
Mereka melanjutkan perjalanannya menaiki pesawat business class, hal itu untuk membuat istrinya bisa istirahat dengan nyaman ketika di peejalanan. Waktu empat belas jam tidaklah sebentar. Elvino ingin Shena nyaman dan bisa leluasa menikmati perjalanan tanpa rasa capek dan jenuh.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampailah ke bandara. Di mana sudah ada satu tour guide dan satu sopir yang akan mengantarkan ke mana pun Elvino dan Shena akan pergi.
“That’s amazing! Thank you, Sayang.” Shena merentangkan kedua tangannya setelah dia turun dari mobil.
“Suka?”
“Banget!” Shena mengecup singkat pipi Elvino sebagai ucapan terima kasihnya.
“Ini aja, ucapan terima kasihnya? Harusnya lebih dong!”
“Ish, perhitungan sekali suamiku ini, aku tahu apa yang ada di pikiranmu Tuan Elvino.” Shena melangkahkan kakinya memasuki lobby hotel, mereka disambut oleh bellboy yang siap membawakan barangnya di trolly.
Kota Paris adalah kota yang sangat terkenal keindahannya. Bangunan-bangunannya bersejarah era Victoria. Bersatu dengan gaya modern, ada menara Eifell yang tersohor sebagai lambang kota Paris, serta terdapat Sungai Seine yang membelah kota tersebut. Paris juga dikenal sebagai pusat lahirnya produk bermerek. Maka tak heran, Paris selalu menjadi tempat tujuan para wisatawan. Selain kota yang romantis, banyak juga yang datang untuk berbelanja di sana.
Shangri-La Hotel menjadi pilihan Elvino untuk menginap bersama sang istri. Hotel bintang lima itu selalu menyuguhkan kemewahan dan sensasi liburan yang tak terlupakan. Terletak di jantung kota Paris sehingga memudahkan sepasang pengantin itu untuk mendatangi tempat-tempat wisata lainnya.
Saat di koridor hotel, Elvino dan Shena tak sengaja bertemu beberapa wanita Paris yang juga ikut masuk lift. Tiga wanita berpakaian sangat seksi, Shena mulai resah dan melirik suaminya. Takut lelaki itu akan memerhatikan para wanita tersebut.
"Sayang, awas ya. Jaga matanya! Sedikit aja ngelirik ke samping, aku akan kasih kamu hukuman," bisik Shena seraya mempererat tangannya yang melingkar di pinggang Elvino.
Lelaki itu pun merasa sedikit tertekan, bagaimana bisa istrinya sewaspada itu pada suaminya.
__ADS_1
Ketiga wanita itu tampak memandangi Elvino, pesonanya memang banyak digandrungi karena gagah dan ketampanannya.
Satu wanita dengan sengaja menabrak Elvino hingga kehilangan keseimbangannya. Padahal itu semua hanya modus karena ingin memegang Elvino dan berkenalan dengannya.
Shena refleks membantu wanita tersebut sebelum Elvino. Ia tak rela jika sejengkal kulit Elvino menyentuh wanita ganjen tersebut. "Are you okay, Miss? Sorry if my husband hurt you," tukas Shena.
"Im okey, thanks." Wanita tersebut mendengkus sebal lalu meninggalkan Elvino dan Shena karena malu dan gagal melakukan aksinya. Elvino terkekeh dan merasa senang dengan kecemburuan yang Shena tunjukkan. Namun, ia malah mendapat tatapan tajam dari sang istri.
Elvino mengangkat kedua jari membentuk huruf V tanda damai kepada Shena. Wanita tersebut justru mengerucutkan bibir karena sebal. Elvino gemas dan mengecup bibir tersebut agar Shena tak melanjutkan aksi ngambeknya dan itu berhasil. Shena kembali tersenyum malu meski ia menyembunyikannya dengan cara menoleh ke arah lain.
Usai menyelesaikan administrasi, Shena dan Elvino bergegas menuju lift di ikuti oleh bellboy yang bertugas membantu membawakan barang-barang mereka. Tanpa memedulikan tatapan para pengunjung hotel keduanya berjalan saling memeluk, sesekali bercanda menertawakan hal-hal kecil dan mengecup pipi satu sama lain. Hal itu membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iri.
Dua koper besar berhasil masuk ke dalam kamar mereka yang terletak di lantai tujuh. Kamar dengan kasur king zise membuat Shena takjub dan berdecak kagum. Desaign simple dan mewah ditambah lukisan klasik menambah kesan apik nan elegan di kamar suite tersebut. Kombinasi cat yang berwarna putih dengan warna krem, sangat cocok dipadukan dengan furniture set meja dan sofa yang senada. Tak lupa bar mini dan lemari besar di ujung ruangan melengkapi fasilitas hotel mewah tersebut.
Elvino memberikan sejumlah uang tips kepada sang bellboy sebagai tanda terima kasih karena sudah membantunya membawakan barang bawaan mereka. Setelah itu, sang bellboy pun pamit undur diri. Kini tersisa hanya Shena dan Elvino.
Kemudian, ia berjalan ke kamar mandi dengan langkah perlahan. Sesekali menengok ke arah Elvino yang sedang menelisik setiap sudut ruangan kamar mereka. Tanpa ia sadari, sebenarnya semua hal yang Shena lakukan tadi tak luput dari perhatian Elvino.
Shena terkejut saat mendapati Elvino menahan gagang pintu kamar mandi saat Shena hendak menguncinya.
"El, aku mau mandi." Shena berusaha menutup pintu itu dengan sekuat tenaga. Namun, tentunya kekuatannya tak sebanding dengan Elvino.
Pria tersebut berhasil masuk kemudian memutar anak kunci dan pintu tertutup sempurna.
__ADS_1
"A-aku mau mandi, Elvino Sayang. Ka-kamu keluarlah dulu." Shena mendadak gugup karena tatapan Elvino yang penuh arti.
"Bath up itu terlalu besar untuk dipakai sendiri. Jadi, aku akan menggunakannya denganmu agar lebih efisien," dalih Elvino.
"Ta-tapi,"
Tanpa menunggu Shena menyelesaikan kata-katanya, Elvino menyambar bibir ranum milik sang istri dengan penuh kabut gairah. Napasnya memburu memagut bibir Shena dengan mesra.
Wanita itu akhirnya menutup mata karena terbuai dengan ciuman Elvino. Lama-kelamaan, pagutan mereka semakin liar hingga tanpa terasa mereka sudah saling polos tanpa sehelai benang pun. Pakaian yang melekat pada mereka berserakan entah ke mana. Elvino memojokkan Shena ke dinding lalu memeluk Shena dengan posesif.
Tangannya bergerilya dengan penuh kelembutan hingga membuat seorang Shena meloloskan lenguhannya. Akhirnya penyatuan kembali terjadi dengan berbagai gaya di setiap sudut kamar mandi dan bath up. Mereka bermandikan keringat dan peluh hingga kelelahan.
Selesai mandi, mereka memakai bathrobe hotel lantas tidur saling berpelukan melepas penat selama perjalanan.
Satu jam berlalu, Shena terbangun karena merasa sangat lapar. Ia beringsut dari ranjang dan perlahan melepaskan pelukan posesif Elvino tanpa berniat membangunkannya.
Ia tersenyum mengingat percintaan mereka tadi di kamar mandi. Leher dan dadanya kini penuh dengan lukisan yang Elvino buat. Pipinya bersemu merah karena mal,u tetapi ia mengakui bahwa ia mulai candu dengan sentuhan sang suami. Rasanya tak membuatnya bosan malah justru ingin melakukannya lagi dan lagi.
Shena terlupa bahwa ia belum mengabari orang tua dan juga mertua bahwa mereka sudah sampai dengan selamat. Shena bergerak menuju nakas tempat sling bag dengan merk terkenal miliknya.
Ia mengambil ponsel dan mengaktifkannya. Terdapat beberapa pesan dan puluhan panggilan dari orang tua, mertua dan juga Melva yang khawatir tentang perjalanannya. Dia duduk di tepian ranjang lalu membuka kunci ponselnya menggunakan password yang ia hafal di luar kepala.
Senyum menghiasi bibirnya saat membalas pesan demi pesan yang dia terima. Tanpa ia sadari, rupanya Elvino juga sudah terbangun. Tangannya terulur memeluk pinggang Shena.
__ADS_1
"Siapa? Kok senyum-senyum gitu balas pesannya?" tanya Elvino dengan suara khas bangun tidur.
"Ada deh," goda Shena.