
Sesampainya di bandara ibukota, keduanya dijemput sopir suruhan John untuk mengantarkan anak dan menantunya ke tempat yang mereka ingin singgahi pertama kali.
Cuaca yang cerah begitu pas bagi sepasang suami istri untuk menikmati honeymoon mereka di Paris, kota yang mendapat julukan kota romantis menjadi salah satu tempat favorit bagi pasangan yang baru menikah.
Sama halnya seperti dengan Shena, dia begitu senang ketika sang suami mengabulkan keinginannya untuk pergi bulan madu ke kota yang dia impikan. Di kota tersebut mereka akan mengukir sejuta kenangan manis dalam sejarah pernikahan mereka.
Shena pun terus mengembangkan senyumannya ketika Elvino mengajaknya untuk berkeliling di kota tersebut, mulai dari Champs Elysees yang menjadi jalan utama terletak di antara Arc de Triomphe dan Museum Louvre, karena sepanjang perjalanan mereka dimanjakan oleh bangunan yang memiliki ornamen arsitektur unik dan cantik.
Tidak hanya itu, terdapat pula pusat perbelanjaan, taman hingga hiburan. Sehingga sebelum Shena dan Elvino berfoto riah pada Arc De Triomphe dan Museum Louvre, Elvino mengajak Shena untuk berbelanja sepuasnya terlebih dahulu.
"Sayang, gimana?" tanya Shena yang memperlihatkan baju yang dia pakai.
Elvino yang menunggu di sofa empuk menggelengkan kepalanya, saat melihat baju yang begitu mencolok. Ekor matanya pun melihat wanita it memajukan bibirnya dan kembali masuk ke dalam, sampai terus berulang kali barulah Elvino menganggukkan kepalanya.
Puas berbelanja pakaian, mereka pun pergi ke toko tas dan jam tangan. Mereka memasuki toko dengan merek terkenal dengan lambang LV, tidak tanggung-tanggung Elvino juga membelikan untuk mertua dan ibu tercinta.
"Sayang, aku mau cobain itu!" Tunjuk Shena saat mereka baru saja keluar dari dalam toko tas dan melihat ke arah toko roti yang terkenal.
"Ok, baik Tuan Putri!" Elvino tersenyum lalu mengajak Shena untuk masuk ke dalam toko, di sana mereka duduk salah satu meja kosong usai mendapatkan sambutan hangat dari pelayan toko. "Kamu mau pesan apa?"
"Hhmm ... apa ya, enak-enak semua sepertinya," ucap Shena yang nampak bingung harus memilih yang mana. "Ah, ini aja deh, BBQ Chicken multigrain sw satu, beef bacon roll satu, Ceaser rendang croissant satu, mini fresh cream chess cake satu, kalau minumannya samain aja sama kamu."
Elvino langsung tercengang dengan pesanan Shena, dia terkejut karena bukan apa yang di pesan terlalu banyak, melainkan tidak menyangka Shena masih sanggup untuk memakan semua pesanannya walaupun sebelum berangkat dia sudah makan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kamu yakin, Sayang?" tanya Elvino yang hanya mendapatkan anggukan serta senyum manis sang istri, membuat Elvino pun luluh dan tersenyum. Elvino pun berbicara pada pelayan menggunakan bahasa Inggris yang umum untuk berinteraksi.
Selang beberapa menit pesanan mereka pun sudah dihidangkan di atas meja, Shena menyambut semua makanan penuh dengan semangat. Sampai Ekvino pun terkekeh dibuatnya.
"Hmmm ...." Shena mengunyah begitu menghayati saat makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya usai membaca doa. "Hhhmmm!"
"Enak?" tanya Elvino saat melihat raut wajah Shena yang begitu senang, dia pun mencicipi apa yang dimakan oleh sang istri. "Hmmm, daging rendangnya berasa banget ya Yank, perpaduan yang unik!"
Keduanya menikmati sampai tak tersisa, puas menyantap hidangan yang mereka pesan kini Elvino dan Shena melanjutkan perjalanan menuju tempat yang akan mereka kunjungi.
Tentu saja Elvino sudah menyiapkan mobil mewah untuk berkeliling kota Paris agar sang istri tidak terlalu capek, dia pun membukakan pintu agar wanita yang dia cintai masuk ke dalam dan duduk manis di sampingnya.
"Ok, sekarang kita let's gooo!" ucap Elvino yang menancapkan pedal gas pada mobilnya.
Di sana mereka melihat-lihat patung dan bertujuan untuk melihat lukisan Monalisa, sangking padat merayap untuk bisa sampai di titik di mana Shena bisa melihat dengan jelas.
Setelah puas Shena pun meminta kepada tour guide-nya untuk memfotokan dirinya dan Elvino dengan angle yang pas dengan foto Monalisa sebagai kenang-kenangan. Tak lupa, ia mengunggah di insta story miliknya dengan emotikon love.
Hanya butuh beberapa detik foto-fotonya dibanjiri komentar dan like beruntun dari folowersnya. Senyum semringah tampak tercetak jelas di wajah cantik Shena hingga membuat Elvino penasaran dan mengintip ponsel yang sedang Shena pegang.
"Senyum boleh, tapi kenapa ponselnya malah mengalihkan kamu dariku, hem? Apa perlu ku sita agar perhatianmu hanya padaku, Sayang?" tanya Elvino dengan nada tak suka.
"He … he … maaf , Sayang. Ini udah kok. Kita pulang yuk, Yang. Aku capek jalan. Kakiku deh kayaknya, agak sakit."
__ADS_1
"Baiklah. Sini!" Elvino mendadak jongkok dan mengajak Shena untuk naik ke atas punggungnya.
"Are you sure, Mr. Elvino?"
"Iam sure, Mrs. Shena."
Shena pun dengan canggung menaiki punggung tegap Elvino. Apalagi banyak tatapan orang tertuju pada mereka. Sedangkan, Elvino sendiri mengumpat dalam hati karena bola kenyal Shena menekannya membuat libido pria itu tiba-tiba meninggi.
"Setelah ini servisnya jangan lupa," ucap Elvino penuh arti.
Shena pun tersenyum sambil merangkul pundak Elvino. Sesekali meniupkan udara ke telinga Elvino menggodanya.
"Sayang hentikan. Jangan buat adik kecil memberontak di tengah keramaian."
Shena cekikikan mendapatkan respon Elvino saat ini. Ia kembali tenang dan menikmati pemandangan bersama Elvino.
Sampai pada parkiran, Elvino menurunkan Shena dan membukakan pintu untuk sang istri. Setelah Shena masuk, Elvino bergerak mengikutinya. Mpbil yang mereka tumpangi pun melesat membelah jalanan menuju hotel tempat mereka menginap.
Malamnya, ritual suami istri kembali terulang tanpa henti. Elvino seolah merasa candu dengan tubuh Shena begitu juga sebaliknya. ******* dan lenguhan terdengar memenuhi ruangan. Dinginnya AC bahkan tak mampu mengalahkan panasnya aktivitas yang mereka lakukan. Mereka saling mendamba dan mencumbu hingga pagi menjelang. Akhirnya mereka tertidur di balik selimut dan saling membelit tanpa busana karena kelelahan.
Alarm di ponsel Shena membangunkan mereka. Elvino dan Shena bersiap untuk pulang setelah memastikan barang bawaan mereka tak ketinggalan. Beruntung mereka menyewa tour guide yang bisa membantu mereka packing. Jadi, mereka tak perlu repot melakukan segala keriwehan perihal barang bawaan dan oleh-oleh yang akan mereka bawa pulang.
Sesampainya di bandara, Elvino langsung menghubungi resepsionis untuk pengecekan paspor dan administrasi lainnya. Selanjutnya mereka menunggu di pesawat hingga pesawat tersebut lepas landas ke negara tujuan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka tertidur karena kelelahan dengan aktivitas bergumul ria semalam.