
Keesokan harinya, siang hari. Langkah kaki jenjang Melva melangkah memasuki bengkel Elvino. Matanya menelisik area sekitar bengkel mencari dimana sosok keberadaan Samuel.
Sepatu high heels terdengar nyaring saat kakinya menapaki lantai bengkel Elvino. Namun, hingga terik matahari mulai meninggi Samuel belum juga terlihat batang hidungnya.
Ingin rasanya bertanya pada pegawai lain tapi urung ia lakukan karena gengsi. Jadi, untuk mengusir rasa bosannya Melva mengeluarkan ponselnya dan duduk di ruang tunggu berharap Samuel lekas muncul.
"Dasar, cowok jin botol! Ke mana sih dia? Udah tahu aku lagi sibuk di butik karena pekerjaan banyak ketunda gara-gara si bu bos nikahan eh malah ini nambahin kerjaan," gerutu Melva sambil men-scroll aplikasi belanja online. Tak lupa ia memasang headset di telinganya untuk mendengarkan musik favorit.
Ia tampak semringah melihat banyak sekali barang-barang branded kesukaannya sedang mengadakan diskon besar-besaran. Mulai dari make up, tas, baju juga pernak-pernik lucu. Sesekali ia bersenandung kecil sambil saat menambahkan barang incarannya ke keranjang belanja. Satu per satu ia check out dan bayar lewat aplikasi mobile bangking miliknya.
Asyik menekuri ponselnya, tanpa ia sadari Samuel rupanya sudah datang bersama sebuah truk yang memuat bahan-bahan bengkel Elvino untuk stok. Ia membantu para karyawan lain menurunkan ban, oli dan masih banyak lagi.
Selesai menata stok di etalase, pandangan mata Samuel tertuju pada gadis yang beberapa hari ini mengganggu pikiran dan otaknya. Ia mengerutkan dahi karena kedatangan Melva kali ini. Pasalnya, Shena ataupun Elvino sedang tidak di bengkel. Jadi, ia penasaran dengan tujuan si Melva ini.
Ia berjalan ke arah Melva lalu menyenggol kaki mulus gadis tersebut dengan sepatunya.
"Woi!" teriak Melva.
Sontak hal tersebut membuat Sam menutup kedua telinga karena suara Melva yang menggelegar.
"Suara cempreng kamu bikin telinga sakit tau nggak sih?" protes Samuel.
"Eh, jangan asal ngomong ya Anda. Salah sendiri lagi anteng-anteng duduk manis gini malah di resein. Mana kakimu oli semua itu tuh. Item nih jadinya betisku. Ck, menyebalkan!" gerutu Melva lalu beranjak meninggalkan Samuel yang ternganga karena sikap Melva yang begitu lucu di matanya. Terlebih saat bibir itu maju dua senti karena kesal.
__ADS_1
Samuel terkekeh membayangkan wajah kesal Melva barusan. Menurutnya, gadis itu sangat imut saat menggerutu.
"Ah tidak … tidak! Mikir apa kamu Sam!" batinnya bergejolak.
Tak lama, Melva kembali setelah mencuci bersih betis yang terkena oli karena kelakuan Samuel.
"Lain kali kalo mau nyapa jangan pakai kaki kenapa sih? Mau kutendang apa gimana?" ketus Melva memindai penampilan Samuel yang penuh dengan warna hitam.
"Liat apa kamu? Udah kaya orang mau nelanjangi aja sih?" tanya Samuel.
"Ish nggak napsu lah ya sama cowok bau oli!"
"Astaga, kalo mau ngehina pergi aja dah. Ngapain juga di sini ganggu pemandangan aja! Bos Shena nggak ada di sini. Jadi kalau mau nyari dia ya di apartemen atau rumahnya aja sana jangan ke sini. Ganggu waktu orang aja!" balas Samuel menatap sengit wanita di hadapannya.
"Ish dasar! Aku ke sini mau ngasih kamu ini nih. Bukti pembayaran lunas dan juga sisa uang pembayaran katering mama kamu kemarin. Beliau yang nyuruh aku buat sampein ke kamu aja karena katanya lagi ke luar kota."
Setelah mengatakan itu, Samuel membalikkan badan dan melanjutkan aktivitasnya. Beberapa mobil sudah menunggunya untuk diperbaiki sekaligus di servis.
"Sam! Ish, orang ini bentar doang tinggal terima aja segitu repotnya. Sialann dia emang. Dia pikir dia doang yang banyak kerjaan? Aku juga kali!" cerocos Melva sambil bersungut-sungut karena sebal.
Mau tak mau ia harus menunggu Samuel hingga pekerjaannya terhenti di jam istirahat. Ia kembali menekuri ponselnya. Namun, kali ini ia memilih untuk membaca novel. Aplikasi belanja online-nya sudah ia tutup karena semuanya sudah ia bayar.
Lama-kelamaan matanya mulai terpejam karena sejuknya semilir angin yang melintas membuatnya terbuai ke alam mimpi.
__ADS_1
Diam-diam Samuel memotret pose cantik Melva kala tertidur lelap.
"Ya Tuhan, kenapa dia mendadak jadi manis seperti itu. Tidak seperti kucing liar yang biasa ia tampakkan kepadaku. Aku pikir dia akan pergi tapi ternyata benar-benar menungguku." batin Samuel sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajah Melva.
Buru-buru ia menyimpan ponselnya saat Melva menggeliat dan menguap. Ia tersentak kaget saat mendapati Samuel tengah berdiri satu meter di hadapannya.
"Ngapain kamu di sini?" ketus Melva.
"Ha-harusnya aku lah yang tanya seperti itu. Ngapain kamu tidur di sini?" tanya Samuel sedikit tergagap dan salah tingkah.
Melva menoleh ke kanan dan kiri. Ia tersadar bahwa ini bukanlah butik atau kamar rumahnya. Ia merutuki dirinya sendiri sambil memukul-mukul pelan wajahnya. Bisa-bisanya ia tertidur di tempat seperti ini.
"Bodoh banget kamu Mel! Kenapa kamu malah ketiduran astaga! Aku ngiler nggak tadi aduh jangan-jangan aku mangap tidurnya. Duh kamu gila Mel!" batinnya menggerutu.
Melva segera menyambar tas slempang miliknya kemudian mencari-cari sesuatu yang ia siapkan untuk Samuel sebelum ke sini. "Ah … ehm itu aku sebentar. Aku ambil kuitansi dan bukti pembayaran ke kamu."
Samuel hanya terdiam sambil mengintip isi dari tas Melva. Tak ada yang spesial kecuali sebuah pas foto berukuran kecil menampilkan sosok laki-laki yang terjatuh dari tas Melva. Entah kenapa ada sebersit rasa tak suka menghinggapi hatinya. Ada sebuah emosi membuncah yang ia tak tahu itu apa.
"Aha … ini dia! Nih! Nanti tolong kasihkan ke mama kamu kalau sudah pulang dari luar kota. Simpan baik-baik jangan sampai aku kerja dua kali," seru Melva kemudian menyodorkan dua buah kertas kwitansi kepada Samuel dengan wajah tak sedap.
Samuel langsung mengambil kertas itu dengan cepat kemudian pergi meninggalkan Melva yang tercengang dengan kelakuan aneh laki-laki yang menjadi musuhnya beberapa hari ini.
"Dasar cowok aneh! Nggak bilang makasih nggak apa! Ngeselin emang? Beda jauh banget sama mamanya yang friendly nggak kaya dia yang kaya batu dan kulkas tiga pintu!" Dengus Melva lantas berdiri meninggalkan bengkel dengan menghentak-hentakkan kaki karena kesal. Ia mengendarai mobilnya bertolak ke butik karena masih banyak sekali pekerjaan yang belum ia selesaikan.
__ADS_1
Sementara itu, sepeninggal Melva dari bengkel, Samuel kembali ke tempat di mana Melva duduk tadi. Ia memungut foto milik gadis itu kemudian memandanginya dengan lekat.
"Idih. Gantengan juga aku! Seleranya parah banget sih!" batin Samuel lalu menyimpan foto itu di salah satu saku miliknya.