
“Kamu hebat, El. Terima kasih sudah menjadi penyelamatku malam ini,” ucap Shena lirih seraya mengapit tangan Elvino dengan intim. “Tapi, bagaimana bisa kamu mengaku seorang pemilik dan kuliah di Australia? Itu semua di luar rencana kita, El. Aku sempat kaget saat kamu mengatakannya. Apa jangan-jangan itu adalah kisah hidup bos kamu?”
Elvino hanya tersenyum. “Sama-sama, Shena. Semoga ke depannya kamu tidak merepotkanku lagi,” kata Elvino yang hanya direspons lirikan oleh Shena. “Tidak penting kisah hidup siapa, yang jelas sekarang tugasku sudah selesai, kan?”
“Ya, ya. Selesai. Tapi ... apa kita masih bisa berteman?” Shena terlihat murung ketika mendengar kata selesai dari mulut Elvino.
“Tentu saja. Jika kamu butuh teman, aku siap menemanimu.”
“Terima kasih.” Shena refleks memeluk tubuh Elvino. Namun sedetik kemudian dia lepaskan.
Shena tidak pernah tahu jika semua yang diceritakan Elvano tadi adalah kisah nyata hidupnya. Bahkan, Shena hanya tahu Elvino sebagai montir. Entah sampai kapan Elvino akan menyembunyikan identitasnya. Akan tetapi, dia lebih nyaman mengaku sebagai orang biasa daripada dikenal sebagai pengusaha sukses.
Elvino menatap lekat mata Shena. Ada raut bahagia di sana. Senyumnya tak berhenti mengembang. Entah apa yang dipikirkan oleh Shena saat ini, dia juga begitu senang karena bisa membantu Shena.
Mobil sport merah yang terparkir di halaman pun mulai dikendarai oleh Elvino. Shena menatapnya tak berkedip sambil melambaikan tangan melepas kepergian Elvino.
“Andai saja semua ini memang benar nyata dan kamulah kekasihku, pasti aku akan menjadi wanita paling bahagia sekarang. Sayang semua hanya pura-pura dan tak akan kenal.
Sesampainya di butik, Elvino menghentikan mobilnya. Shena menoleh ke arah pria tersebut seraya tersenyum, kemudian melepaskan seatbelt. Namun sial, ternyata seatbelt-nya entah kenapa menjadi macet.
Shena berusaha menarik ujung seatbelt yang terkunci, tapi tak kunjung berhasil. Lelah mencoba, Shena mengempaskan tubuhnya ke kursi. Ia menghembuskan napasnya kasar sambil anak rambut yang berjatuhan. Elvino sedikit terkekeh melihat kelakuan wanita di sampingnya itu.
Shena yang merasa di tertawakan, menoleh dan menatap tajam Elvino. Pria itu justru melipat bibir, menahan tawanya yang sebentar lagi meledak.
Plak!
Shena yang kesal memukul kencang lengan Elvino hingga pria itu mengaduh karena pedih.
“Aish, bar-bar banget jadi cewek!” Elvino sedikit merintih seraya mengusap-usap lengannya.
“Diem! Salah sendiri tertawa di atas penderitaan orang! Bantuin kek, apa kek!” Shena menggerutu sebal lantas membuang muka ke arah jendela mobil.
Sudut bibir Elvino sedikit tertarik kemudian bergerak mendekati Shena hingga tubuh mereka hanya berjarak beberapa senti. Shena bergeming, napasnya tercekat. Otak seolah menjadi blank dan saraf berhenti, pun dengan jantungnya yang bergemuruh tak karuan akibat kelakuan Elvino.
__ADS_1
Klik!
“Nah, sudah.” Elvino dengan cepat kembali ke posisi semula di kursi kemudi. “Aku mulai tak waras sepertinya,” batinnya sambil menahan degup jantung bertalu di dadanya.
Tanpa menunggu waktu lagi, Shena bergegas meraih tasnya kemudian segera keluar dan berjalan setengah berlari masuk ke butiknya. Dia menutup pintu kasar. “Terima kasih, bye!” Shena melambaikan tangan sambil berlari, tetapi Elvino tak menanggapinya dan hanya menatapnya intens dari dalam mobil. Seuntai senyuman terukir di wajahnya.
Shena masuk ke butik, lalu mengintip lewat jendela mengamati mobil yang kini berjalan menjauh dari butiknya.
“Bodoh, bodoh, bodoh! Bisa-bisanya di umur segini aku salah tingkah hanya karena berdekatan dengan Elvino. Astaga! Malu!” Shena menangkup wajah dengan kedua telapak tangan sambil mengentak-entakkan kaki.
“Woi! Kenapa dah?” tanya Melva yang kebetulan hendak keluar untuk membeli makan siang, seraya memukul pundak Shena.
“Sakit, Mel! Astaga kamu, ya?”
“ Kamu kenapa kaya bocah labil barusan?” tanya Melva.
“Nggak papa, Mel. Eh mau ke mana? Nitip boba es satu, ya?” pinta Shena sambil menaik turunkan alisnya.
Shena mengangkat bahu lalu segera berjalan ke arah ruangannya di lantai dua.
Sampai di ruangan kerjanya, Shena menjatuhkan bokongnya ke sofa lantas mengambil ponsel di dalam tas. Ia teringat belum mengucapkan terima kasih kepada Elvino.
Baru saja menulis pesan, tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk tertera di layar benda pipih tersebut.
Shena memutar bola matanya malah melihat siapa nama pemanggil itu. Tidak berniat merespons akhirnya Shena meletakkan ponselnya ke meja dengan kasar. Jemarinya mengetuk-ngetuk papan kayu persegi panjang tersebut sambil memainkan mengerucutkan bibirnya seolah tengah berpikir.
“Ahhh ...! Berisik sekali, sih? Mamah pasti ada apa-apa nih kalo telepon pas siang gini. Huh,” desah Shena akhirnya menyerah dan menggeser ikon hijau dan menempelkan ke telinganya.
“Ya halo, Ma. Ehm, Apa?”
Mata Shena membelalak, pasalnya kali ini untuk ke sekian kali sang mamah meminta untuk bertemu Elvino. Padahal, belum ada 24 jam mereka menemui orang tuanya. Dia tidak enak hati kalau harus meminta bantuan Elvino terus menerus meski ia ingin.
“Ya, Ma. Hem, baiklah.” Shena kemudian mematikan telepon secara sepihak lantas menendang meja yang tak bersalah itu.
__ADS_1
Mamahnya meminta Shena dan Elvino untuk bertemu weekend ini. Shena bingung harus bagaimana membujuk Elvino.
Sekian lama Shena berpikir sambil berjalan mondar mandir seperti orang linglung. Namun, sial otaknya seolah sedang malas berpikir.
“Tau ah, pusing!”
**
Keesokan paginya, Shena mendapatkan telepon dari Samuel bahwa mobilnya sudah selesai diperbaiki dan bisa di ambil. Mendengar penuturan pria itu, Shena bergegas mandi dan segera ke bengkel.
Ide cemerlang pun terlintas di otak kecilnya. Sambil bersenandung, Shena berangkat ke bengkel menggunakan taksi online.
Sesampainya di bengkel, Shena melangkahkan kakinya menyusuri bengkel. Matanya memindai setiap sudut mencari keberadaan Elvino. Bibirnya tersenyum simpul saat melihat Elvino tengah serius menyervis mobil sampai tak sadar bahwa dirinya sedang di perhatikan.
“El ...!” panggil Shena membuat Elvino sedikit terkejut. Namun, dia hanya menanggapi dengan deheman.
“Ish, aku mau minta tolong. Ini penting banget,” kata Shena.
“Aku lagi kerja. Silakan datang ketika jam kerja selesai, Nona.” Elvino menjawab dengan santai dan terus melanjutkan pekerjaannya.
Shena jengah, tapi dia tak akan mundur begitu saja. “Mama menginginkan kita makan malam lagi. Tapi, kali ini penting banget katanya,” ucap Shena dan itu berhasil membuat Elvino menghentikan aktivitasnya dan berbalik menatap Shena. Sorot matanya menandakan keseriusan. Hati Shena seketika berdesir.
“Sepertinya kita sudah terlalu jauh, Nona. Jangan menggunakan aku lagi sebagai tamengmu!”
“Tapi aku tidak bisa datang sendirian, El. Mereka menginginkanmu datang juga. Aku harus bagaimana? Cuma kamu satu-satunya yang bisa kuandalkan.” Penuturan Shena dan kalimat terakhirnya cukup membuat Elvino sedikit menaikkan sudut bibirnya tapi sangat tipis hingga tak kentara oleh Shena.
“Aku berhenti jadi pacar bohongan kamu.” Elvino mengatakan yang sebenarnya. Dia ingin berhenti melakukan itu, karena sangat sadar dirinya mulai jatuh cinta dengan Shena. Tapi Elvino juga sadar dia sudah memiliki istri. Wajahnya terlihat sendu setelah mengucapkannya.
“Aku bayar.”
“Tidak. Terima kasih.” Singkat padat jelas Elvino menjawabnya.
“Tapi, El. Ayolah! Bantu aku lagi kali ini,” pinta Shena.
__ADS_1