Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Bukti Akurat


__ADS_3

Sesuai dengan rencana, keesokan harinya Samuel dan Melva janjian lagi di Red Cafe untuk menanyakan perihal CCTV. Mereka sengaja datang pagi-pagi sekali saat Cafe sedang sepi pengunjung. Hal itu dilakukan agar mereka lebih leluasa bertanya-tanya.


"Permisi, boleh saya bertemu dengan manager cafe ini?" tanya Samuel kepada seorang kasir wanita berusia kurang lebih sama dengan Melva.


"Oh … ada apa ya, Mas?" Kasir itu mengerutkan dahi.


"Saya ada perlu yang sangat penting. Ini menyangkut masa depan. Tolong panggilkan, Mbak."


"Maaf saya sedang sibuk, Mas." Kasir itu seolah menolak untuk memanggilkan manager mereka.


"Mbak, kita cuma butuh waktu sebentar kok. Penting banget ini," timpal Melva.


"Ini Mbak, buat jajan. Sekarang bisa minta tolong panggilkan?" tanya Samuel sambil menyodorkan beberapa uang lembaran seratus ribuan kepada kasir tersebut. Senyum pun akhirnya mengembang di bibir petugas kasir.


"Sebentar ya, Mas. Saya panggilkan," ucapnya lalu pergi bergegas memanggil si manager.


"Dasar mata duitan, genit pula?" gerutu Melva.


Tak butuh waktu lama, petugas kasir tadi keluar dari sebuah ruangan dan berjalan beriringan dengan seorang pria paruh baya buncit, tetapi berpakaian rapi.


"Halo Mas Sam, sudah lama nunggu? Duh … kirain siapa yang ngajak ketemu rupanya Mas Samuel tho? Harusnya kamu segera memanggilku tadi, Sri." Manager tersebut tersenyum ramah lalu menyalami Samuel.


Dahi Melva seketika langsung berkerut bingung. Pasalnya, jika sang manager seramah dan seakrab tadi. Itu berarti …


"Sam! Maksudnya apa ini? Kamu kenal sama manager ini?" tanya Melva penuh dengan selidik.


"Kenapa Mbak? Mas Samuel ini kan anaknya pemilik cafe. Jadi, sudah sepantasnya saya kenal dan Mas Sam kenal saya," timpal si manager.


"Sa … mueelll!" Melva menggeram. Ia berkacak pinggang dan melotot ke arah pria di sampingnya itu. "Kenapa nggak dari kemaren aja kamu bilang? Astaga, ya Tuhan tolong berikanku kesabaran menghadapi pria menyebalkan macam lelaki di sebelahku ini."


"Ja-jadi, Anda anak pemilik cafe ini? Aduh, maaf sikap saya barusan, Mas. Ini saya kembalikan uangnya," ucap petugas kasir.


"Saya tidak akan mengambil lagi apa yang sudah saya kasih. Tapi, besok tidak perlu berangkat lagi, Mbak." Samuel menatap tajam ke arah petugas kasir yang gemetar.

__ADS_1


"Maafkan saya, Mas."


"Pergilah," ucap Samuel.


Sang manager pun segera menyeret petugas kasir tersebut pergi.


"Sam, kamu ini benar-benar, ya? Minta di pukul asli," tandas Melva dengan wajah kesal.


Samuel hanya menatap Melva datar tanpa rasa salah. Dalam hatinya justru merasa gemas terhadap sikap Melva yang tampak galak. Ia jadi teringat dengan salah satu tokoh kartun si botak kembar. Kakaknya yang berperan galak sangat persis seperti sosok Melva saat ini.


"Sumpah ya, kamu cowok terngeselin yang pernah ada tau nggak Sam!"


"Dan aku tidak peduli," tukas Samuel.


"Ya sudah cepat suruh managermu ini buka akses CCTV. Haish bodoh banget apa lola si kamu tuh!" gerutu Melva dengan bibir mengerucut.


Bayangan Samuel jadi teringat pada saat pertama kali menyentuh benda kenyal berwarna merona itu.


"Aw! Gila kamu, Mel!"


"Lagian kamu sih? Aku ngomong berasa kayak sama patung liberty yang kalau diajak ngomong diem aja."


"Sialan aku dianggap patung liberty dong! Aish!" Keluh Samuel. "Pak, minta tolong buka akses CCTV dan perlihatkan saya rekaman tiga hari yang lalu. Saya minta secepatnya. Saya tunggu di tempat duduk paling ujung."


"Baik, Mas." Si manager pun melenggang pergi melakukan tugasnya.


Usai mendapatkan yang mereka butuhkan, Melva pergi tanpa pamit. Ia masih sangat kesal dengan Samuel yang mempermainkan dirinya. Seandainya dia tahu kalau restoran ini milik mamanya Sam, dia nggak perlu repot-repot ketemu anaknya. Mending pergi sendiri dan minta langsung ke mama Samuel malah cepet kelar beres.


Sepanjang mengendarai mobil, Melva terus-menerus menggerutu dan mengumpat. Ia masih heran kenapa ia harus terus berurusan dengan Samuel sejak pertama ketemu. Seolah di dunia ini hanya dia pria yang satu-satunya.


Ia menghela napasnya, sepintas ia kepikiran lagi dengan nasib rumah tangga Shena. Semoga, usahanya akan membuahkan hasil. Ia tidak rela jika pernikahan mereka harus kandas di tengah jalan hanya karena si mantan ulat keket yang kurang ajar.


Sesampainya di butik, Melva merebahkan dirinya di sofa. Ia melempar tasnya asal. Rasanya melelahkan harus menyetir sendirian bolak-balik. Ia sedang berpikir seandainya saja Melva punya kekasih atau sugar Daddy macam Chen EXO pasti hidupnya akan terjamin, kemana-mana ada yang nganterin, ATM subur dan juga bisa traveling tanpa mikir budget. Aaah indahnya bayangan Melva.

__ADS_1


"Mel, kamu kenapa?" tanya Shena yang sedang turun menapaki tangga.


"Nggak papa sih, tadi habis ketemu sama cowok resek terus nyetir sendiri. Capek," ujar Melva.


"Ya udah istirahat gih, butik hari ini tutup cepet aja. Aku mau nonton aja."


"Astaga Shen, berhenti nonton dan begadang. Kamu nggak lihat matamu udah menghitam kayak panda gitu?"


"Bodoamatlah. Toh mau cantik juga nggak bakalan bikin Elvino berhenti salah faham," tukas Shena. Wajahnya berubah menjadi kembali sendu mengingat masalahnya dengan sang suami belum juga menemukan titik terang.


"Oh ya ngomongin Elvino, dia katanya lagi sakit. Samuel yang bilang. Kamu nggak coba buat rawat dia gitu? Kamu kan istrinya, Shen." Melva sengaja mengompori Shena.


"Entahlah, Mel. Lihat nanti. Kunci mobil mana?" tanya Shena mengalihkan pembicaraan.


Melva memungut tas yang ia lempar ke lantai tadi, lalu merogohnya. Ia mengambil kunci mobil milik Shena yang dipinjam sejak kemarin.


"Mau kemana emang?" tanya Melva penasaran sambil menyerahkan kunci tersebut.


"Mau nyari udara segar. Jenuh juga di dalam ruangan," tukas Shena.


Perempuan itu keluar dari butik dan mengendarai mobilnya. Ia tak tahu tujuannya ke mana kali ini. Shena melajukan kendaraan tersebut tak tentu arah. Namun, tanpa sadar mobilnya malah ia arahkan ke bengkel Elvino.


Meskipun, sebenarnya ia masih sakit hati dengan perlakuan dan sikap Elvino kepadanya. Namun, rasa khawatirnya mengalahkan segalanya. Ia terlebih dahulu membelikan bubur kemudian melanjutkan perjalannya ke tempat Elvino berada.


Sesampainya di sana, Elvino disambut baik oleh para karyawan. Ia berjalan ke ruangan Elvino dan mengetuk pintu. Setelah mendapatkan jawaban dari dalam, Shena melenggang masuk dan mendapati Elvino sedang meringkuk di dalam selimut.


Dahi Shena berkerut kemudian langsung menempelkan tangan ke dahi sang suami.


"Astaga, ini demam." Shena memekik dan langsung menjauhkan tangannya karena panas.


Elvino membuka matanya dan terkejut karena melihat Shena berkunjung. Wajahnya langsung berubah menjadi kusut lalu bergerak membelakangi Shena.


"Kamu ngapain ke sini? Masih inget sama suami? Ku kira asyik sendiri sama selingkuhan kamu itu?" cibir Elvino.

__ADS_1


__ADS_2