Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Kegelisahan Elvino


__ADS_3

Padahal, dahulu sebelum menikah Celia yang Elvino kenal adalah gadis yang baik, pintar, dan lemah lembut. Namun, setelah menikah lambat laun tingkah Celia semakin terlihat. Dia mulai sering ke club, berfoya-foya dan mabuk-mabukkan dengan teman sosialitanya. 


Awalnya Elvino pikir, Celia seperti itu karena dirinya yang kurang perhatian. Tapi, ternyata kebiasaan tersebut sudah Celia lakukan bahkan sebelum bertemu dan menikah dengan Elvino. Kendati demikian, Elvino tetap menerima Celia dan terus bersabar karena dia pikir Celia akan berubah perlahan seiring berjalannya waktu. Namun, ternyata harapan semu belaka, karena bukan berubah ke arah yang lebih baik, Celia justru semakin menjadi dan semakin berani melawan Elvino.


Ada rasa sesal di hati Elvino, karena sebagai suami dia gagal membimbing istrinya. Tapi memang sekeras apa pun usahanya untuk mengubah Celia menjadi lebih baik, itu tidak akan berhasil jika Celia sendiri enggan mendengarkan nasihat dari Elvino. 


Selama setahun pernikahan mereka, Celia tidak pernah melayani Elvino layaknya istri di luaran sana. Dia tidak pernah memasak, menyiapkan baju, bahkan sekedar membuatkan kopi pun tak pernah Celia lakukan. 


Bagaimana tidak, malam ketika Elvino pulang Celia sudah tak di rumah karena asyik shopping dan clubbing. Paginya, ketika dia hendak berangkat kerja, wanita itu masih tertidur pulas.

__ADS_1


Beruntung mereka punya asisten rumah tangga yang datang pagi-pagi sekali dan pulang ketika sore hari. Jadi, Elvino tidak pernah kelaparan sebab, asisten rumah tangganya selalu memasak untuknya. Rumah pun tetap tertata rapi olehnya.


Jam sudah menunjukkan tengah malam, tapi rasa kantuk seolah enggan menghampiri Elvino. Berkali-kali ganti posisi tidur tapi tetap saja merasa gelisah. Dia khawatir dengan Celia. Meskipun Celia keras kepala, bagaimana pun dia adalah istri dan juga cinta pertamanya. 


Suka atau tidak dia memang harus menerimanya, meskipun sebenarnya dia mulai lelah. Namun, sebisa mungkin dia ingin rumah tangganya bisa berjalan normal. Dia akan berusaha untuk itu. 


Berkali-kali dia melakukan hal yang sama, tapi sayang tak ada satu pun panggilan yang di angkat. Hanya respons dari suara operatorlah yang terdengar di telinga. 


Elvino menghela napasnya kasar. Dia merenungi dirinya sendiri, mungkin sikapnya yang keterlaluan tadi. Elvino berpikir besok dia akan minta maaf ketika Celia kembali. Akhirnya untuk menghalau kegelisahannya, Elvino meng-schrol ponselnya melihat laporan penjualan hari ini hingga tertidur di sofa.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, dentuman musik dengan lampu warna-warni menghiasi lautan manusia yang asyik berjoget meluapkan segala emosinya. Bau alkohol dan parfum menyengat tercium pekat di indra penciuman. 


Terlihat seorang wanita dengan pakaian kurang bahan, tengah duduk di depan meja bar sambil menyesap sedikit demi sedikit wine ke tenggorokannya. Rasa pusing mulai menyeruak di kepala, tapi tak membuatnya berhenti meminum minuman memabukkan itu.


“Lagi ...” pinta Celia menyodorkan gelasnya ke seorang bar tender.


“Anda sudah mabuk, Nona.” Bartender tersebut sedikit khawatir dengan Celia. Pasalnya jika sudah mabuk jam kerjanya akan bertambah akibat harus menelepon keluarga si pemabuk sebelum club tersebut tutup keesokan pagi. 


“Diam, bedebah! Aku bayar, bukan hutang,” tukas Celia mengambil tangan sang bar tender agar menerima gelas yang dia pakai sedari tadi.

__ADS_1


__ADS_2