Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Ketakutan Shena


__ADS_3

“Kau, tidak akan meracuniku, kan?” tanya Shena, nada suaranya terkesan menuduh Roger saat dirinya menyuap satu sendok makanan ke mulutnya  


“Mana mungkin aku meracunimu, Baby. Kamu satu-satunya orang yang aku inginkan. Percayalah, aku tidak akan setega itu meracunimu.” Roger berkata jujur, walau sebelumnya memang ada niatan menaruh obat tidur di makanan tersebut. Akan tetapi dia mengurungkan niatnya, mengingat ini hanya usaha awal untuk dirinya mendapatkan Shena.


Pada akhirnya, mereka berdua makan dalam keheningan. Shena ingin segera keluar dari ruangan ini. Dia sudah jengah. Di tengah aktivitas makan, Roger kembali membuka pembicaraan dan kali ini tampak sangat serius.


“Shena, aku ingin kita kembali seperti dulu,” ucap Roger dengan nada serius.


Hal tersebut sontak membuat Shena terkejut dan membanting sendok garpu yang dia pakai ke piring hingga membuat bunyi nyaring. Dirinya tersedak karena makanan yang ia kunyah tertelan paksa. Roger langsung menyuguhkan air minum kepada Shena.


“Pelan-pelan, Sayang. Jangan tergesa-gesa,” tutur Roger lembut sembari mencoba mengelus pundak Shena.


Namun, Shena tidak menerima uluran minuman dari Roger dan memilih mengambil minumannya sendiri. Shena meneguk minuman tersebut sambil menepuk-nepuk dadanya.

__ADS_1


Roger  menghela napas. “Sabar, Roger. Kamu harus lebih sabar menghadapi Shena yang sekarang,” batin Roger.


Setelah agak tenang, Roger kembali menanyakan hal yang sama. “Bagaimana, Shen? Kamu mau kan kembali denganku?”


“Sayang sekali aku tidak bisa, Tuan Roger. Aku sudah tidak cinta lagi denganmu. Lebih baik cari wanita lain. Aku memaafkanmu, tapi untuk kembali, itu mustahil bagiku,” jawab Shena dengan tegas.


“Tidak. Tidak mungkin kamu sudah tidak mencintaiku. Kamu bilang seperti itu karena kamu mau tarik ulur, kan?” tanya Roger memastikan pendengarannya. 


“Aku tidak akan melepaskanmu, Shena!” 


“Sudah kubilang, aku tidak akan kembali padamu, Roger! Tolong izinkan aku bahagia. Aku sudah memiliki calon dan akan segera menikah.” Perkataan Shena ternyata sukses membuat seorang Roger membeku. Kesempatan ini, Shena gunakan untuk kabur.


Para bodyguard yang melihat kepergian Shena, segera pergi ke ruangan sang bos. 

__ADS_1


“Bagaimana, Bos? Apakah harus kami kejar?” tanya salah seorang bodyguard tersebut.


“Tidak perlu. Cukup terus awasi dan lapor setiap jam informasi tentangnya,” kata Roger kemudian terduduk kembali di kursinya. Tangannya mengepal dengan erat.


Setelah berhasil keluar dari restoran tersebut, Shena segera menghentikan taksi yang kebetulan lewat dan pergi dari sana. Dia memutuskan kembali ke hotel untuk menenangkan diri. Di perjalanan, dia menelepon Melva agar datang ke hotel tempat ia menginap. 


Di sebuah kamar hotel yang terbilang mewah, dua wanita kini sedang saling berbincang di atas ranjang berukuran besar. Mereka bercerita di bawah selimut. Mereka tak lain adalah Shena dan Melva. Tadi, setelah mendapatkan telepon dari Shena, Melva segera datang ke lokasi yang Shena share. 


“Jadi gimana menurut kamu, Mel? Sumpah aku takut sama Roger. Tahu, kan, gimana dia dulu ke aku?” tanya Shena sambil bersandar di pundak sahabatnya itu.


“Menurut aku si Shen, sebaiknya kamu beneran cari calon suami deh! Cuma itu solusi buat bungkamin bokap nyokap sama si Ger Ger itu,” saran Melva seraya mengelus puncak kepala Shena bak seorang ibu kepada anaknya.


“Huh, gimana caranya, Mel? Pacar aja nggak punya, huh,” keluh Shena. 

__ADS_1


__ADS_2