
Malam hari mulai terasa sunyi di apartemen, jam menunjukkan pukul dua belas malam. Shena berdiri di bar kitchen sambil menyesap segelas air dingin, pikirannya kalut. Dia menyesal karena sudah menemui Roger tanpa Elvino. Dalam kesendiriannya Shena terus merutuki kebodohannya. Apa yang Melva bilang memang benar, harusnya dia lebih berhati-hati dalam mengambil sikap.
Sementara itu, Celia sudah berhasil mengirimkan video dan beberapa foto ke Elvino. Tawa liciknya tak tertahankan menggema di seluruh ruang. Semua terlihat begitu sempurna di matanya tanpa ada cacat sedikit pun, apa yang dia harapkan akan menjadi kenyataan—perceraian Elvino dan Shena adalah tujuan utamanya.
“Apa lagi ini!”
Mata Elvino memanas dan membulat sempurna, dia mencoba menetralkan pikirannya, mengatur napas agar sedikit tenang. Namun gagal, emosinya lagi-lagi tidak bisa terkontrol.
Kemarahan Elvino semakin memuncak tatkala dia membuka pesan yang berisi video sang istri dengan lelaki lain, berpangku tampak mesra dan memeluknya di sebuah kafe. Tanpa mau mengetahui yang sebenarnya, dia langsung membanting ponsel dan menganggap Shena sudah mengkhianatinya habis-habisan.
“Brengsekk!” teriak Elvino yang tiada habisnya mengucap umpatan.
Tidak mau lagi memikirkan hal tersebut, Elvino mencoba mengalihkan pikirannya. Dia berjalan ke tempat servis mobil, dia menyalakan lampu terang utama dan mulai bekerja hingga tak kenal waktu, padahal jam sudah dini hari. Tak ada satu pun pekerja yang masih ada di bengkel, kecuali satpam yang memang berjaga setiap saat.
*
Di tempat lain, pagi hari Shena mulai mengerjapkan mata dan menyingkap selimut tebal yang melilit di tubuhnya. Rasa kantuk yang luar biasa masih ia rasakan karena semalam dia tidak bisa tidur. Hatinya gundah, ia terus gelisah memikirkan suaminya, Shena kembali mencoba menghubungi Elvino, tetapi nomornya tidak aktif.
Dia lalu bergegas membersihkan diri dan langsung menuju butik untuk menjemput Melva, dia mengajak sahabatnya itu ke bengkel untuk menemui sang suami.
Sesampainya di bengkel, keduanya berjalan beriringan, suasananya tegang tak seperti biasa, bahkan untuk menyapa Samuel pun Shena merasa canggung karena dia sedikit tahu keributan kemarin.
“Shen, aku tunggu sini aja, ya, ucap Melva seraya mendudukkan bokongnya dii kursi panjang tempat tunggu pelanggan.
“Mel, kamu ikut masuk aja, ya. Bantu aku jelasin ke Elvino soal Roger.”
__ADS_1
“Yee, masa aku ikut-ikutan masalah rumah tangga kamu sih. Nggak enak dong. Udahlah cepetan masuk dan temui Elvino, jelasin semuanya.”
“Mau apa datang kemari?” tanya Elvino dengan nada sinis saat melihat Shena masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu.
“Kenapa nomor kamu nggak aktif? Kamu sengaja menghindariku?” sahut Shena.
“Lebih tepatnya karena malas. Buat apa gunain HP kalau isinya cuma memperlihatkan kamu dengan selingkuhanmu itu, muak!” tutur Elvino seraya meletakkan tumpukan buku setengah membanting.
“Mau sampai kapan kamu berhenti menuduhku sih, El!” teriak Shena.
“Sampai kamu mengaku, atau setidaknya memberiku bukti kuat.”
“NGAKU? Kamu menyuruhku buat mengakui hal yang tidak pernah aku lakukan, nggak masuk akal!” cibir Shena membuang muka.
“El, kamu apa-apan sih!”
Shena semakin tak paham apa maksud perkataan Elvino, tetapi hatinya juga sangat sakit ketika mendengarnya. Kata demi kata terlontar begitu saja tanpa aba-aba dan tanpa filter sehingga Shena menahan sesak di dada yang begitu mendalam menyayat relung hati terdalam.
“Kamu yang apa-apaan, bisa-bisanya kamu bermain api, apa kamu lupa aku masih hidup? Atau kamu menganggapku sudah mati, sampai-sampai kamu bebas berhubungan dengan pria lain!”
“Cukup, El! Kamu pikir aku wanita apa, hah? Aku masih punya otak, aku juga masih punya perasaan. Jadi kamu jangan seenaknya nuduh aku sembarangan, aku juga bisa sakit hati, El,” ucap Shena. “Sakit banget di sini!” Shena menepuk kasar dadanya sembari terisak meluapkan tangis bersamaan dengan emosinya.
Elvino mengambil ponsel, menyalakannya dan menunjukkan video tersebut pada Shena. Wanita itu membekap mulutnya tak percaya.
“Kenapa? Kaget?” tanya Elvino berpura-pura santai.
__ADS_1
“Semalam aku memang menemuinya untuk mencari bukti, dan itu ... kejadian itu hanya kebetulan. Aku tidak sengaja terja—“
“Cukup, tidak perlu dijelaskan! Mengaku lebih baik. Aku akan memaafkanmu. Tapi, aku akan mempertimbangkan rumah tangga kita ke depannya.”
“El, mau berapa kali pun kamu menyuruhku mengaku, aku tidak akan melakukannya karena apa yang kamu tuduhkan sama sekali nggak benar. Aku nggak habis pikir, suami macam apa kamu bisa seenaknya menuduh istri sendiri, bahkan dalam hati kecil kamu sekali pun kamu nggak pernah memercayai ucapanku, kamu tidak pernah mempertimbangkan ucapanku atau bahkan mencari tau yang sebenarnya, El. Kamu tidak pernah memberiku kesempatan. Sekarang terserah kamu mau apa, aku udah capek. Aku nggak akan ganggu kamu lagi dan aku juga nggak akan menginjakkan kaki di sini maupun apartemen, puas!” ucap Shena dengan napas yang memburu penuh amarah.
“Pergilah, kamu pikir aku akan menghentikanmu!” teriak Elvino menatap punggung Shena yang mulai menghilang dari pandangannya.
Wanita itu berjalan tergesa-gesa dengan seribu langkah karena tidak kuat berada terlalu lama di sana. Tujuannya bertemu dengan Elvino untuk memperbaiki hubungan dan membicarakan semuanya, tetapi semua yang diharapkan sirna dan tiada gunanya. hanya ada amarah dan emosi di antara mereka.
“Mel, ayo kita pergi!” ajak Shena pada Melva yang tengah duduk di ruang tunggu sambil memainkan ponselnya.
“Loh, udah? Gimana?”
“Udah nggak usah banyak tanya.” Shena menghapus pipinya yang mulai basah akan air mata. Dia mencoba setegar mungkin menerima perlakuan Elvino beberapa saat yang lalu, sungguh hal yang menyakitkan bagi Shena jika dia dituduh melakukan sesuatu yang menjijikkan, padahal dia tak melakukan hal hina tersebut, terlintas di pikirannya pun tidak pernah.
Melva mengekor di belakang Shena penuh tanda tanya, rasa penasarannya ia tahan sampai nanti hingga Shena bercerita sendiri. Gejolak hatinya memang sedang tidak baik-baik saja.
Kepergian Shena dari bengkel membuat Elvino termenung. Dia diam dalam lamunnya, memikirkan segalanya yang sudah terjadi. Bergelut antara rasa bimbang, rasa bersalah, hingga rasa cemburu yang membabi buta. Entah bagaimana harus menyikapinya.
“Apa aku salah? Apa aku sudah keterlaluan? Seharusnya aku memang mencari tahunya terlebih dahulu tanpa menyudutkannya. Tapi, jika dilihat, foto dan video itu benar adanya. Itu benar-benar Shena. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang, kebahagiaan rumah tangga yang baru saja aku rasakan kini sudah berubah menjadi bencana. Apa ini akan terulang kedua kalinya?” Elvino memukul dinding beberapa kali hingga tangannya terluka—mencoba melampiaskan semuanya.
Sementara itu, Shena menaiki mobil yang dikendarai oleh Melva. Mereka menuju salah satu restoran terdekat.
“Makan dulu ya, sedih juga butuh energi, Sist! Dah jangan berlarut-larut gitu ah nangisnya, jelek tau! Lihat mata kamu udah kaya disengat tawon tuh!” ucap Melva menenangkan Shena sambil memarkirkan mobil tersebut.
__ADS_1