
Kedua kalinya Shena dirias sebagai pengantin. Namun, kali ini dia sangat bahagia, berbeda pada saat itu, ketika dia harus terpaksa menikah dengan Lucky yang pada akhirnya gagal dan digantikan oleh Elvino.
Beberapa jam kemudian, Shena selesai di make up. Malam ini, dialah sang putri malam yang siap dijemput oleh pangerannya. Gaun yang begitu indah ia kenakan, gelungan rambut ke atas serta mahkota menghias di kepalanya. Kedua orang tuanya sudah berada di depan, kini Shena berada di kamar dengan beberapa sahabatnya sebagai bridemaids.
Perlahan, langkah kaki Shena mengayun dengan indahnya, gaun putih yang menjuntai ke karpet pun ikut mengiringi irama kakinya.
Para tamu undangan pun sudah rapi dan duduk di masing-masing kursi yang sudah ditentukan. Pesta mewah yang diadakan Bagaskara cukup membuat para koleganya takjub.
Acara sudah dimulai, kini Elvino memasuki ballroom hotel dengan setelan jas hitam yang memukau diiringi para sahabat yang berada di belakangnya. Ketampanannya mampu menghipnotis para wanita di sekitarnya. Jika dibilang Shena beruntung mendapatkan Elvino, itu memang tidak salah. Akan tetapi, Elvino pun juga sangat beruntung mendapatkan Shena. Keduanya memang memiliki chemistry yang sangat cocok. Sepasang suami istri memang sangat sempurna, banyak mata yang memandang iri erhadap keduanya.
Degup jantung Shena terasa sangat kencang, napasnya terasa sesak menahan haru. Buliran hangat tak bisa dibendung lagi, air mata itu jatuh begitu saja tanpa permisi saat dirinya berjalan menemui mempelai pria. Tatapan kedua pasang mata saling beradu penuh makna. Ada desiran hebat yang mengalir dalam diri Shena. Gugup, bahagia, serta haru, menyelimuti hatinya.
Pernikahan yang selama ini ia impikan, akhirnya bisa terwujud. Shena menikah dengan sosok lelaki yang sangat dicintainya. Meski status sebenarnya sudah menjadi istri Elvino, tetapi pernikahan sebelumnya hanyalah sebuah keterpaksaan tanpa rencana.
Elvino membawa hand bouqet di tangannya untuk menyambut sang istri, pertemuan antara keduanya di tengah-tengah ballroom tentu saja menjadi pusat perhatian tamu. Dalam beberapa detik, manik mata mereka saling terkunci, keduanya membeku, dia tanpa kata. Bukan hanya Shena saja yang hampir tak dapat menahan jatuhnya buliran hangat. Namun, Elvino pun juga sangat terharu melihat wanita yang dicintainya berdiri di depannya.
Elvino menatap Shena tanpa kedip, ia lalu meraih tangan Shena dan memberikan bunga tersebut kepadanya. Dengan senang hati Shena menerima, bersamaan dengan jatuhnya air mata dari manik cokelat itu. Iringan musik yang menggema lembut menambah suasana romantis tatkala kedua pengantin itu dipertemukan. Elvino memegang mic dan mulai berbicara disaksikan tamu undangan.
“Sayang, malam ini izinkan aku untuk berikrar dengan kesungguhan dan ketulusan hati. Kamu, adalah satu-satunya orang yang akan menjadi pendamping hidupku. Kita akan bersama selamanya hingga maut memisahkan. Tak peduli seberapa banyak nantinya aku mengucap kata cinta, tapi percayalah sedikit pun aku tidak pernah membohongimu. Dan tidak akan pernah.”
Shena menyeka bulir air mata yang mulai jatuh menggaris wajah cantiknya dan mulai terisak. Namun, ia berusaha menjawab ungkapan hati Elvino menggunakan mic yang disediakan.
“Terima kasiih, aku akan berusaha menjadi istri yang baik dalam suka dan duka. Dalam sakit ataupun sehat. Terima kasih telah memilihku. Aku berdoa semoga ini adalah pernikahan pertama dan terakhir untukku."
Tepukan tangan membuat suasana riuh rendah di ballroom hotel tersebut. Semuanya ikut merasakan keharuan yang mendalam melihat kemesraan dari kedua sejoli tersebut.
__ADS_1
Setelah itu, tangan keduanya saling menggenggam erat tanpa kata, hanya mata yang bersitatap mampu mewakilkan rasa cinta yang begitu besar di antara mereka. Shena semakin terisak, Elvino pun mengusap lembut air mata di pipi Shena. Perlahan, Elvino mendekat dan mencium kening Shena , juga kedua pipi wanita itu. Shena pun tersenyum malu-malu saat suara sorakan para tamu semakin terdengar riuh di telinga.
“Cium! Cium! Cium!”
Begitulah suara yang mendorong keduanya untuk semakin mendekatkan wajah dan bibirnya dengan tempo perlahan. Hingga akhirnya kedua bibir mereka saling menempel satu sama lain. Mata mereka terpejam menikmati cecapan pelan yang tercipta penuh dengan cinta.
Suara sorak-sorai semakin menambah meriah dan bahagia untuk sepasang pengantin yang telah sah di mata agama dan negara itu. Elvino melepaskan tautan bibir mereka lalu menempelkan keningnya dengan kening Shena.
"I love you, Shen." Sekali lagi Elvino mengungkapkan perasaannya yang begitu membuncah menyeruak dalam dada.
"I love you too, El." Shena menjawab lalu tersenyum semringah.
"Baiklah, tiba saatnya yang ditunggu-tungu oleh kita semua. Puncak acara sebelum sesi foto dilaksanakan adalah melempar bouket bunga. Silakan kepada para jomblowan-jomblowati yang budiman. Silakan merapatkan barisan. Mari kita ramaikan acara lempar bunga pasangan Elvino dan Shena. Pengantin siap?" tanya MC dengan lantang.
Tanpa di sangka, yang berhasil mendapatkan lemparan tersebut adalah Samuel dan Melva. Mereka saling melempar pandangan penuh arti saat tangan keduanya saling berpegangan pada bunga yang sama. Namun, itu tak berlangsung lama karena detik berikutnya, Samuel mengempaskan cekalan tangannya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Cieeeee …." Sorakan dari para undangan menggoda aksi Melva dan Samuel membuat keduanya salah tingkah dibuatnya.
Usai acara lempar bouket bunga, akhirnya sesi terakhir yaitu berfoto. Para kerabat dan saudara mengantri untuk mengucapkan selamat dan mengambil gambar dengan pasangan raja dan ratu sehari tersebut.
Elvino dan Shena tak henti melengkungkan bibir mereka karena sangat bahagia begitu juga dengan para orang tua.
"Selamat ya, Shen. Bentar lagi pecah telor dah," goda Melva.
"Makasih ya, Mel. Kayaknya kamu juga bentar lagi pecah telor deh."
__ADS_1
"Aamiin," ucap Melva lalu keduanya berpelukan.
"Jagain sahabat sekaligus sepupu aku, El. Jangan pernah sakitin Shena atau burungmu ku potong sembilan," ancam Melva dengan penuh penekanan sambil menyalami Elvino.
"Siap." Elvino menjawab dengan mantap.
"Selamat, Buu Bos. Aku seneng akhir dia bisa tidak kaku setelah kenal kamu," ucap Samuel lalu melirik sekilas ke arah Elvino yang tengah menatap tajam ke arahnya. Ia mengulurkan tangan kepada Shena. Namun, justru Elvino yang menyambutnya dengan mata mendelik tajam.
"Astaga, belom apa-apa udah posesif. Salaman doang nggak boleh. Dasar bucin akut," cibir Sam.
Shena terkekeh, "Nanti kamu juga gitu ke Melva."
"Kenapa aku?" tanya Melva dengan suara meninggi di ujung panggung menunggu giliran berfoto.
Samuel mengalihkan pandangannya ke arah Melva.
"Nggak usah ge-er, Anda!" sarkas Samuel.
"Wah, ngajak ribut kamu ya?" sengit Melva.
"Nah, loh kalian mulai deh. Emang jodoh tuh gitu ya," ucap Shena jengah.
"Tau nih." Elvino ikut menimpali.
"Nggak!" teriak Samuel dan Melva bersamaan.
__ADS_1