
"Sam, kenapa langsung pergi? Nggak suka film-nya?" tanya Shena berusaha menyamai langkah Samuel.
"Ah nggak, Bos. Saya mau ke toilet. Yah, ke toilet. Jadi saya terburu-buru," jawab Samuel lantas melesat pergi meninggalkan Shena, Elvino dan Melva yang menatap bingung ke arahnya.
Elvino menoleh ke arah Shena, akan tetapi wanita itu hanya mengedikkan bahu tanda tak tahu. Lalu tatapan Sherena dan Elvino beralih kepada Melva. Keduanya kompak memicingkan mata menatap curiga terhadap Melva. Sedangkan gadis yang tengah di tatap malah memasang wajah galaknya.
"Apa! Aku nggak ada kaitannya, nggak usah aneh-aneh kalian. Ck aku pulang!" Melva mengayunkan kaki keluar dari bioskop.
"Hei tunggu, Mel!" panggil Shena. Namun, tak di gubris oleh Melva. Langkahnya yang cepat membuat Shena susah mengejarnya karena terhalang kursi-kursi bioskop.
"Sudah biarkan, Shen. Melva kan udah gede juga nggak bakalan nyasar. Mending kita lanjutin shopping aja. Kamu mau beli apa?" tanya Elvino.
Mendengar kata shopping membuat jiwa Shena langsung segar. Apalagi untuk pertama kalinya dia berbelanja di temani Elvino. Bibirnya melengkung membetuk bulan sabit, wajahnya berbinar penuh bintang-bintang.
Sejenak ia melupakan Melva dan menuruti apa kata suaminya. Daripada mengkhawatirkan Melva, lebih baik ia menyenangkan diri. Toh Melva bukan anak-anak lagi. Tiba-tiba Shena menerima pesan dari Melva lewat WhatsApp. Melva mengatakan bahwa Shena tak perlu mencarinya karena dia akan pulang.
"Oke, pas banget Melva kirim pesan nih. Yuk, aduh tas, baju, make up iam coming …." Shena menggandeng tangan Elvino menuju toko-toko langganannya.
Sambil menunggu Shena memilah, Elvino mengetikkan pesan kepada Samuel lalu meletakkan ponselnya di dalam tas Shena yang dititipkan kepadanya. Dia menghampiri Shena yang tengah asyik mematut diri di depan kaca besar. Beberapa baju telah ia pilih di tangannya.
Elvino memeluk Shena dari belakang dan membuat wanita itu kaku seketika.
"El, ini di tempat umum. Malu," tolak Shena dengan halus. Namun, ia membiarkan lengan kekar suaminya melingkar di perutnya karena kedua tangannya penuh dengan baju.
"Aku hanya nggak suka para pria itu menatap istriku," bisik Elvino tepat di samping telinga Shena. Hal itu membuat bulu kuduk Shena meremang. Entah sebab apa Elvino bertindak posesif seperti itu. Mungkin pengalaman pernikahannya yang tidak menyenangkan menyisakan trauma yang mendalam hingga tidak ingin kejadian itu terulang kepada pernikahannya dengan Shena.
__ADS_1
Shena tersentum bahagia lantas melirik sekitar. Ternyata benar, tak jauh dari situ beberapa pria tengah curi-curi pandang menatap kagum kepadanya. Padahal, mereka tengah bersama pasangannya.
"Ish, kamu nih. Lepasin aku sesak ini." Shena mulai merengek.
"Baiklah, tapi cepat belanjanya ya. Lagian, masa designer baju beli baju, Shen, Shen." Elvino berujar keheranan.
"Ya kali pemilik baju nggak boleh beli baju gitu? Pemilik pabrik tas juga kadang beli tas merk lain, El."
"Iya, baiklah Tuan Putri. Tolong jangan lama-lama. Sebentar lagi mall akan tutup," ucap Elvino.
Shena melirik ke arah pergelangan tangannya. Waktu sudah di angka pukul sembilan malam.
"Menurut kamu bagus yang mana?" tanya Sherena.
"Ah, yang biru ini aja deh. Yang lain kapan-kapan aja." Shena berjalan menuju kasir di ikuti oleh Elvino. Dia meminta tas yang dia titipkan kepada Elvino. Namun, Elvino tak memberikan apa yang Shena minta melainkan merogoh saku dan mengambil dompetnya. Ia memberikan Shena blackcard yang isinya unlimited.
"Pakailah. Ini untukmu," ujar Elvino.
Shena menggelengkan kepala. Ia menolaknya. Wanita itu masih merasa canggung menerima pemberian Elvino.
"Aku tidak menerima penolakan, Shen!" tegas Elvino.
Sedetik kemudian …
Cup!
__ADS_1
Shena mengecup pipi Elvino dan mengucapkan terima kasih. Sedangkan si empunya malah terdiam membeku. Sungguh aneh, bisa-bisanya Elvino terkejut dengan perlakuan manis dari Shena. Hatinya menghangat layaknya bunga yang terkena sinar matahari pagi. Sedangkan, kasir di hadapan mereka merasa ngenes karena melihat kedua sejoli itu bertingkah mesra.
"Ambil semua yang istri saya cobain tadi. Saya bayar semua, Mbak."
Perkataan Elvino sukses membuat Shena dan kasir menoleh bersamaan memastikan apa yang mereka dengar adalah nyata. Elvino hanya mengangguk datar.
"Se-serius, El?" tanya Shena tergagap mendengar penuturan Elvino.
"Ada yang kurang?"
"A-ah, nggak … nggak. Hanya yang ku pilih tadi semuanya mahal banget, El. Aku nggak e–,"
"Aku nggak terima penolakan." Elvino menempelkan jari telunjuk ke arah bibir Shena agar wanita itu terdiam.
"Kyaaaaaaaa … terima kasih suamiku." pekik Shena kemudian memeluk Elvino. Sedetik kemudian dia langsung diam membeku menyadari bahwa panggilannya kepada Elvino adalah spontanitas. Dia melepas perlahan rengkuhannya itu. Kepala menunduk menyembunyikan rona merah di wajah karena malu.
Elvino tersenyum lalu menangkup wajah Shena. Ia menatap manik mata milik Shena dengan cinta kemudian berkata, "Aku suka panggilan itu, Shen. Jika dengan berbelanja seperti ini kamu bisa memanggilku seperti itu dengan tulus, maka aku ingin kamu belanja setiap hari."
Semua orang menatap mereka dengan takjub. Shena dan Elvino sukses manrik perhatian para pengunjung dan pegawai toko. Namun, keduanya merasa dunia hanya milik dan yang lain ngontrak.
Tiba-tiba, mereka di kejutkan oleh seorang wanita yang langsung menarik rambut panjang Shena dan menamparnya dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi, Plak! Shena yang terkejut tak bisa mengelak serangan dadakan tersebut.
"Aaaakh! Sakit! pekik Shena mengelus pipinya dan meringis.
Hallo readers sayang, iam come back 😊
__ADS_1