
"Dasar anak yang tidak tahu disayang! Apa yang kamu sembunyikan, Elvino! Jawab Mama!”
“Ma, El bisa jelasin semuanya ....”
Kehadiran Emma secara mendadak membuat keduanya sangat terkejut. Terlebih dengan Shena, selama ini dia begitu dikagumi oleh Emma, tetapi kini dia seolah merasa menjadi wanita paling hina ketika dia ikut andil dalam kebohongan yang Elvino simpan rapat-rapat.
Shena terus melipat bibirnya ke dalam seraya tangannya saling meremas satu sama lain. Rasa takut dan grogi berkecamuk salam hatinya. Padahal, beberapa hari lalu, Elvino dan Shena sudah berencana untuk mengatakan sejujurnya pada sang mama. Namun, belum juga niatan itu tersalurkan, bencana seakan menerpa mereka. Entah dari mana Elvino harus mengatakan, yang jelas lelaki mulai tergagap menata bahasa dalam pikirannya.
“EL! Kenapa diam?” tanya Emma, langkahnya semakin mantap mendekat ke arah Elvino.
“Ma, kita duduk dulu di sana, aku akan jelasin semuanya.”
Lirikan tajam Emma mampu membuat lelaki itu tunduk patuh, selama ini dia memang tak pernah sekali pun mengecewakan mamanya. Namun, kali ini dia di posisi yang sulit, menikah dengan seorang wanita tanpa sepengetahuan Emma, itu sama halnya seperti bunuh diri di sumur mati, horor.
Elvino menggandeng Emma, mengajaknya duduk di ruang santai, disusul Shena di belakangnya. Saat ketiga orang tersebut duduk saling berhadapan, Emma menatap Shena dengan intens.
“Shena, Tante nggak nyangka banget, ternyata kamu ... bukankah kamu itu bersuami? Lalu, buat apa kamu ke apartemen anakku. Awalnya aku kagum sama kamu, terlihat sopan, baik, tapi sekarang lihat! Kamu seperti tak punya dosa, bisa-bisanya mengkhianati suami kamu. Dan kamu, El! Kamu mau-mau aja dijadiin simpenan, harga diri kamu sebagai lelaki tuh mana, hah! Mama nggak habis pikir sama kamu, kaya nggak ada wanita lain aja!”
“Ma, cukup!” bentak Elvino yang merasa geram dengan ucapan Emma, dia tidak terima mamanya menghina istrinya.
“Berani sekali kamu bentak Mama, El! Udah mulai kurang ajar, ya, sekarang!”
“El minta maaf, tapi bisa nggak Mama diam dulu sebentar, El mau jelasin sesuatu yang penting sama Mama. Kalau Mama bicara terus, kapan aku bisa jelasin, Ma.”
Shena yang melihat pertikaian antara anak dan ibu itu merasakan sedikit ketakutan, jantungnya berdegup kencang dia berusaha mengatur napasnya agar tenang. Tanpa disadari, mata wanita itu berkaca-kaca, terlebih saat Emma menganggapnya wanita rendah karena berselingkuh dengan anaknya. Padahal, kenyataannya dia istri sah Elvino.
“Shena adalah wanita yang sangat baik, wanita yang bahkan sangat menjaga harga dirinya, Ma. Tidak sepantasnya Mama menganggapnya wanita tidak benar seperti di luaran sana.”
“Lalu, apa maksudnya ini? Seorang wanita dan lelaki berduaan di apartemen, apalagi kalau bukan karena kalian punya hubungan khusus, El. Apa kamu nggak tau kalau dia bersuami? Jangan jadi lelaki bodoh kamu, El!”
__ADS_1
“Astaga, Ma. Bisa nggak Mama berhenti bicara dulu. Lama-lama El benar-benar akan habis kesabaran. Tolong mengertilah, Ma. Dengerin El dulu.”
Elvino lantas melirik ke arah Shena, wanita itu hanya menunduk dan terdiam. Akan tetapi, lelaki itu sangat paham jika istrinya itu tengah menangis karena ucapan kasar Emma.
Emma mengembuskan napas kasar. “Cepat, katakan sama Mama, ada apa dengan kamu.”
“Shena, dia ... dia istri sah Elvino, Ma.”
“APA!”
“Ya, Elvino sudah menikah siri dengan Shena. Akulah suaminya, bukan lelaki lain.”
Mata Emma membulat sempurna ketika mendengar penuturan Elvino. Dahinya mengernyit dan terus menatap Elvino dengan tajam. “Apa maksudnya ini, hah! Jangan bercanda, El. Mama tanya serius sama kamu, apa yang terjadi sebenarnya!”
“Harus bagaimana El mengatakannya, El sudah jujur. Soal pernikahan El yang diam-diam El minta maaf. Tapi, El dan Shena susah ada niatan akan berterus terang, Ma. Hanya saja kita belum menemukan waktu yang pas.
“Nikah ... apa-apaan ini, El! Bagaimana bisa kamu menikah tanpa restu Mama dan Papa. Apa kamu menganggap kami sudah mati, hah? Jahat sekali kamu El!”
“Shena, kamu ke kamar dulu aja, nggak apa-apa kok. Biar aku yang bicara sama Mama.” Elvino mengangguk pelan pada Shena, mengisyaratkan agar dirinya menenangkan diri.
Tak kuasa menahan air mata dan ketakutannya, Shena akhirnya memilih menghindar. “Permisi, Tante.”
“Elvino, jelaskan sama Mama semuanya, rinci! Jangan ada yang ditutup-tutupi!”
“Jadi, ceritanya begini, Ma ....”
Elvino menjelaskan semuanya tentang pernikahan mendadak yang membuatnya terdesak pada saat itu. Tak lupa, dia juga mengungkapkan isi hatinya yang memang mencintai Shena. Dia wanita satu-satunya yang ada di hatinya, bahkan sejak sebelum bercerai dengan Celia.
Setelah mendengar semua penjelasan Elvino, Emma merasa lega dan bisa bernapas tenang. Bagaimana tidak, perempuan yang diinginkan untuk menjadi menantu, kini seolah menjadi kenyataan.
__ADS_1
“Jadi, untuk ke depannya, El akan segera mempublikasikan Shena, aku harap Mama dan Papa bisa menerima Shena sebagai menantu.”
“Tidak semudah itu, El! Kamu pikir dengan kamu melakukan kesalahan, Mama akan dengan mudahnya memaafkan kamu? Ingat, kamu sama aja menganggap kita itu nggak ada. Mama kecewa sama kamu!”
“Ma, please, maafin El.”
“Baiklah, kalau begitu Mama pulang. Mama akan atur semuanya. Jangan komentar apa pun yang akan Mama lakukan. Paham!”
“Mama mau melakukan apa?” tanya Elvino penasaran. Dia takut mamanya akan berbuat nekat, seperti pada saat dia melakukan apa pun pada Celia.
“Mama jangan pernah menyakitinya, aku sangat mencintainya. Sedikit saja Mama melukai hati Shena, El tidak akan tinggal diam. Sama saja Mama menyiksaku,” tutur Elvino seraya berbisik lirih di dekat telinga Emma.
“Dasar anak bandel! Berani sekali kamu mengancam Mama, hah!”Emma dengan semangat menjewer telinga Elvino.
“Auw, auw sakit, Ma!”
“Itu belum seberapa. Mama bisa saja berbuat lebih menyakitkan!”
Tanpa melihat ke arah Elvino, Emma lalu melenggang keluar apartemen tersebut tanpa pamit pada Elvino. Wanita itu berjalan dengan beribu pikiran di kepalanya. Terlalu banyak yang dia rencanakan, entah langkah yang mana dulu yang harus dia ambil, yang jelas, wanita itu akan melakukan sesuatu yang tidak pernah Elvino sangka sebelumnya.
Elvino menatap kepergian mamanya hingga pintu apartemen tersebut tertutup dengan kasar. Dia pun segera menemui Shena di kamar. Terlihat wanita itu sedang meringkuk di atas ranjang. Sesekali dia mengusap hidungnya dengan tisu.
Elvino berjalan mendekat ke arah ranjang, kemudian duduk di samping Shena yang membelakanginya.
“Aku tidak pernah mau melihatmu menangis lagi kecuali tangis bahagia. Sampai kapan pun, aku akan terus berusaha membuatmu tertawa, Shen. Kemarilah!” Elvino menyentuh bahu Shena, menyuruh wanita itu untuk membalikkan badannya.
Tanpa kata, Shena pun menurut, dia menoleh ke arah Elvino dengan mata sembab. “Aku tidak tau bagaimana lagi harus menyikapi ini semua ini. Terlalu rumit, El.”
“Shhtt, sudah jangan menangis lagi, ya. Jangan terlalu memikirkan Mama, aku akan mengatasinya.” Elvino membelai lembut pipi Shena yang basah akan air mata. Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya, kemudian memeluk erat Shena dari belakang. Keduanya pun akhirnya tertidur pulas pada satu bantal dan satu selimut.
__ADS_1
BERSAMBUNG...