
Tiba-tiba, mereka di kejutkan oleh seorang wanita yang langsung menarik rambut panjang Shena dan menamparnya dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi, Plak! Shena yang terkejut tak bisa mengelak serangan dadakan tersebut.
“Aaaakh! Sakit! Pekik Shena mengelus pipinya dan meringis.
Elvino menatap tajam si pelaku yang membuat Shena terjungkal dan kesakitan.
“Celia! Kamu gila, ya!” seru Elvino menoleh ke arah Celia dengan suara meninggi lalu membantu Shena. Namun, Celia tak mau melewatkan kesempatan itu.
“Dasar pelakor, nggak tau malu! Wanita sialan, kurang ajar! Kamu merebut suamiku!” teriak Celia lalu kembali menyerang Shena dengan membabi buta. Shena berusaha membela diri dan menyerang balik Celia. Keduanya terlibat aksi saling jambak. Elvino berusaha melerai keduanya. Namun, sayangnya tak berhasil.
“STOP! CUKUP HENTIKAN CELIA!” Teriakan Elvino sukses membuat keduanya berhenti. Tak menyiakan kesempatan, dia menarik Shena dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Akan tetapi Shena menolaknya. Tak lama, datanglah kedua security datang. Celia yang merasa belum puas bergerak maju hendak menyerang kembali. Namun, kedua security di belakang Celia menahannya.
Dengan berani, Shena menatap Celia dengan tatapan tak kalah tajam dan napas tersengal. ‘’Tolong jangan asal bicara, Nona Celia yang terhormat. Saya bukan pelakor dan Anda tidak berhak berbicara seperti itu kepada saya. Elvino adalah suami saya. Kamu hanya mantannya. Jangan sembarang bicara atau saya bisa melaporkan Anda kepada polisi!”
Celia meronta minta di lepaskan. Namun, sayang kekuatannya kalah dengan dua pria kekar yang tengah mencekalnya di kedua sisi.
“Aku nggak peduli! Aku akan tetap merebut kembali suami yang kau ambil!” geram Celia dengan penuh emosi lalu meludahi Shena.
Plak! Elvino menampar Celia karena sudah tak tahan lagi mendengar dan melihat penghinaan yang Celia lakukan terhadap Shena.
“Celia!” bentak Elvino tak bisa menahannya lagi. Shena dan Celia menoleh ke arah Elvino bersamaan. “Kita sudah bercerai Celia. Kamu dan aku sudah tidak ada hubungan apapun. Jangan maki Shena karena dia adalah istriku dan bukan pelakor seperti yang kamu ucapkan barusan. Jika kamu mengatakan Shena pelakor lalu kamu apa? Istri yang bersetubuh dengan pria lain padahal masih status istri waktu itu! Tolong jaga omongan kamu atau aku tak kan segan menyebarkan bukti yang selama ini aku simpan ke media!” ancam Elvino dan Celia bungkam tak bisa menjawab perkataan Elvino.
Celia pura-pura menangis kemudian berkata, “Tega kamu, El. Secepat itu kamu melupakanku demi pelakor ini. Dan karena dia kamu menamparku! Aku adalah orang yang kamu cintai sebelum dia datang merebut kamu, El! Dia pelakor!”
Plak!
Shena menampar Celia. “Itu adalah tamparan supaya kamu tahu dan membuka mata. Aku tekankan sekali lagi. Aku bukan pelakor!” Setelah mengatakan itu, Shena berlari keluar dari toko. Sedangkan Elvino mengambil belanjaan Shena dan juga black card yang dia gunakan lalu mengejar Shena.
__ADS_1
Sedangkan, Celia berusaha ikut mengejar. Namun, tertahan oleh kedua security. Beberapa orang yang menyaksikan pun bubar dan kembali dengan kegiatan masing-masing.
“Shen! Shena!” Panggil Elvino. Beruntung Shena belum jauh. Namun, wanita tersebut mengabaikan panggilan Elvino. Dia memasuki Lift yang tak jauh dari situ. Elvino berhasil menggapai lift yang hampir menutup itu, dan ikut masuk ke dalamnya. Di dalam lift terdapat dua orang yang juga akan turun ke lobi. Hal itu membuat Elvino tak bisa melakukan apapun.
Ting!
Bunyi lift berhenti. Mereka semua keluar dari ruangan besi kotak itu tak terkecuali Shena dan Elvino. Shena berjalan dengan langkah cepat diikuti Elvino.
“Jangan ikuti aku!” ucap Shena tanpa menoleh ke belakang. Semilir angin dan gelapnya malam tak membuat Shena untuk menghentikan aksi merajuknya.
Elvino tak menjawab dan asyik membenarkan posisi papper bag di kedua tangannya. Sedangkan Shena terus berjalan ke depan tanpa mengetahui kalau Elvino sudah memasuki mobilnya dan menaruh barang-barang Shena tadi ke dalam bagasi. Kebetulan tadi dia memarkirkan mobil di deretan VVIP, jadi dengan mudah ia dapat menemukan mobilnya tak jauh dari lobi mall.
Shena yang merasa curiga karena langkah Elvino tak lagi di dengar olehnya pun menoleh ke belakang, lalu mencari-cari sosok Elvino. Namun, ia hanya melihat beberapa mobil yang masih saling berjejer di area parkir VVIP itu. Ia menggeram, karena tak mendapati Elvino di belakangnya. Padahal ia berharap Elvino mengejarnya layaknya di sinetron dan drama yang pernah ia tonton.
Shena kemudian berhenti dan mendengus kesal lalu mengentak-entakkan kaki ke lantai aspal.
Tanpa ia sadari, Elvino tengah terkekeh geli melihat tingkah Shena itu. Ia berjalan perlahan menghampiri Shena.
“Shen,” panggil Elvino.
Shena melirik sekilas lelaki di belakangnya. Bibirnya sedikit terangkat mengetahui Elvino ternyata belum benar-benar meninggalkannya. Namun, Shena gengsi dan tak menjawab panggilan Elvino.
“Shen, yuk pulang,” ajak Elvino.
Shena masih tak mau menjawab. Elvino membuang napasnya pelan kemudian memanggil Shena sekali lagi. “Shena, kamu mau menginap di sini? Ini sudah malam. Ayok pulang atau–“ ucap Elvina dengan alis terangkat dan senyum menggoda.
“Atau apa?” tanya Shena galak.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan Shena, ia menggendong wanita ala bridal membuat Shena memukul-mukul bahu Elvino karena terkejut. Elvino tak memedulikan pukulan Shena dan tatapan para pengunjung mall tersebut dan memasukkan Shena ke kursi penumpang lalu menutupnya. Dia memasuki mobil dan segera menstarter mobil tersebut.
Shena memalingkan muka ke arah jendela. Ia enggan menatap Elvino. Entah kenapa moodnya menjadi buruk karena kejadian tadi. Elvino yang merasa diabaikan mengunci dan mematikan lagi mobilnya.
“Shen,” panggil Elvino lalu berusaha meraih Shena. Berulang kali Shena menepis lengan Elvino menolak di sentu pria tersebut.
Elvino yang gemas lantas menarik lengan Shena dengan cepat lalu mengecup bibir Shena membuat wanita itu tak bisa berkutik dengan perlakuan spontanitas Elvino. Tak mendapat perlawanan, Elvino melanjutkan kecupannya jadi ******* lembut. Awalnya Shena bergeming, tetapi lama kelamaan Shena membalasnya dan memejamkan mata.
Elvino terus memperdalam ciumannya hingga menjadi panas. Keduanya saling menikmatinya. Reflek jemari Elvino merambat ke dada Shena dan meremas dengan lembut.
Hal itu membuat Shena terlonjak kaget dan spontan melepaskan ciuman itu. Napas keduanya tersengal akibat aktivitas tadi. Shena dan Elvino saling membuang muka menyembunyikan wajah mereka untuk sesaat. Elvino berdeham untuk menetralkan suasana.
“Jika kamu sering merajuk seperti ini, aku tak kan segan meminta hakku sekarang juga.”
“No! Ah maksudnya jangan di sini eh gimana si maksudnya a-aku … ki-kita kan belum menikah secara hukum dan agama, jadi sesuai perjanjian kita belum boleh melakukan itu,” ucap Shena dengan tergagap karena gugup dan salah tingkah.
“Aku tidak peduli. Toh terpenting kamu sah di mata agama,” ucap Elvino sekenanya.
“Tapi–,”
“Ya, ya. Aku tahu kok. Sudah jangan merajuk lagi. Ayok pulang, sudah malam.” Evino mengusap lembut kepala Shena.
Shena hanya mengangguk mengiyakan. Sejujurnya ia tidak enak hati terus menolak Elvino dengan alasan yang ia buat. Namun, ia tak bisa merelakan hal berharganya begitu saja sebelum statusnya jelas.
Elvino memacu mobilnya keluar dari area mall dan bertolak ke apartemennya. Sepanjang perjalanan keduanya hening tanpa kata. Mereka berperang dengan pemikiran mereka masing-masing.
Halo readers kesayangan apa kabar semuanya? Semoga sehat selalu yaa. Salam Sayang. Happy reading gaes.
__ADS_1