
"Bisa nggak?" tanya Shena yang tidak sabar dirinya begitu kegerahan.
"Tunggu sebentar, dikit lagi!" ucap Elvino yang mengeluarkan tenaga lebih besar tapi hasilnya tetap saja sulit untuk membukanya.
Akhirnya dengan terpaksa Elvino meminta izin untuk menariknya menggunakan gigi, dan Shena pun menyetujuinya. Tangan Elvino mengusap lembut leher Shena guna menekan agar tidak kehilangan keseimbangan, sementara wajahnya maju secara perlahan.
Debaran jantung keduanya semakin cepat di saat hidung mancung Elvino mengenai kulit punggung Shena, walaupun Elvino sengaja mencuri kesempatan itu dan berhasil membuat Shena menelan saliva-nya merasakan desiran yang menjalar.
Elvino menggigit resleting itu dan menariknya ke bawah sedangkan, tangannya menahan tengkuk leher Shena agar tetap tegap, meskipun dia tahu cukup menahan ujung baju Shena ke atas tanpa harus menyentuh leher sang istri.
Begitu resleting berhasil terbuka, Shena langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Elvino yang masih mematung seraya memegang dada bagian kirinya.
"Sial. Kenapa aku malah jadi seperti bujangan yang baru menikah. Bodoh … bodoh … bodoh! Kenapa pesonanya sedahsyat itu ya Tuhan. Debaran ini, jantung ini, perasaan ini. Ah … pusing!" gerutu pria tersebut dalam hati. Ia duduk di tepian kasur dan memejamkan mata menetralisir perasaannya.
Tak lama setelah Shena masuk ke dalam kamar mandi, Elvino terkejut karena mendengar suara jeritan istrinya. Dia yang belum sempat memakai kaos langsung berlari dan membuka pintu kamar mandi.
"Ada apa?" tanya Elvino panik. Lagi-lagi Elvino harus meneguk salivanya saat melihat Shena hanya memakai handuk yang dililitkan di tubuhnya.
Shena langsung berlari dan memeluk Elvino saat itu juga, tentu saja dia mengetahui bahwa suaminya terkejut mendapat pelukan erat dari dirinya.
"Ke–kecoak! Ada kecoa, El!" Shena memendamkan kepalanya ke dada bidang Elvino yang masih telanjang seraya menunjuk asal ke belakang dirinya.
"Mana?" tanya Elvino sekali lagi.
Shena pun membalikkan tubuhnya dan melihat letak keberadaan kecoak tersebut, dia langsung menunjuk ke salah satu tempat di mana kecoak itu berada.
__ADS_1
"Itu, itu, El! Gede banget, terus terbang ... Iiih!" ucap Shena yang begitu jijik.
Elvino mencoba untuk mengusir kecoak dan menangkapnya tapi kecoak itu justru terbang ke arah handuk yang dipakai Shena, tentu saja dengan refleks Shena menjerit dan membuka handuknya seraya melompat tak karuan.
"Jangan!" teriak Elvino yang langsung menutup matanya ketika tubuh Shena terlihat.
Menyadari perbuatannya, Shena mengumpat di balik tirai kamar mandi dan menyuruh Elvino untuk fokus ke arah target bukan tubuhnya dari balik tirai. “Tutup mata, awas lihat!”
Elvino pun yang hendak mengambil kumis kecoak malah tak sengaja terpeleset lantai yang licin dan terjatuh, membuat tubuhnya jatuh terlentang, sedangkan kecoaknya hinggap di atas handuk di tengah-tengah aset milik Elvino.
"Astaga, El ... kamu nggak apa-apa? Sorry kau nggak bisa bantu bangunin!" ujar Shena yang merasa kasihan melihat suaminya yang mengeluh kesakitan di lantai. Namun, matanya tertuju melihat kecoak.
"El, jangan bergerak! Tenang, aku akan membunuh kecoak itu!" Shena mengambil gagang shower, yang bisa di lepas, lalu memukul tepat ke arah kecoak itu berada. Meskipun dia awalnya takut, tetapi dia terpaksa harus melakukan hal tersebut—memberanikan diri membunuh kecoak.
"Rasain loh, nih, uuhh, uuhh, mati lo! Emang enak!" umpat Shena dengan kesal, tapi seketika dia menyadari bahwa suaminya menjerit kesakitan terutama di area punggung tangan yang berada tepat di asetnya. Beruntung reflek Elvino bekerja dengan baik. Jadi, dia masih bisa melindungi aset miliknya dari amukan si pemegang gagang shower.
"Upss! Sorry!" Shena dengan refleks melepas gagang shower dan menunjukkan ekspresi bersalah.
"SHENA!" teriak Elvino dengan muka yang memerah seraya memegang asetnya yang berkedut hebat akibat pukulan dari istrinya.
"El, maaf! Ya ampun," ucap Shena dengan lirih, dia pun bingung harus bagaimana, hingga dia memutuskan untuk mengambil handuk yang dia lepas di samping Elvino. Namun, pada saat langkah kaki pertama, dia tersandung oleh kaki Elvino sehingga dia pun jatuh tetap di atas tubuh sang suami.
Kedua mata mereka saling bertemu menatap satu sama lain dengan jarak yang begitu dekat, begitu juga dengan bibir mereka yang menempel satu sama lain.
Lagi-lagi debaran jantung mereka berdetak lebih kencang, dan kali ini saling terasa satu sama lain. Seketika Elvino melupakan rasa sakit pada aset berharganya.
__ADS_1
Jemari Elvino yang hanya terdiam menyentuh punggung Shena. Perasaan beda mengalir dalam pikirannya saat tubuh istrinya melekat tak berjarak dengan tubuhnya. Ternyata, Shena tidak mengenakan apa pun di tubuhnya, karena dada bidangnya begitu terasa mendapat dua bantalan kenyal milik Shena.
Desiran aneh terasa di tubuh Shena saat mendapatkan usapan lembut jemari Elvino. Mereka berdua membelalakkan mata, ketika menyadari bahwa kulit mereka bersentuhan tanpa kain pembatas–kecuali handuk Elvino yang masih setia menempel di pinggangnya–menutupi aset yang kini mengeras karena Shena.
Shena sontak berusaha berdiri. Namun, tanpa sadar tangan Elvino justru menahannya hingga Shena yang bergerak ke atas, justru membuat kedua bantal kenyal miliknya terpampang jelas di depan wajah Elvino. Shena menggigit bibirnya menyadari kesalahannya. Ia merutuki dirinya karena kebodohan yang ia lakukan.
Tak mau di tatap lapar oleh Elvino, Shena kembali ke posisinya memeluk Elvino kemudian berkata dengan penuh penekanan, "Tolong singkirkan tanganmu, Tuan Elvino yang terhormat!"
"Oh, ah, ehm maaf." Elvino segera menyingkirkan tangannya dari punggung Shena memberikan ruang kepada Shena agar wanita tersebut terbebas dari Elvino.
Shena segera berlari memungut handuk yang teronggok di lantai kemudian membungkus tubuhnya. Ia segera beralih ke lemari dan mengambil asal bathrobe di sana untuk ia kenakan lantas naik ke atas ranjang dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Hal itu tak lepas dari perhatian Elvino. Pria itu justru terkekeh melihat tingkah Shena yang menurutnya lucu. Namun, meskipun begitu aset miliknya tak kurun ke posisinya. Justru semakin tegak bak tiang listrik. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan main dengan sabun untuk menuntaskan kebutuhan rohaninya.
Shena mendengar suara serak nan aneh dari dalam kamar mandi dan membuatnya semakin menggulung tubuhnya di dalam selimut tebal itu.
Keesokan paginya, deringan ponsel terdengar nyaring di telinga, membuat Elvino meraba-raba di sekitarnya tanpa membuka mata. Seperti de javu, ia malah justru meremas sesuatu yang kenyal dan mempunyai tonjolan. Merasa sedang bermimpi, ia meremas semakin sensual dan terdengar lenguhan seksi yang menambah semangat dirinya untuk meremas dan memainkan tonjolan itu.
Lama-lama tonjolan itu semakin mengeras seiring dengan pusakanya yang sama kerasnya. Hingga tak lama terdengar teriakkan nyaring di sampingnya dan membuat Elvino sontak terduduk karena terkejut.
Shena terbangun akibat sentuhan sensual yang ia kira mimpi. Entah siapa yang memulai, yang pasti mereka tidur berpelukan tanpa mereka sadari. Tepatnya Elvino yang memeluk Shena dari belakang. Ia kedinginan karena semalaman, selimut di kuasai oleh Shena.
Bersambung....
Terima kasih readersku sayang yang masih setia dengan El dan Shena. Author sayang kalian. Simak terus kisah mereka ya. Jangan lupa tinggalkan jejak komentar, like dan kalo boleh kasih bunga eyaaaaak. Sampai jumpa lagi di part selanjutnya gaes. 💗
__ADS_1