Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Tiket Honeymoon


__ADS_3

Dua insan menikmati waktu kebersamaannya di kamar hotel, bahkan mereka sama sekali tak ada keinginan untuk keluar kamar. Keduanya memanfaatkan waktu untuk mengobrol dan mencurahkan isi hati masing-masing. Tak ada satu pun yang ditutup-tutupi. Hal itulah yang diminta Elvino pada Shena.


Shena, sosok yang pernah tersakiti sejak berpisah dengan Roger, pada akhirnya dia kembali merasakan jatuh cinta pada seorang lelaki. Namun, lelaki itu ternyata sudah beristri, tak mudah bagi Shena untuk memberikan hati seutuhnya setelah Elvino juga menyakitinya.


Tak ada yang salah, semua hanya sudah digariskan bagaimana seseorang mampu melewati ujian sesuai porsinya masing-masing.


Ujian demi ujian mereka lewati bersama, hingga kerikil tajam dan batu besar pun hampir saja membuat mereka menyerah. Akan tetapi, pada akhirnya mereka bersatu dengan cinta yang sejati.


Hal itu membuat Shena masih merasa ada bekas luka yang masih ada dalam hatinya, rasa takut dan trauma kadang masih menghantui. Dia hanya mencintai Elvino, dia juga sama sekali tidak ingin berpisah dengan lelaki itu ke depannya. Berharap dialah pendamping hidup untuk selamanya dan satu-satunya.


“Jadi, bagaimana, apa kamu keberatan dengan permintaanku?” tanya Elvino seraya menggenggam tangan wanita itu, sesekali mengantarnya ke bibir untuk dikecup.


“Iya, El. Aku janji akan menjadi sosok istri yang baik buat kamu. Aku juga berjanji, ke depannya tidak ada lagi yang aku tutupi dari kamu. Aku hanya takut kehilangan kamu, maaf jika caraku salah. Selama ini, aku sering merasakan sakit hati, aku hanya ingin berhati-hati.” Wanita itu duduk rapat di sebelah Elvino.


“Shena, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku jika aku tidak akan menyakitimu lagi, Sayang?” El mengusap pipi lembut Shena, kemudian menyingkirkan anak rambut yang berantakan ke belakang telinga wanita itu.


“El, aku sangat percaya dengan ketulusan kamu. Untuk kali ini, jujur aku masih harus adaptasi menjadi seorang istri seutuhnya. Aku harap kamu bisa bersabar dan mengajariku.”


“Tentu saja, itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang suami. Dan, boleh aku minta satu hal lagi?” Elvino semakin mendekatkan wajahnya ke telinga Shena. Lalu dia berbisik, “Bisakah mulai sekarang kamu memanggilku dengan sebutan ‘sayang’? Aku tidak mau kamu memanggilku nama.”


Embusan napas Elvino sangat terasa di telinga Shena. Mendengar permintaan Elvino, wanita itu pun malu-malu dan berusaha menuruti permintaan sang suami.


“Sayang, aku mencintaimu,” ucap Shena seraya menahan malu dengan pipi merah merona. Namun, dia berusaha menatap mata Elvino tak berkedip.


Elvino sontak membulatkan kedua matanya dan menatap Shena tak percaya. “Say it, again!”


“Aku mencintaimu, Sayang!”

__ADS_1


Tak menunggu lama, Elvino langsung memeluk erat dan menghujani ciuman di semua wajah Shena. Tak bisa dipungkiri, pengantin lama yang baru merasakan indahnya penyatuan itu, kini kembali lagi tenggelam dalam asmara cinta membara di siang bolong.


Beberapa saat setelah mereka selesai penyaluran hasrat, Elvino mendekap Shena dalam pelukannya. Entah seberapa besar rasa cinta yang dimiliki oleh dua insan tersebut, yang jelas mulai saat ini dan seterusnya kisah cinta begitu indah di antara mereka akan dimulai.


“Aku punya sesuatu buat kamu, Sayang.” Elvino mencoba membuka nakas dengan satu tangan, mengambil amplop putih di sana. “Bukalah!”


Shena pun membuka amplop tersebut. “Tiket ke Singapura? Ini apa?”


“Ya, kita akan memulai honeymoon di sana, Sayang. Setelahnya, kamu bisa pilih negara mana yang ingin kamu kunjungi.”


“Beneran? Makasih, Sayang!” Shena yang berada dalam selimut pun langsung menyambar bibir Elvino untuk dikecupnya dengan singkat. Senyum semringah terbit menghiasi bibirnya membuat Elvino gemas.


"Mulai sekarang, jangan tersenyum secantik itu di hadapan pria lain, Sayang!" Elvino mengatakan dengan penuh penekanan.


Shena terkekeh kemudian kembali mengecup bibir Elvino. "Bahkan lelaki tertampan dan kaya di dunia pun tak akan mampu menandingi pesonamu, Sayang. Raga dan jiwaku sekarang sepenuhnya milikmu. Tidak ada yang bisa menggantikan sosok suamiku ini. Posesifmu sangat berlebihan."


"Sepertinya Tuan Elvino banyak berubah akhir-akhir ini. Sering merajuk seperti sekarang ini. Ha … ha!" goda Shena.


Elvino yang tak terima langsung menggelitiki Shena. Mereka saling tertawa menikmati momen kebersamaan ini.


Sementara itu di tempat lain, Celia tengah menghancurkan barang-barang di kamar, menumpahkan kekesalannya atas pernikahan Elvino dan Shena. Ia mengumpat dan mencaci pasangan tersebut dan menyalahkan semuanya terutama pada Shena.


Padahal, kemarin ia berusaha menggagalkan rencana pernikahan mereka dengan cara menyabotase penghulu dan juga makanan agar pernikahan kacau. Namun, rupanya ia kalah cerdik dengan Elvino yang rupanya sudah mengganti kru dan juga para pelayan tepat satu hari sebelum acara.


Rencana busuknya tercium dengan gampang karena Samuel yang memergoki salah satu karyawan sang mama mengendap-endap ke dapur saat para orang sibuk menata piring dan peralatan makanan lainnya di meja ballroom hotel.


Beruntung, mama Samuel punya karyawan banyak hingga masalah tersebut bisa segera di atasi.

__ADS_1


"Sialan kamu Shena! Dasar pelakor! Gara-gara kamu, aku jadi ditelantarkan oleh Elvino! Gara-gara kamu juga, kemewahan yang kudapatkan harus sirna tanpa sisa!" Aku benci kamu Shena! Aku benci kamu! Aku janji akan bikin kalian pisah dan merebut Elvino kembali padaku! Aaaarrggghhh!"


Celia melempar vas bunga ke arah kaca hingga pecah berserakan di lantai. Ia menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukul kepalanya frustrasi.


Napasnya menderu akibat emosi yang membuncah. Tatapan matanya menyiratkan kebencian yang mendalam. Tangannya mengepal erat mematri dengan jelas wajah Shena di otak. Terbesit rasa ingin membunuh dan menghilangkan Shena dari dunia.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu Shena!" Celia terus berteriak dan memaki Shena.


Tiba-tiba, pusing mendera kepalanya. Tak lama, pandangannya kabur dan samar-samar hingga akhirnya kedua kelopak mata tertutup sempurna.


Celia mengerjapkan mata saat ia mulai terjaga setelah pingsan tadi. Retinanya menelisik setiap sudut kamar yang kini tampak rapi seperti semula. Pandangannya terhenti saat melihat Roger di sampingnya sedang terpejam sambil memeluknya posesif.


Ia mencoba beranjak dari ranjang dan beringsut dari kasur. Namun, sebuah tangan kekar melingkar menghentikan aksinya.


"Mau ke mana?" tanya Roger dengan suara paraunya.


"Aku mau ke kamar mandi." Celia beranjak dari ranjang.


"Aku antar, sebentar."


"Aku bisa sendiri." Celia berusaha menolak secara halus.


"Tidak, aku tidak mau kamu pingsan seperti tadi dan membahayakan calon Roger junior."


"A-APA?"


Sontak ucapan Roger membuat Celia membeku, seketika dia menghentikan langkahnya bersamaan dengan tatapannya yang menelisik penuh tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2