
Di meja kasir, Samuel hendak membayar celananya. Namun, dicegah oleh Melva. Wanita itu bersikeras ingin membayarnya.”
“Aku aja yang bayar, aku harus tanggung jawab!”
“Nggak usah, makasih. Aku nggak semiskin yang kamu kira!” Samuel pun memberikan lima lembar uang ratusan, seharga celana yang ia beli, kembaliannya pun tak diambil dan memberikan pada kasir tersebut.
Setelah membayar, Samuel lantas mengganti celananya yang basah dengan yang baru. Kemudian mereka kembali ke cafetaria untuk menemui Shena dan Elvino.
Di meja itu, dua insan tengah beradu keromantisan, menikmati waktu singkat berduanya saat Samuel dan Melva tengah pergi. Elvino sesekali menyuapi Shena, begitu juga sebaliknya. Mereka saling tertawa saat ada saus sambal mengotori hidung Elvino.
Melihat kejadian tersebut dari kejauhan, Melva pun kesal dan menggerutu. Dia mempercepat langkahnya ke arah Shena.
“Shen, nanti aja dong kalian mesra-mesraannya. Nggak tau apa ini tempat umum!” gerutu Melva
“Kenapa emangnya, Mel. Iri, ya?” goda Elvino. “Tuh, Samuel nganggur, kalian pacaran aja deh daripada brantem mulu!”
“Males banget punya cewek kaya dia, Bos!”
__ADS_1
“Siapa juga yang mau sama kamu, cowok angkuh!”
“Awas kena sumpah.” Shena pun menimpali. “Biasanya benci di awal, endingnya cinta mati.”
Menit berganti begitu cepat, mereka pun menyudahi candaan dan obrolan, kemudian segera menuju bioskop untuk menonton film yang akan dimulai dalam waktu satu menit lagi. Di dalam, tentu saja Elvino menyuruh Shena untuk duduk di sebelahnya. Sementara Melva terpaksa harus duduk di antara Shena dan Samuel.
Adegan demi adegan yang diperankan oleh aktor ternama di bioskop tersebut membuat kagum setiap wanita. Dentuman musik pengiring film pun menambah suasana tegang, dan sesekali membuat terkejut. Tak heran jika Melva sesekali menarik lengan baju Samuel tanpa sengaja, membuat emosi laki-laki itu muncul lagi.
"Bisa diem nggak sih!" ucap Samuel dengan mengeratkan giginya dan menoleh ke arah Melva. Namun, tanpa dia duga Melva ternyata juga menoleh ke arahnya hingga tak membuat bibir mereka bersentuhan. Kedua mata mereka membelalak sempurna. waktu seolah berhenti beberapa detik. Melva dan Samuel sontak membuang muka ke arah berlawanan. Jantung mereka bertalu tak karuan. Samuel memegang dadanya menetralkan detak jantung yang tak normal.
"Aduh malu banget astaga." Melva menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu. Sungguh akward sekali posisinya saat ini.
Sepanjang film berlangsung, Melva dan Samuel hanya bergeming tetapi tidak bisa konsentrasi karena fokus mereka terpecahkan. Duduk di sebelah Melva membuat Samuel diam membeku dan serba salah.
Tak terasa dua jam berlalu. Namun, rasanya hanya Shena dan Elvino yang menikmati filmnya. Berbeda dengan kedua jomblo yakni Melva dan Samuel yang kaku sejak kejadian cium tanpa sengaja tadi. Beruntung, adegan tadi tidak dilihat oleh Shena dan Elvino. Karena jika hal tersebut terjadi, Melva dan Samuel bisa jadi bahan bully-an oleh mereka.
"Bagus ya film-nya?" tanya Shena kepada Elvino setelah lampu bioskop menyala kembali usai film berakhir.
__ADS_1
"Iya, lain kali kita bisa nonton lagi film lainnya ya, Shen?"
Shena mengangguk, tatapannya beralih kepada Melva yg berada di sebelahnya.
"Kamu nggak suka film-nya, Mel?" tanya Shena.
"Ah … ehm suka kok suka. He he." Melva tersenyum kikuk. Sedangkan Samuel hanya terdiam. Dia memilih pergi lewat sisi lain tanpa mengucapkan sepatah kata.
Mata Shena menyipit menatap curiga dengan tingkah aneh mereka berdua. Shena dan Elvino mengejar Samuel begitu juga dengan Melva.
"Sam, kenapa langsung pergi? Nggak suka film-nya?" tanya Shena berusaha menyamai langkah Samuel.
"Ah nggak, Bos. Saya mau ke toilet. Yah, ke toilet. Jadi saya terburu-buru," jawab Samuel.
Bersambung...
Halo semuanya maaf kalau novel ini terpaksa hiatus dulu. Terima kasih banyak buat kalian yang masih setia menunggu update-an dari author. Author sayang sama kalian ❤️😭
__ADS_1