
“Loh di mana salahnya? Papa tanya ke Elvino kok.” Kilah Bagaskara. Sandra hanya terdiam enggan memberikan komentar.
“Tapi, Pa—“
“Tidak ada tapi-tapian. Elvino, segera datangi rumah kami dan lamar Shena. Nanti urusan persiapan biar Mama yang urus. Ya kan, Ma?” tanya Bagaskara kepada istrinya.
“Mama terserah Papa aja,” jawab Sandra menyetujui karena di sisi lain dia memang sudah ingin segera menimang cucu.
Setelah berdebat panjang pada akhirnya Shena lagi-lagi tidak bisa menentang keputusan sang Papa yang sangat keras kepala itu. Kemudian, tak lama mereka menyelesaikan makannya dan berencana pulang.
Elvino dan Shena mengantarkan kedua orang tua Shena ke lobi. Usai papa dan mama pergi, Shena terdiam. Dia tak mampu berkata apa pun untuk saat ini. Sedangkan Elvino sebaliknya, banyak yang ingin dia sampaikan termasuk perihal istrinya. Namun, belum sempat dia berucap, tatapannya terkunci saat melihat Celia—istrinya sedang menatap ke arahnya dengan tatapan bengis dari arah kejauhan.qq
Istri mana yang tak kesal, melihat suaminya tengah berada di mall bersama wanita. Elvino panik lantas berlari meninggalkan Shena dan bergegas mengejar Celia. Shena membeku, dadanya terasa sesak melihat pemandangan tersebut.
Saat kedua mata saling bersitatap, ketika itu pula Elvino mengejar Celia dan meninggalkan Shena tanpa satu patah kata pun. Shena yang terkejut akan sikap Elvino yang tiba-tiba lari tergesa, matanya menelisik menyaksikan apa yang terjadi.
“Siapa wanita itu? Apakah dia kekasihnya El? Apa ... cintaku bertepuk sebelah tangan?” tanya Shena dalam hatinya. Namun, dia enggan mencari tahu karena menghindari sakit hati yang mungkin saja akan membuatnya semakin sesak. Shena memilih meninggalkan tempat tersebut seorang diri tanpa menghiraukan Elvino.
Semenjak Celia memergoki Elvino dengan Shena siang itu, hubungan rumah tangganya dengan sang istri semakin merenggang. Elvino tidak mau bila rumah tangganya semakin kacau, karena bukan ini yang dia mau dalam menjalin biduk rumah tangga dengan sang istri.
Walaupun sering terjadi selisih paham antara kedua pasangan suami istri tersebut. Namun, Elvino memilih untuk berusaha memperbaiki rumah tangganya. Dia percaya suatu saat nanti Celia akan bisa berubah menjadi sosok istri yang lebih baik.
Elvino memutuskan untuk menjaga jarak dengan Shena yang sebenarnya sudah mengusik kehidupannya. Namun, tak dapat dipungkiri sejak kehadiran wanita itu, hidupnya menjadi lebih berwarna. Akan tetapi, dia sangat menjaga statusnya kali ini sebagai seorang suami.
“El ... come on, kamu pasti bisa melewati ini semua!” ucap Elvino yang menyemangati dirinya sendiri karena berniat melupakan Shena.
Suara ketukan pintu ruangan pribadi Elvino yang berada di bengkel menyadarkan Elvino dari berbagai macam pikiran yang ada di benaknya.
Samuel menyerahkan hasil data pemasukan selama sebulan penuh kepada bosnya, Elvino pun tersenyum melihat hasil laporan tersebut. Dia langsung menandatangani berkas tersebut lalu menyuruh Samuel untuk membeli beberapa stok spare part yang sudah menipis di gudang.
“Baik, Bos!” sahut Samuel. Dia keluar dari ruangan Elvino ketika sudah mendapatkan perintah dari atasannya.
__ADS_1
Suara notifikasi berdering pada ponsel Elvino, dia melihat nama Shena pada layar ponselnya yang mengirim pesan singkat, hatinya bergerak untuk membalas pesan tersebut, tetapi prinsipnya kembali mengingatkan dia akan keteguhan dirinya yang mulai menjauh dari wanita itu.
Sudah berkali-kali, wanita itu mengirim pesan pada Elvino, tapi dia tidak menanggapinya, bahkan hanya sekedar membaca pesan tersebut pun juga tidak dia lakukan.
Di sisi lain, Shena yang merasa kesal ketika pesannya diabaikan oleh Elvino langsung meneleponnya. Akan tetapi tetap saja panggilan telepon pun dia tidak mau mengangkatnya.
“IIhh ... ngeselin banget sih, nih orang!” umpat Shena yang melempar ponselnya di atas meja kerjanya.
“Sok, sibuk banget! Padahal cuma mau tanya kapan mobil aku selesai! Apa susahnya balas pesan dari coustomernya coba!” tutur Shena, walaupun dirinya juga menginginkan bisa lebih dekat dari sekedar pacar pura-pura semata.
“Aaakkhh ... kenapa nggak dibalas coba? Apa aku melakukan kesalahan, ya? Buat dia ilfeel? Atau sebenarnya, dia sudah punya pacar?” tebak Shena sembari berpikir letak kesalahannya.
Sementara waktu Shena tidak mau mengambil pusing dengan sikap Elvino yang berubah, dia kembali melanjutkan pekerjaannya dalam mendesain baju yang hampir selesai dia buat.
Waktu terus bergulir, sampai sentuhan terakhir pada rancangan yang dia buat pun berhasil Shena selesaikan. Maha karya dari seorang desainer wanita cantik kini siap untuk launcing dan bersaing dengan perancang busana terkenal lainnya.
“Mel, coba lihat! Bagaimana menurut kamu?” tanya Shena kepada asisten pribadinya.
“Ok, kalau gitu ... bawa ini ke bagian produksi, sebagai contoh, karena kita langsung buat, tapi jangan banyak! Kita hanya bikin tiga dulu,” ujar Shena.
“Loh, kenapa tidak langsung produksi dalam jumlah banyak?” tanya Melva penasaran.
“Strategi marketing dong, Sayang! Karena, kan, bahan kainnya itu impor, ditambah mutiara pada bagian atasnya jarang ada!” Shena mengambil beberapa catatan yang harus dia beli bersama Melva.
“Oh, gitu! Eh, mau ke mana?” tanya Melva, saat tangannya langsung di tarik oleh Shena.
“Anterin aku untuk beli beberapa bahan yang habis,” ucap Shena.
Mereka pun pergi ke mall untuk membeli beberapa persediaan di butiknya, menggunakan mobil Melva. Begitu banyak keperluan yang mereka beli untuk persediaan di toko butik Shena.
Pada pertengahan jalan pulang, mobil yang dikendarai oleh Melva mengalami kendala, sudah berapa kali Melva menyalakan mesin mobilnya, tetapi mobil tersebut enggan untuk berjalan.
__ADS_1
“Jangan bilang, mobilnya mogok!” ujar Shena.
“Aku periksa mesinnya dulu deh.” Melva turun dari mobil dan membuka penutup pada bagian mesin mobilnya, asap hitam keluar dari mesin mobil sampai Melva terbatuk-batuk akibat menghirup asap mobil yang sudah mengepul.
Shena pun tertawa geli, saat melihat raut wajah sahabatnya penuh noda hitam. Dia pun bertanya, “Kenapa, Mel?”
“Sorry! Mobilnya mogok,” keluh Melva.
Shena masih terus tertawa melihat wajah asistennya, akal Shena langsung tercetus menghubungi nomor Samuel untuk menderek mobil Melva ke bengkel.
“Ya sudah, aku telepon montir dulu!” Shena langsung menghubungi pihak bengkel.
Tidak begitu lama, ketika Shena menghubungi bengkel Elvino. Montir tersebut membawa mobil derek untuk membawa mobil itu ke bengkel.
Shena mengambil kesempatan untuk menemui Elvino dan menanyakan perihal sikap Elvino yang menjauh dari dirinya.
“Mel, tunggu sebentar, ya!” pinta Shena, ketika mereka sudah berada di bengkel tersebut dan asisten pribadinya pun mengangguk.
Langkah kaki Shena mendekat ke arah montir yang sedang memperbaiki mobil Melva, dia bertanya pada montir tersebut. “Montir yang bernama Elvino di mana?”
Samuel pun melirik ke arah Shena dengan tatapan penuh heran, kemudian dia menunjuk keberadaan Elvino.
Mata Shena mengikuti arah yang ditunjuk oleh montir tersebut, dia melihat Elvino sedang menyuruh beberapa pegawainya untuk bergerak cepat.
“Ok, Thanks.” Shena melangkahkan kakinya setelah mengucapkan terima kasih pada montir itu.
Langkah kaki Shena berjalan dengan anggun, bak seorang model dengan kaki jenjangnya. Dia berhenti tepat di belakang Elvino yang masih memberi perintah kepada pegawainya.
Para pegawai yang mendengar perintah dari Elvino, berniat memberitahu, bahwa ada Shena yang berdiri tepat di belakang Bosnya. Akan tetapi, Shena memberikan isyarat agar tidak memberitahu keberadaannya.
“Ck, sok jadi Bos!” ucap Shena dalam hati. Dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Elvino.
__ADS_1
Bersambung...