Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Kedatangan Bos


__ADS_3

Mobil Elvino terpakir sempurna di sebuah butik milik istrinya, dia pun turun dengan berlari kecil mengurai depan mobil guna membukakan pintu untuk permaisuri tercinta.


“Awas kepala kamu, Yang!” ucap Elvino yang memberitahu kepada sang istri saat tangannya melindungi kepala Shena agar tidak terbentur atap mobil.


“Terima kasih, Sayang.” Shena tersenyum kepada Elvino saat dia baru saja keluar dari dalam mobil.


Elvino langsung menggandeng tangan Shena untuk berjalan menelusuri para karyawan yang tengah memperhatikan sedaritadi, membuat jiwa jomblo para karyawan yang belum menikah pun meronta-ronta saat menyaksikan keromantisan pasangan suami-istri selepas pulang dari bulan madu.


“Eehhum, ciiee ... tambah mesra aja nih bos kita, pulang dari honey moon,” ledek Melva yang berani.


Ya, tentu saja siapa lagi kalau bukan Melva karyawan yang satu-satunya bisa berkata terang-terangan dengan berani pada atasan mereka, tentu hal itu membuat semua karyawan ikut meledek Elvino dan Shena.


“Ahaay,” celetuk karyawan yang lain usai mendengar ledekan Melva.


“Ciieee ... Uhhuuuy,” timpal yang lain sembari tertawa dan ikut senang melihatnya. “Prikitiwwwww!”


“Oleh-olehnya apa ya ...?” tanya salah satu karyawan dari kejauhan, ruangan yang cukup besar dan luas membuat suara karyawan tersebut terdengar jelas oleh telinga Shena.


Hal itu membuat dua sejoli yang sedang kasmaran pun hanya tertawa kecil mendengar ledekan mereka, apalagi Shena yang menampakan wajah bersemu dengan pipi merah merona karena malu.


“Tenang, oleh-oleh banyak di bagasi,” ucap Shena yang berteriak sedikit kencang, karena memang kebetulan suasana dalam butik masih sepi akan pengunjung dan belum terlalu ramai. “Mel, tolong bagikan satu persatu ya!”


Mendengar bahwa mereka mendapatkan oleh-oleh, membuat semua karyawan Shena bersorak gembira karena begitu senang.


“Wah serius, Bos?” tanya Melva yang mendapatkan anggukan dari Shena. “Asyiikkk ... Iihhiiy!”


Melva dengan perasaan senangnya dia berlari mengambil hadiah yang berada di bagasi belakang mobil, dia pun berlari sampai tak sengaja menginjak salah satu kain perca panjang hingga membuat dia pun sedikit kehilangan keseimbangan.


“Eeh, eehh ... hati-hati, Mel!” ujar Shena yang terkejut melihatnya.


“Heheh, maaf Bu Bos, sangking senangnya saya!” ucap Mel dengan polosnya, dia pun membuka bagasi mobil di mana semua teman-temannya sudah mengerubunginya. “Weei, antri woy!”


Sekali satu teriakan semua karyawan pun pada berbaris dengan rapi, Melva langsung mengambil beberapa paper bag sebagian terlebih dahulu untuk diberikannya kepada teman-temannya, sampai paper bag yang berada di dalam bagasi pun habis.


“Terima kasih, Pak Bos dan Bu Bos, semoga berkah, cepat mendapatkan momongan, dilipatgandakan rezekinya. Aamiin!” ucap serempak seluruh karyawan Shena yang mendoakan pasangan tersebut.


“Ya, sama-sama! Semoga kalian semua suka dengan oleh-oleh yang istri saya sendiri pilihkan, semoga bermanfaat untuk kalian semua,” sahut Shena dengan senang melihat raut wajah wajah para karyawannya berseri-seri kecuali Melva.


“Bos sa—“


“Wah kalau Bu bos sendiri yang pilihin dijamin pasti pas di hati!” celetuk salah satu karyawan yang memotong ucapan Melva dan membuat semua tertawa.

__ADS_1


“Awas kamu ya!” Tunjuk Elvino dengan kekehan saat tangan satunya lagi menggenggam tangan Shena. “Alhamdulillah kalau begitu, jadi saya tidak perlu khawatir kalau kalian tidak suka, kalau begitu tambah semangat lagi ya kerjanya, fighting!”


“Bos, saya bagai—”


“Cahyooo, Bos! Huba huba ... huura!” Semua kompak menyanyikan yel-yel semangat saat tangan mereka semua menyatu saling menempel satu lain lalu di angkat secara bersamaan dan tetap tidak menggubris ucapan Melva.


“Kita ke gudang dulu sebentar ya?” tanya Elvino yang mencubit dagu Shena dengan gemas lalu mencium punggung tangan Shena.


“Bos, lah ...!”


“Emang kita ke gudang mau ngapain?” tanya Shena dengan curiga sedangkan langkah mereka perlahan menuju ruangan Elvino bukan ke gudang dan tetap berpura-pura tidak mendengar ucapan Melva.


“Kita ....” bisik Elvino yang membuat Shena terkejut.


“Iihh ... El!” Shena mencubit dengan gemas saat mendengar ucapan Elvino, sang empu pun tertawa senang karena berhasil mengerjainya.


“Boos! Ini bagaimana oleh-oleh buat saya? Saya belum dapat, lah ....” protes Melva ketika dia belum mendapatkan oleh-oleh dari bosnya. “Ya elah ... kacang mahal!”


Tiba-tiba Shena melempar kunci mobil pada Melva sebelum masuk ke dalam ruangannya, tentu buat dia senang bukan main saat menerima kunci mobil karena dia pikir oleh-oleh yang diberikan oleh Shena kepadanya adalah sebuah mobil mewah, tapi nyatanya dia harus mengambil oleh-oleh tersebut di dalam mobil mewah milik sang bos.


“Ya elah, di kirain oleh-olehnya mobil!” Melva terkekeh dan melihat paper bag yang berbeda dari karyawan lainnya..


Selesai di butik, Elvino dan Shena langsung menuju bengkel. Tak sabar lelaki itu untuk segera sampai ke tempat usahanya itu karena sudah lama dia tinggalkan tanpa pantauan.


“Sayang, sebaiknya kamu nggak usah turun, biar aku aja sendiri,” ucap Elvino seraya melepas seat belt-nya.


“Loh, memangnya kenapa, sih?” tanya Shena penasaran.


“Sayang tau sendiri, kan, di bengkel banyak sekali lelaki, aku nggak mau semua mata terpusat pada kecantikan kamu nantinya.”


“Bukannya sebelumnya aku juga sering keluar masuk di bengkel. Kenapa sekarang harus ada larangan sih, Sayang?”


“Please, nurut aja ya.” Elvino mendekat dan mencium pipi sang istri. “Aku turun sebentar, aku janji nggak akan lama. Aku cuma mau memberikan bingkisan itu dan langsung balik lagi ke sini.”


“Pokoknya aku mau ikut, aku juga pengen tau bagaimana suasana di bengkel. Kangen tau!”


Elvino menghela napas kasar. Padahal, lelaki itu hanya ingin istrinya diam di mobil untuk menunggunya. Dia memang kurang suka pada mata lelaki yang selalu memerhatikan istrinya itu. Terlebih sejak menikah, aura Shena tampak semakin cantik dan memesona. Bahkan mampu menghipnotis kaum pria yang memandangnya.


“Baiklah kalau begitu, kita turun. Tapi inget ya, kamu nanti di ruanganku aja, Sayang.”


“Ya, ya, aku hanya ingin jalan-jalan ke dalam kok, bukan ingin melihat para montir bekerja, ya meskipun mereka terlihat sangat hot saat menyervis. Kamu sengaja ya, Sayang, terima karyawan yang badannya kekar semua. Keren banget!” ucap Shena seraya menatap ke awang-awang seolah membayangkan para lelaki bertubuh kekar.

__ADS_1


“Apa?” Elvino membulatkan matanya sempurna karena menahan emosi.


“Aku cuma bercanda, Sayang. Suka banget lihat kamu cemburu begitu. Hahaha.”


“Dasar istri nakal!” Elvino mencubit manja hidung Shena.


Apa yang dikatakan Shena memang benar, Elvino memang menyeleksi semua pekerjanya, dia meletakkan sesuai keahliannya masing-masing. Namun, bagian montir mobil memang kebanyakan dia memilih yang berbadan besar supaya lebih mudah mengangkat barang berat.


Elvino berjalan beriringan dengan Shena, tangan lelaki itu bahkan tak pernah lepas menggenggam tangan istrinya.


“Siang, Bos!” beberapa karyawan tampak menyambut kedatangan Elvino dengan friendly.


Lelaki itu pun meresponsnya dengan baik dan menunjukkan keramahtamahannya meskipun kadang kala dia sedikit tegas saat bekerja. Elvino dia lalu menemui Sam dan menyuruhnya ke ruangan. Kemudian, Shena juga langsung didudukkan di sana.


Akan tetapi, ada satu karyawan yang bahkan tak berkedip memerhatikan Shena. Hal itu disadari langsung oleh Elvino. Lelaki itu berdehem dan menatap karyawannya. “Jangan memandang istriku lebih dari tiga detik, paham!”


“Sayang, kamu apaan sih, lebay banget!”


“Mereka yang lebay, kenapa harus menatapmu seperti itu!”


Mereka lanjut berjalan dan menghampiri Samuel yang tengah sibuk mencatat laporan pembukuan di ruangannya.


“Gimana semuanya, Sam, aman?”


“Aman terkendali, Bos! Cepat sekali kalian honeymoon, kukira akan berbulan-bulan sampai si El junior hadir.” Sam terkekeh, Shena yang mendengarnya pun merasa sedikit malu.


“Sam, harusnya kamu tuh cepat nikah tau, nggak pengen apa diperhatiin istri gitu?”


“Jodohnya yang belum ada, Bu Bos!”


“Melva aja, dia jomlo tuh!” goda Shena sedikit menyeru.


“Di wanita bar-bar yang pernah kutemui, kalau bisa, jodohku nanti harus yang lemah lembut dan nggak pecicilan kaya tuh cewek.”


“Awas jatuh cinta beneran, Bro. Terlalu membentengi itu nggak baik, ujung-ujungnya nanti ditakdirkan bersama, ketula, kan!” Elvino tertawa lepas karena berhasil menggoda Samuel. “Oh iya, ini bagikan ke anak-anak ya, punya kamu yang di paperbag hitam.”


“Thank you, Bos. Kalian memang Bos terbaik. Sepertinya di sini aku paling spesial,” tutur Samuel seraya mengambil paper bag tersebut.


“Tentu saja, Sam, kamu udah bantu pernikahan kita, belum lagi ngehandle bengkel suamiku, jadi kamu patut mendapatkan lebih. Terima kasih ya sudah mau kita repotkan” ucap Shena yang tengah duduk di sofa berdampingan dengan Elvino.


“My pleasure!” jawab Sam mengangguk.

__ADS_1


“Ya, sudah. Kalau begitu aku pergi sekarang. Kasihan istriku belum makan.” Elvino mengelus pipi wanita itu dengan mesra.


“Wait, Bro. Tahan! Aku keluar dulu, setelah itu kalian bebas bermesraan. Kenyang lihat kalian!” umpat Samuel yang buru -buru keluar dan membawa beberapa paperbag untuk dibagikan pada para karyawannya


__ADS_2