Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Ternyata Penculiknya Dia


__ADS_3

Dua puluh menit telah berlalu, mobil melesat di sebuah restoran mewah. Di mana ada seseorang yang sudah menunggu Shena di sana. Kehadiran Shena sudah sangat diharapkan, sejak tadi dia sabar menunggu wanita yang benar-benar berhasil membuat dirinya tergila-gila. Membayangkan kecantikan dan keindahan tubuh Shena, membuatnya tak sabar ingin memiliki wanita tersebut. 


Shena turun dan dibiarkan berjalan seorang diri. Namun, dua orang lelaki berada di belakang mengawasinya. 


“Silakan masuk, Nona!” perintah salah satu lelaki, tangannya membukakan pintu kaca yang akan memasuki restoran tersebut—restoran yang berkonsep seperti hotel bintang lima. 


Kaki jenjang Shena pun memasuki area restoran yang ramai pengunjung tersebut. Namun, dirinya masih diperintahkan untuk berjalan menuju sebuah ruangan VVIP, bisa dikatakan ruangan privasi.


Shena tak menjawab, dia hanya menurut perintah lelaki tersebut, di sisi lain dia sangat penasaran dengan siapa dirinya akan bertemu—seseorang yang sudah berani menculiknya. 


“Tuan ada di dalam, Nona. Silakan masuk!” Kedua pria itu sedikit lega setelah berhasil membawa wanita yang diinginkan bosnya. Shena memasuki ruangan tersebut dengan kedua lelaki yang masih memegangi tangan kanan dan kirinya, mencegah agar tidak kabur. Tak dapat dipungkiri, dia memang sudah tidak sabar untuk menemui orang di dalam sana.


Ada rasa takut dan gelisah saat dirinya mulai menutup pintu, tetapi keberaniannya lebih besar untuk menghadapi lelaki di depannya karena rasa penasaran.

__ADS_1


“Siapa kamu?” tanya Shena menatap punggung lelaki yang memakai kemeja hitam. 


Mendengar suara Shena, sosok tersebut beranjak dari duduknya kemudian membalikkan badannya menghadap Shena. Sehingga keduanya kini saling bertatap muka.


“Kamu! Cih!” Shena berdecih lalu menyeringai meremehkan dan berusaha melepaskan diri dari cekalan dua pria di sampingnya. “Lepasin! Kalian gila tahu nggak sih? Saya bisa laporin kalian ke polisi atas tuduhan penculikan,” ancam Shena.


“Sudah cukup. Kalian boleh pergi dari sini!” 


Shena menoleh ke arah sumber suara, seketika jemarinya mengepal erat melihat pria yang sangat ia hindari. Roger, si pria berengsek yang sangat ia benci.


“Berhenti di situ!” Pekik Shena. 


Hal itu berhasil menghentikan langkah Roger.

__ADS_1


“Oke baiklah,” ucap Roger mengangkat kedua tangannya ke atas seolah kode menyerah. “Santai, Baby. Aku hanya paling benci penolakan. Jika tidak dengan cara ini, kamu tidak akan mau bertemu, meskipun hanya sekedar makan denganku. Aku hanya rindu. Makan bersamaku tidak akan merugikanmu, Honey. Duduklah, atau aku akan memaksamu untuk memuaskanku!” ancam Roger yang mau tidak mau, Shena menyetujuinya. 


“Jangan pernah memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu! Aku tidak suka. Apa Anda lupa, kita sudah berakhir, sampah tetaplah sampah!” Shena sengaja berkata kasar supaya Roger tahu dirinya memang membencinya.


“Ya, baiklah, Tuan Putri. Tenanglah. Aku hanya ingin kamu menemaniku makan. Jangan khawatir,” terang Roger kemudian memanggil para pelayan restoran tersebut. “Pelayan, tolong hidangkan semua makanan termahal dan terenak di sini.”


Shena mencibir jengah dengan Roger yang tidak berubah. Dia masih Roger yang sombong. Dahulu mungkin ketika Roger berkata seperti itu dia akan merasa sangat senang sampai di mabuk cinta. Namun, sekarang berbeda kondisi. Justru Shena merasakan hal sebaliknya. Dia merasa muak setiap mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Roger.


Tak lama kemudian, beberapa pelayan datang membawa berbagai macam hidangan yang sangat lezat lengkap dari hidangan pembuka hingga penutup. Namun, anehnya Shena tidak berselera. Padahal dia adalah pencinta makanan. 


“Selamat makan, Tuan Putri. Aku lupa makanan apa yang kamu suka. Jadi, aku memesan semuanya. Silakan makan. Jangan sungkan.”


Shena hanya berdeham dan tidak berniat membalas perkataan Roger. Mau tidak mau, Shena berusaha menelan makanan yang ada di depannya, meskipun dia sedikit ragu akan hal buruk yang akan menimpanya nanti setelah makanan tersebut berhasil ditelannya.

__ADS_1


“Kau, tidak akan meracuniku, kan?” tanya Shena, nada suaranya terkesan menuduh Roger saat dirinya menyuap satu sendok makanan ke mulutnya.


Bersambung.....


__ADS_2