Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Bayangan Semalam


__ADS_3

Cahaya matahari pagi menembus dalam kamar hotel yang di tempati oleh Shena dan Elvino. Perlahan, kelopak mata lelaki itu terbuka. Tangan kanannya terasa pegal karena tanpa dia sadari, Shena sedang beralaskan lengan Elvino dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Kedua pasangan suami istri itu tidur dalam satu selimut tanpa sehelai benang pun.


Ukiran senyum Elvino tak dapat ia tahan. Kedua pasang pengantin yang baru saja melakukan ritual semalaman, kini tampak kelelahan. Namun, hal itu membuat sang lelaki merasa sangat bahagia karena pada akhirnya hal yang ditunggu-tunggu selama ini sudah terwujud. Dia mengingat kejadian semalam yang bahkan tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.


“Terima kasih, istriku. I love you,”bisik Elvino dengan suara lembutnya.


Elvino mencium pucuk kepala Shena, dihirupnya aroma wangi yang berasal dari rambut wanita itu. Perlahan, Elvino meletakkan kepala Shena bermaksud untuk bangun. Gerakannya sangat lembut karena takut istrinya akan terbangun.


Elvino segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri.  Selang beberapa menit kemudian, Shena pun terbangun. Dia beringsut dari ranjang, menyenderkan tubuhnya, lalu melihat sekitar. Dia sempat kebingungan ketika tak mendapati Elvino di kamar itu.


Namun, suara gemercik air terdengar dari kamar mandi, tentu saja Elvino ada di dalamnya. Shena lantas menatap kosong, ia mencoba memutar ingatannya. Pipinya memerah seketika saat adegan demi adegan berputar di kepalanya. Sentuhan Elvino yang begitu lembut bahkan masih terasa jika dibayangkan. Bulu roma wanita itu tiba-tiba meremang. Entah bagaimana seharusnya dia bersikap untuk menghilangkan rasa malunya, tetapi pagi ini dia harus siap bertatap muka dengan sang suami yang sudah menjamahnya semalam.


“Agh, itu sangat memalukan. Kenapa semalam aku harus merintih sih, mana aku pasrah banget lagi, pasti dia mikir kalau aku juga menikmatinya.” Shena mengacak kasar rambutnya.


Tatapan mata Shena tertuju pada satu titik pada bed cover putih yang menutupi tubuhnya. Terdapat bercak darah di sana, tentu saja hal itu menjadi bukti keutuhan mahkota Shena. “Astaga, gimana ini!”


Elvino yang kebetulan keluar dari kamar mandi pun sempat mendengar suara Shena yang sedikit berteriak. “Sayang, kamu sudah bangun?”


“Ah ... ehmm.  Ya, aku sudah bangun beberapa menit yang lalu.” Shena membetulkan bed cover untuk menutupi tubuhnya yang tanpa busana.


“Kenapa tadi berteriak?” Elvino berjalan mendekat. Seperti biasa, lelaki itu selalu hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


“Nggak pa-pa, El. Aku mau mandi dulu, ya.”


Elvino yang berdiri di samping ranjang pun mengambil segelas air dan menuangkan madu ke dalamnya. Kemudian menyodorkan gelas tersebut pada Shena. “Ini, diminum dulu! Air madu bagus kok.”


“Terima kasih.” Shena menyesap air madu tersebut hingga tandas dan meletakkan gelas kosong di nakas samping tempat tidur.


Shena mencoba beranjak dari ranjang, tetapi dia masih mempertahankan bed cover-nya untuk melilit tubuh.


“Shen, kenapa mandi harus bawa bed cover, Sayang?”

__ADS_1


“Kamu tau, aku nggak pake apa-apa, El. Masih aja nanya, hish!” Shena masih duduk di tepi ranjang dan berusaha berdiri.


Elvino menahan tawanya karena gemas melihat tingkah Shena. “Mau serapat apa kamu tutupin tubuh kamu, itu nggak akan ngaruh buatku, Sayang. Aku sudah melihat semuanya semalam.” Elvino terkekeh, dia masih begitu ingat bagaimana sempurnanya bentuk tubuh istrinya itu.


“El!” Shena berteriak agar suaminya berhenti menggodanya karena merasa sangat malu. Shena lantas dengan cepat berdiri dan berusaha melangkahkan kakinya di antara bed cover yang menjuntai ke lantai.


“Auw ... ssshhh!” rintihnya pelan. Seketika dia terkejut karena rasa nyeri yang dirasakan di bawah sana.


“Shen, kenapa?” tanya Elvino.


“Nggak pa-pa, El.”


Paham akan kondisi Shena yang merasa kesakitan, Elvino kemudian berinisiatif untuk menggendong Shena tanpa permisi. Bed cover yang semula menutup tubuhnya pun terlepas dan jatuh ke lantai. Elvino menatap Shena lekat saat berada dalam gendongannya kemudian mencium kening wanita itu.


“Mau kutaruh di mana mukaku ini. Udah nggak ada harga dirinya sama sekali. Telanjang bulat di depan El. Sungguh memalukan!” batin Shena sambil memejamkan matanya. Tak ada penolakan sama sekali dirinya. Sadar akan posisinya sekarang, dia hanya berusaha menjadi istri yang baik dan penurut untuk suaminya


“Apa perlu aku bantu mandinya?”


Shena didudukkan di atas closet oleh Elvino. Wanita itu dengan cepat menutup dadanya dengan kedua tangan. Elvino berjongkok sebentar dan memperhatikan wajah Shena yang tampak malu-malu. Tangan Elvino terulur, menyentuh bibir Shena dengan ibu jarinya. Entah tatapan apa yang diberikan Elvino, tetapi hal itu mampu membuat Shena salah tingkah.


Bibir lelaki itu melengkung membentuk bulan sabit, sebuah senyuman terukir indah. “Jangan lama-lama, aku menunggumu di luar.”


“Mau ngapain lagi, El?”


“Mau memakanmu lagi!”


Mata Shena membulat sempurna. “Apa!”


“Kita akan makan, aku sudah sangat lapar, Sayang,” ucap Elvino sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, sementara Shena hanya bergidik ngeri melihat sikap aneh Elvino.


Wanita itu mencoba berdiri dan berjalan perlahan menuju wastafel. Dipandangnya pantulan dirinya di cermin besar tersebut.

__ADS_1


“Ya ampun! Kenapa kamu ninggalin jejak sebanyak ini sih, El! Mana di leher depan lagi. Gimana coba kalau dilihat orang. Malu-maluin!”


Shena menggerutu di dalam kamar mandi karena melihat bekas kecupan Elvino di lehernya yang ta hanya satu dua.


Setengah jam kemudian, Shena selesai dengan ritual mandinya. Dia melihat sudah ada beberapa hidangan di meja.


“El, kamu sudah pesen makanan?” ucap Shena sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


“Ya, kamu bisa pilih apa pun yang kamu suka.”


“Thank you, aku mau keringin rambut dulu sebentar.”


Tanpa kata, Elvino dengan tiba-tiba mengambil haur dryer di tangan Shena dan membantunya mengeringkan rambut. Shena mendongak ke atas, dilihatnya Elvino yang gagah berdiri di belakangnya.


Beberapa saat menit kemudian setelah selesai mengeringkan rambut. Keduanya kini menikmati sarapan di kamar sambil menikmati view yang terlihat sari jendela kamar.


“Shen, boleh aku menanyakan sesuatu?”


“Hmm, ada apa?” jawab Shena sambil menyuapkan pan cake ke dalam mulutnya.


“Apa kamu tidak bahagia menjadi istriku?”


Shena langsung menatap Elvino dengan dahi yang mengernyit. “Ya, tentu saja aku bahagia. Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?"


“Apa kamu sedang tidak berbohong?”


“El, please. Ke mana arah pembahasan kamu ini?” Shena mulai kesal dengan pertanyaan Elvino.


“Maaf, aku hanya penasaran saja. Kalau kamu memang benar-benar bahagia menikah denganku dan menerima semua yang ada padaku terasuk masa lalu, lantas kenapa sampai sekarang kamu masih mendiamkanku dan seolah tidak menganggapku ada?”


“El, aku minta maaf jika selama ini sikapku kadang terlalu dingin atau mengabaikanmu, tapi percayalah aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu.”

__ADS_1


"Ya sudah, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang habiskan dulu makananmu, Sayang!"


__ADS_2