekat lelaki itu.


“Shen, kenapa kamu mengkhianatiku ...” Elvino terdengar mengatakan sesuatu yang membuat Shena terkesiap.


Air mata lelaki itu keluar dari sudut matanya yang terpejam.


“Shena, kenapa kamu tega.” Bibir lelaki itu bahkan mengucap dengan suara lirih. “Jangan pergi.”


Tanpa disadari, lelaki itu mengigau menyebut nama Shena berulang kali. Entah apa yang terkam dalam pikirannya saat dia tengah tertidur. Yang jelas hal itu membuat dada Shena sesak. Keduanya sama-sama tersiksa, tetapi El dengan kerasnya menganggap Shena selingkuh.


“El, aku di sini.” Shena memeluk Elvino dengan tangis yang semakin terisak.


 


Hatinya pedih membiarkan masalah seperti ini berlarut-larut. Hena mencium kening Elvino dan bibirnya. “El, Sayang ... cepatlah sembuh, kita akan memulai dari awal semuanya, ya,” ucap Shena lantas mendekap tubuh Elvino dengan erat.


Hingga pagi menjelang, Shena masih terus berada dalam dekapan Elvino. Lelaki itu masih belum terbangun dari tidurnya. Demamnya pun masih sama seperti malam tadi. Shena lekas menghubungi dokternya untuk datang memeriksa keadaan Elvino.


 


Sembari menunggu kedatangan dokter, Shena menyiapkan sarapan Elvino yang dia beli onlin karena di apartemen sesama sekali tidak ada bahan makanan yang tersimpan di kulkas.


Selang beberapa menit Shena menunggu di ruang tamu, dokter tersebut pun datang. Lelaki paruh baya dengan jas putih yang melekat di tubuhnya itu segara memeriksa keadaan Elvino. Diia memberikan obat dan pesan-pesan yang harus Shena lakukan untuk pemulihan Elvino.


Shena hanya berharap, suaminya itu cepat sembuh. Jika dalam tiga hari masih dalam keadaan yang sama, maka dengan terpaksa Elvino harus mendapatkan rawatan lanjutan di rumah sakit.

__ADS_1


Stelah dokter tersebut selesai dengan tugasnya, Shena mengantar dokter itu untuk pergi. Dia pun kembali duduk di tepi ranjang dan menata Elvino.  Lelaki itu ternyata sudah bangun sejak dokter ĺl, hanya saja dia bera membuka matanya.. apa yang disampaikan dokter pun dia masih bisa mendengarnya.


“Kamu sudah bangun?” tanya Shena. “Makan sekarang ya, terus minum obat.”


“Aku mau ke kamar mandi,” tutur Elvino seraya beringsut. Dia duduk sebentar dan bersender di kepala ranjang. Matanya terpejam untuk beberapa saat, menetralkan rasa pusing yang luar biasa.


“Aku antar,” ucap Shena sambil memegangi tangan Elvino yang tengah mencoba berjalan.


“Aku bisa sendiri.”


Shena hanya mengembuskan napas kasar saat Elvino masih bersikap dingin terhadapnya. Dai mencoba membuang egonya kali ini dan terus memperbanyak rasa sabarnya. Dia tetap dengan pendiriannya jika akan merawat Elvino hingga sembuh.


“El, aku sudah siapkan makanan. Aku suapin, ya?” tanya Shena seraya membuka box makanan tersebut dan menuangkannya  di piring. “Tenang aja, aku beli makanan ini di tempat katering mamanya Sam, jadi pasti aman.”


Elvino  berjalan ke arah ranjang dan duduk di sana. Sedangkan Shena masih berada di sofa dan menyiapkan makanan di meja. Wanita itu lalu mendekat ke ranjang seraya menyuapi Elvino.


“Aku makan sendiri aja,” ujar Elvino sambil mengambil piring dari Shena.


Jarak yang begitu dekat membuat keduanya bergejolak dan memerangi hati masing-masing. Sambil menyuapi, Shena pun juga masih tetap menghindari tatapan Elvino yang sesekali memperhatikannya..


“Kalau kamu sibuk, pergilah. Aku tidak akan melarangmu atau menahanmu. Sejujurnya aku bisa mengurus diriku sendiri.” Elvino berkata saat makanan itu sudah hampir habis.


“Ya, aku akan pergi. Tenang aja.. tapi kalau kamu sudah sembuh. Setidaknya tunggu hingga obat ini habis,” ucp Shena seraya memberikan obat ke Elvino agar meminumnya.


“Duduk di sana dan makanlah, aku mau tidur lagi,” kata Elvino.


Walaupun Elvino hanya menyuruhnya makan, bagi Shena itu sudah luar biasa. Setidaknya lelaki itu masih perhatian padanya. Shena menyuapkan makanan ke mulutnya, entah kenapa tenggorokannya seperti tercekat. begitu suli dia menelan makanannya saat menangis. Air matanya terus menetes, sebenarnya dia memang tidak tahan berlama-lama menerima sikap dingin Elvino. Akan tetapi dia akan terus berpegang pada prinsipnya.

__ADS_1


**


Dua hari berlalu, keadaan Elvino semakin emmbaik, lelaki itu memang harus banyak istirahat saat tenaganya sudah terkuras habis untuk bekerja. Pagi hari, Elvino membuka matanya dan mendapati sarapan di meja. Namun, tidak ada Shena di sana yang biasa menunggunya bangun dan melayaninya.


“Ke mana Shena,” batin Elvino penasaran. Tak ada suara air dalam kamar mandi.


Dia pun bergegas keluar kamar dan mencari keberadaan Shena. Namun nihil, semua ruang tidak ada wanita itu. Elvino berpikir s sejenak, dia merasa putus asa dan kesepian. Entah kenapa hatinya sangat merindukan Shena saat tidak di samping wanita itu.


“Shen, kamu ke mana? Apa kamu sudah capek merawatku?” Elvino bermonolog. “Apa kamu ada urusan di butik? Atau ... kamu?”


Elvino berusaha membuang jauh-jauh pikran negatifnya tentang Shena. Dia hanya berpikir istrinya sedang pergi ke butik karena dia ingat ucapan Shena saat itu, jika Elvino sembuh maka dia akan pergi dari apartemen. Bukankah hal itu juga Elvino yang memintanya. tetapi lelaki itu benar-benar egois dan tidak menyadari kesalahannya. Dia masih enggan mengajak wanita itu untuk berdiskusi. Bayangan foto dan video Shena bersama lelaki lain masih terus menghantui dirinya.


Tidak mau berlarut-larut, merasa kondisinya membaik, dia lantas bergegas membersihkan diri dan langsung pergi ke bengkel. Sesampainya di sana, Samuel langsung menyambutnya dan menanyakan kabar sang bos.


“Bos! Sudah sembuh?”


“Apa kamu nggak bisa lihat kalau aku sehat?”


 


Samuel mengerlingkan matanya dan menghela napas sedikit kesal atas jawaban Elvino.


“Oh iya, aku mau kasih kamu sesutu yang sangat penting. Sebentar aku ambil dulu di ruanganku.”


Sam lalu pergi dan mengambil ponselnya dan memberikannya ke Elvino.


“Apa ini?” tanya Elvino penasaran sambil mengerlingkan matanya.

__ADS_1


“Di sana ada bukti bahwa istri kamu tidak bersalah.”


“Ikut aku ke ruangan,” ajak Elvino yang langsung diikuti oleh Samuel di belakangnya. “Dari mana kamu dapetin ini, Sam? Isinya apa?”


__ADS_2