Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Debat Berujung Mesra


__ADS_3

Terlihat wanita yang sudah menjadi istrinya itu berdiri membelakangi pintu. Elvino berinisiatif mendekati Shena, akan tetapi suara wanita itu menghentikannya.


"Berhenti di situ! Jangan mendekat!"


"Ada apa, Shen. Kenapa tiba-tiba kamu bersikap seperti itu? Ada yang salah denganku?" tanya Elvino dengan hati-hati.


Shena membalikkan badan, memasang wajah masam dan tidak bersahabat. 


"Menurut kamu salahmu di mana?"


Elvino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian menggeleng mantap. Shena mengembuskan napasnya kemudian membuka tas yang ia bawa. Dia mengeluarkan beberapa dokumen yang ia temukan di brankas tadi.


"Ini maksudnya apa? Kebohongan apa lagi yang kamu tutupi dariku?"


Elvino melirik dokumen yang Shena hempaskan di meja tepat di sampingnya. 


"Bagaimana kamu bisa membukanya?"


"Apakah aku terlihat seperti orang bodoh di matamu? Sebuah kata sandi atau angka biasanya jika tidak menyangkut tanggal lahir, pasti tanggal momen pent–" Shena menghentikan ucapannya menyadari satu hal. Dalam hati ia bersorak kegirangan karena ternyata Elvino membuat sandi brankas tersebut menggunakan tanggal pernikahan mereka. Namun, ia gengsi untuk mengatakannya. "Sial, selain kaya dia ternyata sweet banget! Sumpah ya malu banget ternyata suamiku tampan, kaya dan manis. Aku nggak bakalan biarin wanita mana pun dekati dia. Harus ekstra hati-hati dan pelayanan maksimal ini mah. Akan kubuat Elvino hanya menatapku seorang. Tidak ada wanita lain. Awas aja jika ada betina liar atau pelakor akan kuulek jadi rujak!" Monolognya dalam hati.


"Shen, Shen." Elvino menyadarkan Shena yang sedikit melamun.


"Apa!" jawab Shena ketus kemudian memanyunkan bibirnya. Ia berusaha menjaga sikapnya tadi.


"Maaf aku—"


"Aku apa? Kenapa tidak jujur dari awal? Kenapa kamu menyembunyikannya dariku selama ini hingga membuatku berpikir kamu hanyalah karyawan biasa di sini dan juga ...."


Cup!


Sebuah benda kenyal menempel di bibir Shena dan membuat wanita itu diam membeku di tempat. 

__ADS_1


"Sudah selesai marah-marahnya?" tanya Elvino.


Shena segera membalikkan badan memunggungi Elvino. Ia pastikan wajahnya sekarang merona seperti kepiting rebus. Ini kedua kalinya Elvino menciumnya. Tapi kali ini secara tiba-tiba dan mengejutkan. Shena menetralkan degupan jantung yang seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.


Untuk menghindari rasa groginya, Shena akhirnya protes atas perlakuan Elvino. “Kenapa kamu menciumku, hem? Bukankah aku sudah bilang, kamu tidak boleh menciumku kalau tidak mendapat izin dariku.”


Tanpa peduli ucapan Shena, Elvino bergerak maju dan memeluk Shena dari belakang. Kali ini Shena benar-benar luluh di buatnya. Namun, tetap saja gengsinya tak mau mengalah.


Elvino mengecup leher Shena dan membuat perempuan itu bergidik. Ia merasakan gelenyar aneh merasuk ke dalam tubuhnya.


"Aku tidak pernah menyembunyikannya, Shen." Elvino meletakkan dagunya di bahu Shena. 


"Kamu ingat? Pada saat perkenalan dengan kedua orang tuamu, aku mengenalkan diriku yang sebenarnya. Namun, kamu malah menganggapku sebagai apa yang kamu pikirkan. Aku tidak kamu beri kesempatan untuk menyanggah, dan aku juga tidak pernah mengatakan jika aku seorang karyawan."


"Ba-bagaimana bisa aku menyadari hal itu, jika kamu saja tidak memberitahukan kepadaku secara langsung? Kamu harusnya memberi tahu secara personal denganku, El."


"Baiklah, aku yang salah. Aku minta maaf. Sekarang kamu mau apa? Biar aku lakukan," bujuk Elvino.


"Tidak sebelum kamu memaafkanku, Shen. Lagi pula aku belum mendapatkan vitamin yang aku butuhkan," sanggah Elvino.


"Vitamin apa?" Dahi Shena berkerut bingung.


"Aku belum mendapatkan kecupan mesra padahal aku membutuhkannya."


"Ka-kamu, ya! Menyingkirlah. Jangan mesum! Aku kebelet pipis. Jangan sampai aku ngompol di sini." Shena terus berusaha agar Elvino melepaskannya meski dalam hati bersorak kegirangan. Namun, jantungnya rasanya mau meledak. Ia khawatir Elvino mendengar degupan yang begitu keras. Juga sikap Shena yang terlihat salah tingkah karenanya.


"Baiklah, tapi maafkan aku dulu." Elvino mencoba bernegosiasi kepada sang istri.


"Iya, iya. Aku maafin, tapi jangan berbohong lagi! Aku nggak suka kamu berbohong apalagi ada rahasia!" ucap Shena yang memasang raut wajah seperti anak kecil seraya bergumam, "Lagian, apa hak aku tidak kasih kamu maaf? Aku kan cuma istri kedua kamu."


"Siap, Tuan Putri." Elvino membalikkan badan Shena menghadap kepadanya lalu meraih kedua tangan Shena untuk ia genggam.

__ADS_1


"Aku berjanji. Secepatnya akan menceraikan dia dan mensahkan hubungan kita di hadapan publik," timpal Elvino dalam hati saat mendengar ucapan Shena yang pelan tapi masih bisa dia dengar, lalu kembali mengucapkan pada Shena. "Baiklah, silakan jika mau ke kamar mandi. Tapi sebagai tanda kamu memaafkanku, aku minta vitamin." 


"Apa?" tanya Shena menoleh ke arah lain salah tingkah.


"Jangan menoleh ke arah lain ketika kamu bersamaku," ucap Elvino kemudian melepaskan pelukannya. Kedua tangan beralih ke wajah Shena, agar wanita itu menatapnya. Elvino mengecup dengan cepat lalu melesat pergi keluar.


"Elvino!" pekik Shena lantas bergerak keluar. Ia menyadari beberapa pasang mata tengah menatap dirinya. Shena berdeham, kemudian pergi dari sana. Sebelum itu, ia mengetikkan pesan untuk Elvino.


"Aku pulang." Begitulah isi pesannya.


Tak lama, balasan dari Elvino masuk. "Tunggu aku, aku akan pulang cepat sore nanti."


Shena tersenyum membentuk bulan sabit di bibirnya lalu menyimpan kembali ponsel ke dalam tas tanpa membalas pesan dari Elvino. Ia menaiki taksi online untuk menuju apartemen. Namun, saat di perjalanan, tiba-tiba dia teringat butiknya. Rasanya ia rindu kepada butik dan segala rentetan aktivitas keseharian yang biasa ia lakukan. Sudah sekitar seminggu sejak dia menyiapkan pernikahannya, dia belum pernah ke butik lagi. Jadi, hari ini ia memutuskan untuk menengoknya sebentar sembari menunggu sore. Shena mengabari Melva bahwa hari ini, dia akan datang ke butik.


Sesampainya di sana, Shena disambut meriah oleh para karyawannya. Terlebih Melva. Gadis itu terus-terusan menggoda Shena habis-habisan menanyakan perihal malam pertama. Shena hanya membalasnya dengan tatapan tajam. Namun, justru semakin membuat Melva bersemangat mengolok-oloknya.


Jengah dengan kelakuan Melva, setelah beberapa jam berhasil bertahan, Shena akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen.  Akan tetapi, sebelum itu ia memutuskan untuk berbelanja di mal dekat apartemen agar bisa memasak untuk Elvino.


Setelah berbelanja, Shena bertolak ke apartemen dan mencoba memasak sembari menunggu Elvino pulang. Meskipun sebenarnya dia tidak tahu cara memasak yang benar. Shena mencari-cari menu termudah di laman google kemudian streaming youtube untuk mempelajari tutorialnya.


Hari ini, dia berencana untuk memasak cah kangkung, goreng tempe dan udang tepung. Beberapa jam berkutat di dapur, Shena akhirnya selesai memasak menu untuk makan malam. Ia melirik ke arah jam dinding. Matanya terbelalak melihat jarum pendek berada di angka tujuh. Itu berarti sebentar lagi kemungkinan Elvino pulang. 


Sebenarnya jika tidak ada tragedi tempe gosong atau goreng udang yang meletup-letup, bagi orang yang sudah ahli memasak mungkin tidak akan membutuhkan waktu yang lama. Berbeda halnya dengan Shena yang sama sekali tidak pernah menyentuh dapur. Dapurnya kali ini berada di kondisi yang memilukan, berantakan bak kapal pecah. 


Belum sempat merapikan dapurnya, tiba-tiba bel berbunyi dan tak lama pintu terbuka. Elvino masuk ke dalam apartemen sambil memanggil-manggil Shena.


"Shen, Shena!"


Shena berjalan setengah berlari ke arah Elvino hingga membuatnya terpeleset akibat cipratan minyak ketika goreng udang tadi. Elvino bergegas menghampiri Shena yang berteriak kesakitan. Terlihat Shena masih mengenakan celemek dan rambut yang di cepol ke atas itu sedang meringis kesakitan dan duduk di lantai.


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers tersayang, semoga suka part ini yaa. Author nulisnya deg-degan seperti jatuh cinta kembali. Semoga kalian juga makin jautuh cinta sama El dan Shena ya. Love you guys 💕


__ADS_2