
“Shen, jika kamu melakukan ini semua hanya untuk membalaskan rasa sakit hati kamu sama El, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan nggak ada gunanya. Kau tahu, waktu itu aku orang pertama yang menentang berat pernikahan kamu sama Lucky. Tapi, percuma juga aku melarangmu, aku bisa apa jika kamu sudah punya keputusan sendiri. Tadi, aku sempat dengar tante menyuruhmu pergi, apa aku bisa membantumu untuk kabur, Shen?” tanya Melva berbisik, mendekatkan bibirnya ke telinga Shena.
Shena mengabaikan ucapan Melva, dia enggan meninggalkan pernikahan yang bahkan sudah hampir dimulai itu, dia tidak mau menjadi anak durhaka papanya. Lelaki paruh baya itu sangat dihormati siapa pun. Shena tidak mau, gara-gara perilakunya yang kabur dari pernikahannya sendiri, akan berakibat fatal dan mencoreng nama baik Bagaskara.
Melva pun memasang wajah putus asa. Dia pasrah dan juga tidak akan memaksa Shena pergi jika dia bersikeras akan tetap menikah saat ini juga.
Sandra melangkahkan kakinya kembali memasuki ruangan Shena, dia berniat memberitahu bahwa penghulu sudah datang dan menempati kursi ijab kabul. Namun, di belakang Sandra ada Bagaskara yang juga menyusulnya.
“Ma, ada sesuatu yang sangat penting,” bisik Bagaskara pada istrinya.
“Ada apa, Pa?” Sandra pun digandeng oleh suaminya menjauh dari ruangan Shena dan membicarakan sesuatu, padahal dia baru saja akan memberitahu Shena.
“Gawat, Ma. Lucky ... kepalaku seperti mau pecah sekarang, bagaimana ini?”
“Hah! Apa yang terjadi sih, Pa?” Sandra tidak paham apa yang mau disampaikan oleh suaminya itu karena tak kunjung memberitahu dirinya.
Bagaskara tidak melanjutkan kata-katanya. Dia tampak frustrasi memikirkan sesuatu yang baru saja dia dengar dari sambungan telepon. Namun, sesaat kemudian, dia menjelaskan pada istrinya apa yang sebenarnya terjadi.
Tak berapa lama, pintu besar gedung tersebut terbuka lebar. Terlihat seorang lelaki dengan penampilan rapi memakai blazer khas pria berwarna hitam, memasuki gedung acara. Dia yang mengira acara sudah mulai, ternyata malah tidak ada sepasang pengantin yang berada di pelaminan mewah itu. Lelaki itu berjalan ke depan, matanya mengitari sekitar, mencari keberadaan seseorang yang dia cari. Tanpa permisi, dia terus melangkahkan kakinya menuju ruang make up pengantin di belakang. Kebetulan, koridor menuju ruang belakang itu tidak ada yang berjaga, sehingga dia bisa leluasa memasukinya.
Lelaki itu berjalan lurus sembari membaca satu persatu tulisan yang tertempel di setiap pintu. Tepat di ruangan yang tertulis ‘pengantin wanita’, lelaki itu lantas memberhentikan langkahnya. Dia mengetuk perlahan pintu tersebut. Tiga kali ketukan, pintu itu terbuka. Memperlihatkan Melva yang membuka pintu tersebut. Sementara Shena yang berdiri di depan cermin, dia langsung membalikkan badannya begitu melihat pria tersebut dari cermin.
“Elvino ....” Shena menatap sendu lelaki itu. Suaranya lirih hampir tak terdengar oleh siapa pun yang ada di sana. Dia sengaja menyembunyikan kesedihan itu.
__ADS_1
"Mau apa datang ke sini, hah?” tanya Melva sinis begitu melihat Elvino berdiri di ambang pintu.
Elvino mengabaikan pertanyaan Melva. Dia menatap pilu wanita cantik itu. “Shena ... izinkan sebentar saja aku bicara. Aku hanya ingin mengucapkan selamat.”
Mau tidak mau, Melva memberinya kesempatan sekaligus memperingatkan. “Ingat ya, jangan membuat ulah apa pun. Apalagi berniat menggagalkan pernikahan Shena!”
Melva masih berdiri di pintu—berjaga— memastikan semuanya akan baik-baik saja, sedangkan Shena hanya berdiri mematung. Bola matanya memerah dan tampak basah. Make up yang berhasil membuat dirinya cari pun bahkan tak mampu menutupi raut kepiluan di hatinya.
“Kamu ... untuk apa datang ke sini?” Shena mulai membuka suara. Elvino mendekat dan tak berkedip menatap wajah ayu yang begitu ia rindukan.
“Aku, aku hanya ingin mengucapkan selamat untuk pernikahanmu. Dan, jika diizinkan, aku juga ingin mengatakan satu kalimat penting, agar setelah ini, aku bisa menjauh dari kehidupanmu.”
Shena terdiam seribu bahasa. Belum juga pikirannya tenang karena memikirkan Lucky yang tak kunjung datang, kini malah ditambah lagi dengan kehadiran Elvino yang entah mau apa.
“Bahagia?” Elvino menunduk dan melanjutkan dengan senyuman tipis, “Aku bisa membacanya dari wajahmu, tidak perlu berbohong, Shena. Tapi apa pun itu, aku tidak akan menghalangi acara kamu, tenang aja.”
Shena tampak mengembuskan napas kasar, entah kenapa hatinya terasa sesak melihat Elvino sedang berdiri di depannya saat ini. Lelaki yang sangat dia cintai tetapi tidak bisa dimiliki. Ditambah lagi, dia harus menikah dengan orang lain. Padahal, mimpinya dulu ingin sekali menikah dengan Elvino, ternyata semua itu hanya angan dan asa.
“Apa yang mau kamu katakan sebenarnya, El? Apa kamu tidak lihat, Shena sudah sangat tertekan dengan kedatanganmu, sebaiknya kamu cepat pergi!” Melva berteriak karena merasa geram dengan Elvino.
Namun, lagi-lagi ucapan Melva tak dianggap, Elvino hanya fokus pada Shena.
“Shena, aku ada sedikit hadiah kecil untuk pernikahanmu.” Elvino mengeluarkan kotak merah berisi kalung berlian dengan simbol infinity love. “Boleh aku pakaikan?”
__ADS_1
Tanpa persetujuan. Elvino berjalan ke belakang Shena yang tengah terpaku tak merespons, dia seperti membeku dan bingung apa yang harus dilakukan saat ini. Di sisi lain, dia memang sangat meriindukan Elvino, tetapi untuk menolak keberadaannya, dia tidak sanggup. Wanita itu memang sedang tidak mengenakan apa pun di lehernya. Pikirnya, kebaya yang dia kenakan memang sudah terlalu banyak manik blink-blink, sehingga akan terlalu rame jika mengenakan perhiasan.
Kalung terpasang di leher putih Shena, lelaki itu kemudian kembali menghadap Shena. “Shen, aku tau kamu sangat marah dan begitu membenciku. Aku sangat memakluminya. Dan kedatanganku di sini ... aku hanya ingin kamu tahu bahwa, aku terluka mendengar kabar ini. Kabar pernikahan kamu, entah kenapa rasanya sangat sakit. Tapi tenang aja, aku akan tetap mendoakan kalian menjadi pasangan yang bahagia dan langgeng. Aku sangat berterima kasih karena selama ini sudah menjadi wanita terbaik yang pernah hadir di hidupku.”
Shena yang mendengar penuturan Elvino, dia tak kuasa menahan air matanya.
“Hei, kenapa menangis? Pengantin tidak boleh menangis, kecuali tangisan bahagia.” Elvino berniat menyeka air mata tersebut, tetapi dengan gerakan cepat, Shena menepis tangan kekar tersebut.
“El, sebaiknya kamu segera pergi. Aku mohon. Jangan ganggu aku lagi!
“Baiklah, aku akan pergi.” Elvino mengalah, dia tidak ingin membuat Shena semakin sedih.
Lelaki itu kemudian meraih tangan Shena dan mencium punggung tangan wanita itu. “Terima kasih, semoga bahagia.”
Elvino gagal mengungkapkan perasaannya, padahal beberapa saat yang lalu saat melihat Shena di hadapannya, dia bertekat ingin mengatakan semua yang dia pendam. Dia ingin jujur, termasuk hubungannya dengan sang istri yang tak membaik. Namun, hal itu dirasa percuma karena Shena seperti tak merespons kehadirannya dengan baik. Toh, jika semua dia ungkapkan, hal itu juga tidak akan mengubah apa pun saat ini. Shena akan tetap menikah dengan lelaki itu.
Elvino lalu berjalan mundur dan perlahan membalikkan badannya menuju arah pintu. Namun, mendadak suara Sandra berteriak memanggil namanya dari belakang—wanita itu tengah berjalan dengan Bagaskara—hendak menemui Shena.
“Elvino!” teriak Sandra.
Bersambung....
Hai readers tersayang, jangan lupa bahagia ya. Oh ya author mau ngingetin nih, jangan lupa tinggalkan jejak komentar ya, biar author makin semangat update nya. Salam sayang dari author buat kalian ❤️
__ADS_1