
Jam tangan sudah menunjukkan pukul 21.00. Bengkel pun tampak sudah sepi karena para karyawan mulai pulang satu persatu. Namun, Elvino belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal, Shena sangat berharap lelaki itu akan muncul dan menemuinya.
Shena mulai lelah dan putus asa, akhirnya dia memilih men-starter mobilnya berniat untuk pergi. Perutnya mulai memberontak minta di isi, ditambah rintik hujan yang mulai membasahi bumi membuat Shena ingin bertemu bantal kesukaannya di rumah. Sayangnya ketika hendak menancapkan gasnya, terlihat sebuah mobil keluar dari bengkel lalu berhenti. Tampak sosok yang ia tunggu-tunggu sedari siang, turun dari mobil tersebut dan bergerak untuk mengunci pagar bengkel.
Di bawah remang lampu jalan, Shena segera menyeberang jalan yang sunyi itu kemudian menghampiri Elvino.
“Sudah puaskah menghindariku selama semingguan lebih? Beginikah caramu menghilang dariku?” Cecar Shena menahan emosinya.
Mendengar suara yang sangat dia kenal, Elvino sontak berhenti tanpa berniat membalikkan badan.
“Aku hanya sibuk. Aku punya duniaku sendiri. Urusan kita sudah selesai, jadi tolong tidak perlu cari aku lagi! Anggaplah kita tidak kenal.” Elvino menggigit bibirnya sambil terpejam menahan gejolak di dada. ‘Sesak’ itu yang dia rasakan. Bahkan, tusukan seribu jarum tak mampu mengisyaratkan betapa Elvino menahan sakit tak terkira saat mengucapkannya.
“Tidak bisakah kita berteman? Setidaknya jangan hindari aku,” lirih Shena sambil menatap punggung Elvino di hadapannya.
__ADS_1
Elvino membalikkan badan, menyiapkan kekuatan untuk mengucapkan kata selanjutnya. Dia menatap Shena lamat-lamat dan menghembuskan napasnya yang berat. Elvino berharap ini yang terbaik antara dia dan Shena. Hubungan mereka memang tak seharusnya melibatkan perasaan.
“Shena, kamu perempuan yang baik aku tahu itu. Tapi bagaimana pun kamu, maaf kita tidak bisa bahkan berteman sekalipun. Aku sudah memiliki istri dan aku harap kamu mengerti alasanku menghindarimu. Aku hanya tidak mau ada kesalahpahaman lebih dari ini. Aku menganggapmu hanya partner yang sempat aku bantu kemarin. Aku rasa aku sudah mengatakan semuanya dan sekali lagi, maaf. Jauhi aku!” Setelah mengatakan itu, Elvino segera mengunci pintu pagar dan berlalu menaiki mobilnya lantas meninggalkan Shena.
Shena syok bukan main, dirinya begitu terpukul dengan semua kata-kata Elvino. Shena menatap kosong mobil Elvino meratapi kepergiannya. Di bawah rintik hujan, tubuh Shena meluruh ke rerumputan jalan. Dia menangis terisak tanpa suara seiring dengan hujan yang membasahi tubuhnya.
“Lalu, apa arti semuanya itu, El? Perhatianmu begitu nyata, kebaikanmu bahkan sudah tak wajar sebagai teman.” Buliran hangat itu kini sudah menyatu dengan rintik hujan, isak tangis itu semakin menjadi-jadi kala dia mengingat sesuatu.
“Dan ... ciuman pagi itu? Apa kau sudah melupakannya? Kau juga memelukku sangat erat. Saat aku menangis kau mampu menenangkanku. Kamu hadir saat aku membutuhkanmu, El. Dan sekarang begitu mudahnya kamu mau membuangku. Kenapa semua ini harus terjadi? Apa aku memang tak layak bahagia?” Shena mendongakkan wajahnya ke langit, sesekali dia berteriak melepas sesak yang begitu perih di dadanya.
Patah hati saat baru saja memulai memanglah hal terberat bagi Shena. Meskipun sebelumnya dia pernah merasakan sakit saat bersama Roger, tetapi hal itu berbeda dengan yang dirasakannya saat ini. Elvino adalah sosok yang lembut terhadap wanita, perhatiannya bahkan tak pernah dia dapatkan dari Roger—mantan kekasihnya. Justru dia sangat bersyukur bisa lepas dari jerat cinta paksa Roger yang malah menyiksanya.
Shena masih terdiam di tempat walau hujan semakin deras. Dia menekuk kakinya, kepalanya menunduk bertumpu pada lutut, menyembunyikan wajahnya yang kini bahkan tak terbaca lagi raut kebahagiaannya, kesedihan itu begitu memilukan. Mungkin setelah ini, Shena akan menjadi sosok wanita yang tidak mau lagi berhubungan dengan lelaki mana pun. Sendiri adalah pilihan terbaiknya saat ini.
__ADS_1
Sementara itu, Elvino yang sedang mengemudikan mobilnya berniat segera pulang. Namun, pikirannya saat ini masih tertuju pada Shena. Dia meratapi segala ucapannya pada Shena beberapa menit yang lalu, rasa bersalah menghantuinya. Baginya, kalimat itu terlalu kejam, tetapi jika tidak bersikap demikian, hal itu akan semakin membuat dirinya terjebak dalam cinta terlarang karena statusnya sebagai suami. Ditambah lagi Celia yang sudah mulai berubah lebih baik—sesuai keinginan Elvino.
Hanya berjarak beberapa meter. Akhirnya Elvino memutuskan untuk kembali ke bengkel, dia memastikan apakah Shena sudah pergi atau masih berada di tempat tersebut.
Betapa terkejutnya Elvino melihat Shena dari kejauhan, saat dirinya menghentikan mobil yang terhalang oleh pohon besar. Dia sengaja bersembunyi, walau hatinya memaksa untuk mendekat dan memeluk wanita tersebut. Lelaki itu tetap teguh dengan pendiriannya kali ini dan enggan menuruti naluri. Mau tidak mau, Elvino harus menyaksikan pemandangan yang menyakitkan di depan matanya. Pandangannya terus memerhatikan Shena yang duduk di bawah guyuran air hujan begitu deras. Elvino sudah bisa menebak bahwa Shena saat ini sedang bersedih karena ucapannya.
“Shena, maafkan aku. Aku harus melakukan ini semua. Aku memang pengecut, aku hanya bisa menyakitimu. Seharusnya dari awal aku memang tidak memberikan harapan rasa terhadapmu. Seharusnya, aku tidak menciummu waktu itu, aku begitu bodoh karena sudah menyakiti wanita sebaik kamu. Tetapi, aku juga tidak mungkin menodai pernikahanku dengan perselingkuhan.” Manik biru Elvino kini mulai mengembun, dia memukuli kepalanya sendiri seolah frustrasi dengan sikapnya selama ini terhadap Shena.
Elvino terus bermonolog seorang diri di dalam mobil tersebut. Dia ikut merasakan sakit ketika Shena menghukum dirinya di bawah hujan.
“Shena pulanglah! Jangan terus menyiksa diri seperti itu, kamu terlalu berharga untuk lelaki bodoh sepertiku. Maaf jika aku menjauhimu, mungkin ini memang jalan terbaik kita, sampai kapan pun kita memang tidak akan pernah bersatu. Maafkan aku. Terima kasih karena sudah memberiku cinta. Aku sangat bisa merasakan hal itu, tatapanmu begitu sejuk saat masuk ke relung. Aku harap kamau bisa mendapatkan lelaki sempurna sesuai apa yang kamu inginkan.”
Rasa dingin yang masuk ke pori-pori Shena pun mungkin sudah tak dirasa, tertutup dengan rasa sakit di hati yang begitu menggerogotinya. Namun, saat hujan mulai reda dia memutuskan untuk pulang. Shena berjalan perlahan dengan langkah gontai menuju mobilnya. Elvino pun masih menunggu dan mungkin akan berniat mengikuti Shena hingga dia sampai ke rumah, setidaknya dia memastikan wanita itu aman dan selamat karena malam sudah sangat larut. Akan berbahaya jika di jalan bertemu orang jahat, atau bisa juga akan terjadi apa-apa jika dia tidak fokus berkendara.
__ADS_1
Bersambung...