Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Tertangkap Basah


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, seharian ini Elvino bergelut pada mesin mobil karena pelanggan yang begitu membludak. Rencananya, setelah dari bengkel, dia akan pulang ke apartemen lebih awal. Mengingat sekarang adalah waktunya dia bersama dengan sang istri, hingga pria yang memiliki wajah tampan tersebut bergegas untuk meninggalkan bengkelnya dan mrmasrahlan pada Samuel.


Langkah Elvino begitu semangat ketika memasuki mobil, suara siulan pada mulutnya pun menandakan jika hatinya begitu senang. Dia tidak sabar ingin segera bertemu Shena—istri tercintanya, dengan seuntaian senyum yang mengembang, dia mengharapkan sesuatu akan terjadi malam ini.


"Oke, sip!" ucap Elvino ketika dia sudah masuk ke dalam mobil lantas dengan posisi dia yang sudah siap mengemudi, dia langsung menginjak pedal gas. "Let's go, i'm coming, Honey!"


Mobil pun berjalan melaju ke arah apartemen, membelah jalanan ibu kota pada malam hari dengan cahaya lampu yang menjadi penerang jalanan. Suara kebisingan pada kendaraan lain pun menjadi ciri khas tersendiri dalam ruang lingkup terbuka tersebut, di mana suara klakson pada kemacetan saling bersahutan dan rasa lelah atau letih usai seharian bergelut mencari rezeki menambah nikmatnya dalam sebuah kehidupan.


Sementara itu, di dalam apartemen. Shena yang mengikat rambutnya dengan cara menggulung ke atas menyisihkan anak rambut, kaos rumahan yang pas melekat pada tubuh seksi Shena serta celana jeans pendek sepaha memperlihatkan jenjang kaki putih mulus, membuat wanita cantik yang tengah sibuk mengutak-atik peralatan di dapur begitu terlihat cantik, tidak lupa pada celemek yang menempel pada tubuhnya menambah kesan manis pada Shena.


Hari ini Shena sengaja pulang lebih cepat dari butik, karena dia ingin memberikan kejutan pada sang suami jika dirinya sudah bisa memasak. Dia ingin menunjukkan hasil masakan yang selama ini dia belajar bersungguh-sungguh saat berada di rumah orang tuanya.


Tidak lama kemudian terdengar suara pintu apartemen terbuka, Elvino yang baru saja masuk ke dalam terkejut saat mencium wangi masakan yang berasal dari dapur, membuat rasa laparnya menjadi tergugah saat idera penciumannya mentransfer aroma tersebut pada saraf otak.


"Shena, kamu udah di rumah? Kamu masak?" Elvino menghampiri Shena yang berada di dapur saat dia menaruh jaketnya di atas sofa.


"Ih, kok cepat pulangnya, aku belum selesai masak!" Shena pun sedikit kecewa dia hanya memainkan sedikit sudut bibirnya, ketika ternyata Elvino sudah tiba lebih cepat dari perkiraannya.


Elvino terkekeh saat mendengar penuturan Shena, dia mendekat lalu melihat penampilan istrinya yang menggoda nalurinya sebagai pria walaupun memakai celemek, kemudian berbisik, "Karena aku ingin cepat-cepat bertemu istriku!"


Ucapan Elvino membuat Shena tersipu malu, dia langsung membalikkan tubuh untuk menutupi wajahnya yang mungkin kini memerah seperti udang rebus. Dia lantas kembali mengaduk makanan yang ada di panci.


"Kamu sangat manis saat tersipu malu begitu," bisik Elvino ketika tubuhnya semakin menempel di belakang tubuh Shena.


"Elvino … sudah sana pergi mandi! Nanti kalau sudah matang aku panggil." Shena menengok ke wajah Elvino yang berada di belakang telinganya dan tentu saja membuat sang empu refleks mengecup bibirnya.


"Elvino!" Shena terkejut saat bibirnya mendapatkan kecupan singkat yabg begitu mendadak dari sang suami, dia pun berkata, "Sudah sana mandi!"

__ADS_1


Shena mendorong tubuh Elvino dengan bokongnya saat dirinya kesal, ternyata suaminya justru tertawa senang karena berhasil mengecup bibirnya.


"Aahh!" Elvino melenguh ketika juniornya mendapat dorongan dari bokong Shena.


Tentu saja, maksud dari Shena tidak seperti itu. Shena hanya berniat mendorong tubuh Elvino agar tidak terlalu dekat dengannya, saat dia sedang memegang spatula untuk mengaduk masakan.


"El, kamu tuh!" kesal Shena yang ingin melayangkan pukulan ke arah kepala Elvino dengan spatula di tangannya. Akan tetapi, Elvino sudah menjauh lebih dulu dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi seraya tertawa.


Selang beberapa menit, ketika Elvino sudah selesai mandi dan Shena sudah selesai masak. Kini mereka duduk berhadapan yang hanya terhalang oleh meja makan. Elvino tampak terkejut ketika melihat makanan sudah tertata rapi di atas meja, dari aroma pada masakan dan penampilannya membuat dia tidak sabar ingin menyantapnya.


"Ini beneran, semuanya kamu yang masak?" tanya Elvino yang meragukan masakan enak.


Shena mengangguk sembari tersenyum untuk meyakinkan pada suaminya bila dia yang masak semua masakan yang ada di meja. "Kamu mau makan sama apa? Ikan gurame goreng mentega atau ayam rica-rica?"


Shena menawarkan lauk yang lainnya setelah dia menaruh piring Elvino yang sudah terisi oleh nasi, tidak lupa juga dia sudah menuang sayur sop ke dalam mangkuk dan diletakan di samping piring nasi tersebut.


"Bagaimana?" tanya Shena yang penasaran atas penilaian dari suaminya, ketika Elvino sudah mengunyah makanan yang dia buat.


"Hmmm," sahut Elvino seraya mengangguk-anggukkan kepala dengan pelan untuk menikmati sensasi rasa pada indera pengecap nya.


"Hhmm, gimana? Kamu tuh kalau di tanya!" kesal Shena melihat reaksi yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Elvino kembali terkekeh melihat tingkah Shena yang selalu membuatnya gemas saat merajuk. "Enak, Sayang!"


"Serius?" Shena kembali semangat ketika suaminya berkata bila masakannya enak.


Elvino mengangguk, lantas menyuapi Shena dan melihat reaksi pada istrinya tersebut. Benar saja apa yang dipikirkan oleh Elvino, istrinya itu pun langsung mencicipi lagi masakan yang dia masak dengan begitu senang.

__ADS_1


Tiba-tiba hal yang tidak terduga pun terjadi, di saat Elvino ingin menyuapi kembali Shena. Suara ketukan pintu menghentikan aksi romantis mereka berdua.


“Biar aku yang buka, El. Kamu lanjutkan makan.” Shena beranjak dari kursinya dan segera melihat siapa yang datang.


Wanita itu langsung membuka pintu tanpa melihat sari lubang kecil di pintu sebelum memastikan siapa tamu yang datang.


“Ta—Tante!” pekik Shena dengan mata membola.


“Loh, Shena! Ngapain kamu di sini. Aku nggak salah lantai kok ini apartemennya Elvino anakku, kan?”


“I—iya, Tan.”


“Siapa, Shen?” teriak Elvino.


Emma menatap heran pada Shena karena dia berduaan dengan anaknya di apartemen. Banyak tanda tanya dalam pikiran yang menghantuinya. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Emma langsung menyelonong masuk, mencari suara Elvino.


"Bagus ya! Jadi ini yang membuat kamu sampai sekarang tidak mau kasih tahu Mama alamat apartemen kamu? Ternyata kamu menyimpan seorang wanita di dalam apartemen, El!" bentak Emma yang masih belum menyadari jika wanita yang ada di belakangnya itu adalah Emma.


Suara sendok terjatuh pun terdengar, Elvino langsung menengok ke belakang. "Mama?"


“Kenapa kaget, hah?” Emma menatap tajam Elvino, perasaannya bercampur aduk saat ini. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia sangat kecewa karena anak satu-satunya telah membohonginya.


Beberapa saat yang lalu, Emma sengaja menunggu Elvino di dekat bengkelnya. Dengan mengendarai mobil seorang diri tanpa sopir, Emma bermaksud untuk mengikuti Elvino. Dia begitu penasaran dengan apartemen anaknya itu. Selama ini Elvino hanya janji-janji akan membawa Emma ke apartemennya. Namun, hingga saat ini janji itu belum terbayarkan, sedangkan rasa keingintahuan Emma begitu mendalam. Dia semakin resah karena dia sedikit mencurigai anak lelakinya itu.


"Dasar anak yang tidak tahu disayang! Apa yang kamu sembunyikan, Elvino! Jawab Mama!”


“Ma, El bisa jelasin semuanya ....”

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2