Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Melva dan Samuel


__ADS_3

“Ma, Pa. Kalian sudah tidak perlu khawatir lagi dengan keadaan Shena. Karena yang perlu kalian perhatikan sekarang adalah, kesehatan kalian. Papa dan Mama harus sehat terus ya, karena ....” Shena melirik ke arah Elvino, mereka tersenyum secara bersamaan.


“Maksud kamu apa, Sayang?” Sandra mengernyitkan dahinya.


“Jadi, Papa dan Mama harus siap-siap karena sebentar lagi kalian akan punya cucu. Sudah ada Elvino Junior di sini.” Elvino mengelus perut Shena yang masih rata. Kedua pasangan seami istri itu saling melempar tatapan sayang, Elvino mengecup pucuk kepala Shena.


“Serius? Mama nggak salah denger, kan?” ucap Emma yang tampak antusias.


“Kalian nggak lagi bercanda, kan?” sahut Sandra.


“Ya, nggaklah, Ma. Masa hal sepenting ini dibercandain, sih!” Elvino menjawab yang langsung disenyumi oleh istrinya.


Bagaskara dan John pun saling menatap senang. Mereka memberikan selamat pada anak dan menantunya. Betapa lengkap kebahagiaan Shena saat ini, dia tidak ingin momen seperti ini hilang suatu saat nanti. Mereka berenam saling melempar candaan dan memberikan beberapa nasihat untuk ibu hamil yang baru saja merasakan kehamilan pertamanya.


Sore hari, mereka berempat meninggalkan apartemen Elvino setelah merasa cukup bertemu dengan Shena memastikan keadaan anaknya sudah baik-baik saja.


Di tempat lain, Mobil hitam yang dikendarai Samuel berhenti tepat di depan butik, bola matanya tampak memperhatikan suasana sekitar butik yang masih ramai pengunjung. Dia pun memutuskan menunggu satu per satu mobil pengunjung meninggalkan butik tersebut.


Setelah tempat tersebut sepi dan butik hendak tutup, Samuel gegas memasuki butik untuk menemui Melva. Entah kenapa hati dan pikirannya terus menyuruh untuk menemui wanita itu.


Samuel mengajak Melva untuk menjenguk Shena yang baru saja pulang dari luar kota dalam keadaan sakit, meskipun sebenarnya wanita itu sudah sembuh hanya saja Shena memang membutuhkan waktu istirahat yang banyak, apalagi dia sedang mengandung dan harus lebih berhati-hati.


“Kamu, ada perlu apa ke sini?” tanya Melva dengan nada penasaran. Rasa gugup masih menggerogoti hatinya karena terus teringat kejadian hari itu.


“Boleh masuk?”

__ADS_1


“Silakan.” Mereka pun masuk ke ruang customer di sudut ruang.


“Aku mau ajak kamu ke apartemen El, Shena udah pulang, kamu udah tau, kan?” tanya Samuel melepas kacamatanya.


"Ah iya, Shena udah kasih kabar tadi pagi. Hanya saja aku emang belum sempat ke sana karena harus menghandle butik.,” jawab Melva berusaha biasa dan menghilangkan rasa canggungnya.


“Sebentar, aku ambil tas dulu di lantai atas.” Melva lalu berdiri dari kursi.


Tiba-tiba saja tangan Samuel menariknya. “Tunggu, ada hal yang ingin aku katakan.”


“Apa?”


“Aku mau kamu jadi pacar aku.”


“Aku sehat, dan aku sangat sadar dengan apa yang kukatakan saat ini, mau aku ulangi lagi?”


Meski sebenarnya jantung Samuel berdegup sangat kencang, tetapi dia memberanikan diri dan melawan rasa groginya. Dia takut, jika tidak bergerak cepat, maka wanita itu akan jatuh ke tangan lelaki lain dan dia tidak mau jika hal itu terjadi.


Melva terdiam untuk beberapa detik, memastikan bahwa ini bukan mimpi atau halusinasi sesaat. Antara percaya atau tidak, yang dilihatnya kini memang sangat tampak mustahil. Namun, sejak kejadian siang itu—Samuel mencium Malva—wanita itu bahkan tidak bisa melupakannya. Bahkan, rasa aneh semakin menggerogoti hatinya.


“A—aku ....”


“Kenapa gugup? Jawablah, aku menunggu!”


“Aku tidak ....”

__ADS_1


“Sstt ....” Samuel menutup bibir Melva dengan telunjuknya. “Ah, ya! Aku tidak menerima penolakan, Melva Andiana.” Samuel semakin menegaskan kalimatnya, dia lantas mendekatkan tubuhnya ke Melva hingga wanita itu terimpit di antara tembok dan tubuh kekar Samuel.


Tangan lelaki itu dengan lembut membelai pipi Melva dan sesekali menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi mata indah wanita di depannya itu.


Jantung Melva seakan hendak terlepas dari tempatnya, degupannya bahkan membuat dadanya sesak. Ia berusaha mengatur napas yang mulai memburu tak karuan. Tak biasanya dia seperti ini, hanya karena seorang laki-laki tiba-tiba dia mati kutu.


“Gila, kenapa aku bodoh banget. Kenapa aku nggak bisa ngelawan Sam, sih. Kenapa aku lemah. Ini sangat memalukan, come on Melva, bertingkahlah seperti biasa. Jangan grogi, jangan jadi patung di depan Sam,” batin Melva yang masih tidak bisa mengucap satu kata pun. Pikirannya seolah sudah terhipnotis dengan tatapan tajam Samuel.


“Oke, jadi mulai detik ini, kamu adalah milikku dan tidak ada satu pria pun yang boleh mendekatimu, jika itu terjadi maka aku tidak akan tinggal diam.”


“Sam, kamu apaan sih?” Melva mulai menyentuh dada bidan lelaki itu dan sedikit mendorongnya. Dia mengumpulkan keberaniannya yang bahkan sudah menciut.


Siapa sangka, lelaki dingin macam Samuel bisa berubah drastis dan mendominasi seorang wanita yang disukainya. Terlebih, sebelumnya mereka saling benci satu sama lain. Nyatanya yang Samuel lakukan sekarang memanglah berbanding terbalik dari sikap sebelumnya. Ini suatu kenekatan yang memang sudah tidak bisa dia tahan lagi. Jika menunggu rasa cinta yang bertumbuh dan berjaaln pelan, maka itu akan terlalu lama untuk Samuel memiliki wanita pujaan hatinya.


“Kenapa kamu memutuskannya sendiri tanpa menanyakan bagaimana jawabanku?”


“Dengar! Aku tidak butuh basa basi. Aku tau dan percaya, kalau kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku tanpa kamu mengaku sekalipun. Jadi, sekarang aku memutuskan untuk kejelasan hubungan kita. Paham?”


“Ta-tapi kamu terlalu cepat menyimpulkan, Sam. Bagaimana kalau aku tidak mau dan tidak menyukaimu?” Melva bertanya sambil tersenyum dibuat selicik mungkin agar Samuel kalah.


Tidak peduli akan jawaban yang belum diberikan Melva, yang jelas dengan ciuman Samuel bisa membaca pikiran wanita itu. Rasa itu memang sama-sama ada dan bersemi, hanya saja Melva gengsi dan grogi untuk langsung mengiyakan ajakan Samuel untuk menjalin hubungan.


“Itu tidak mungkin. Karena, kalau wanita sepertimu mau dicium dengan pasrah dan tidak ada penolakan, maka itu sudah cukup membuktikan kalau rasa itu memang ada. Bukan begitu, Nona Melva?” Samuel menaik turunkan alisnya, perlahan wajah lelaki itu mendekat dan berkata, “Apa kau mau mengulangnya lagi?”


“Sam, jangan macam—“

__ADS_1


Ucapan Melva terpotong seketika karena Samuel langsung membungkam bibir wanita itu dengan ciuman. Bibir keduanya bertaut satu sama lain, Samuel bahkan meraih tengkuk wanita itu, membiarkan lumatannyaa semakin lama dan semakin dalam mengabsen bibir lembut milik Melva. Wanita itu bahkan tak berkutik sama sekali, dia justru memejamkan matanya, menikmati ciuman lembut yang diberikan oleh Samuel.


__ADS_2