
“Shena, apa kamu mau tinggal bersamanya?” tanya Sandra menanyai Shena yang tengah termenung.
“Shena ....” Shena menggantung ucapannya, di sisi lain, tak dapat dia pungkiri jika sebenarnya ingin sekali hidup bersama lelaki yang dia cintai. Namun, dia tidak tenang jika statusnya masih menjadi istri kedua.
Melihat anaknya yang tampak bingung, Sandra pun melirik ke arah suaminya dan berkata sembari berbisik, “Pa, atau begini aja, sementara Shena tinggal bersama kita selama sebulan. Nanti, setelah masa idah istrinya El selesai, baru kita lepas Shena tinggal dengan El.”
Bagaskara pun mencerna ucapan istrinya, ada benarnya juga. Lelaki itu pun akhirnya membuka suara. “Baiklah, kalau begitu aku putuskan, Shena tetap tinggal bersama kita selama satu bulan. Kita mau melihat seberapa gigihnya usaha kamu untuk menjadi suami terbaik buat Shena, kita juga akan mencoba melepas Shena untukmu. Tapi, kalau sampai sekali lagi kamu menyakiti anakku, aku tidak akan melepaskanmu, aku pastikan kamu juga akan menderita seumur hidupmu. Paham?”
Ancaman Bagaskara membuat Elvino susah menelan air liurnya. Tenggorokannya seperti tercekik, sulit untuk dia bernapas. Namun, Elvino tetap berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takutnya di hadapan Bagaskara.
“Ba-baik, Pa.” Elvino mengangguk, mau tidak mau dia harus menuruti perintah mertuanya. Meskipun sebenarnya dia begitu ingin hidup bersama Shena, tetapi Bagaskaralah yang berkuasa atas Shena.
Sementara itu, di rumah Celia. Tengah dihebohkan dengan kedatangan mobil box di rumahnya. Entah apa yang terjadi, mamanya Celia tengah bersitegang dengan sang sopir mobil box tersebut. Celia yang melihat hal tersebut. Dia langsung keluar rumah dan menyaksikan apa yang terjadi. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, dirinya akan menjadi orang asing lagi bagi keluarga Elvino. Ternyata dia sudah benar-benar tidak dianggap sebagai menantu ataupun istri dari Elvino.
“Ada apa ini, Ma? Kenapa ribut-ribut?” tanya Celia.
“Ini nih, gara-gara ulah kamu, lihat! Semua barang-barang kau dipulangin sama Elvino. Dasar anak bodoh!” umpat sang mama terhadap anaknya.
“Apa?” Celia lantas berjalan ke belakang mobil box tersebut dan mengeceknya.
Ternyata, mobil box itu berisi semua barang-barang Shena. Mulai dari tas, baju, make up, dan semua pernak pernik yang berbau Celia ada di sana.
“Apa-apaan ini, siapa yang menyuruhmu, hah?” tanya Celia pada dua orang sopir yang tengah berdiri di dekat mobil box tersebut.
__ADS_1
“Saya hanya menjalankan perintah Nyonya Sandra, Nona.”
“Kurang ajar!” Celia pun langsung merogoh ponselnya di saku, dia lantas menghubungi Sandra, menanyakan maksudnya. Namun, telepon tersebut tak diangkat dan ahkan Sandra menolak panggilan tersebut.
“Ma, gimana ini?” rengek Celia yang menyesali perbuatannya.
“Mama nggak mau tahu! Urus aja urusan kamu sendiri!”
Emma melakukan hal tersebut karena merasa jengah dan sudah jijik dengan menantunya itu. Malam itu saat Emma menelepon Elvino, memastikan di mana Elvino tidur. Sebagai anak satu-satunya, walau sudah dewasa sekali pun, Emma tak pernah mengabaikan Elvino, dia selalu mencurahkan semua perhatiannya untuk anak lelaki satu-satunya itu. Elvino berkata pada sang mama jika dirinya tengah tidur di bengkel malam itu, alasannya karena dia tidak ingin tinggal di rumah selama ada barang Celia di sana. Hal itu hanya akan mengingatkan memorinya pada istri laknat tersebut. Padahal, malam itu Elvino tengah berada di hotel bersama Shena saat setelah pernikahan mereka usai.
Mendengar hal tersebut, Emma langsung mengambil tindakan untuk menyuruh para asisten rumah tangga Elvino untuk mengemas semua barang-barang Celia. Setelah semuanya terkumpul hingga bersih, barulah wanita itu memanggil jasa mobil box untuk mengantarkan barang itu ke rumah Celia.
Emma berpikir, jika barang Celia sudah tidak ada di rumah tersebut. Maka anak lelakinya itu akan mau tinggal di rumah. Padahal, yang sebenarnya terjadi, Elvino sudah meminta seseorang untuk mengurus penjualan rumah tersebut. Dia tidak mau tinggal di rumah yang penuh dengan kenangan Celia.
Sementara itu, di rumah Shena. Usai setuju dengan keputusan yang dibuat oleh mertuanya, kini Elvino pamit untuk pergi ke bengkel. Langkahnya begitu berat ketika dia tahu setelah ini dia akan tidur sendiri tanpa memeluk Shena, dapat dia rasakan akan seperti apa malamnya tanpa sang istri.
"Heemm, aku ... pamit dulu, ya! Kamu baik-baik di rumah, kalau misalkan mau sesuatu tinggal telepon aku aja." Elvino menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di depan pintu.
"Hem," jawab Shena seraya mengangguk.
"Besok pagi, aku jemput kamu. Besok kamu ke butik,kan? Jangan lupa makan teratur, jangan tidur malem-malem! Kalau nggak bisa tidur langsung telepon aku, oke?" Elvino memegang ke dua tangan Shena seraya berbicara panjang lebar dengan tatapan serius.
"I ... ya," jawab Shena dengan penuh penekanan saat mendengar celotehan suaminya yang begitu beruntun.
__ADS_1
Elvino tertawa kecil saat mendengar jawaban dari sang istri, dia pun kembali teringat sesuatu yang harus dia sampaikan. "Oh, iya satu lagi ... jangan nakal selagi aku nggak ada didekat kamu!"
"Iya ... bawel, dah sana! Hati-hati di jalan!" Shena mencium tangan suaminya dengan canggung karena Elvino menyodorkan punggung tanganya untuk dia cium, yang kemudian keningnya mendapatkan kecupan manis dari pria yang kini menjadi suaminya.
Kecupan itu tidak sebentar, begitu dalam sampai Elvino memejamkan matanya untuk meresapi momen-momen romantisnya pada Shena seraya berkata, "Aku berangkat kerja dulu, bye!”
Elvino berpamitan pada sang istri, padahal dalam benaknya dia ingin sekali mengatakan ‘I love you’, tetapi dia memilih untuk menunggu momen romantis untuk mengungkapkan perasaannya. Saat Shena sudah mulai berdamai dengan keadaan dan melupakan semua masalah yang pernah ada dengan suaminya itu.
Shena terpaku mendapatkan perlakuan manis dari Elvino seraya memegang keningnya yang dikecup mesra oleh suaminya. Tanpa dia sadari, tangannya membalas lambaian tangan Elvino yang sudah berada di dalam mobil dan melajukannya secara pelan sampai mobil itu menghilang dari arah pandangan Shena.
Shena merasakan debaran jantungnya yang masih berasa meski pria itu telah pergi. Pipinya juga masih merah merona ketika dia sudah berada di dalam rumah, tidak lupa juga senyumannya mengembang di wajah manis Shena. Membuat Sandra dan Bagaskara melempar tatapan aneh ke arah anaknya.
"Loh, Shena kenapa, Mah? Kok aneh banget?" tanya Bagaskara yang masih duduk di ruang tamu.
Sandra mendengus pelan melihat sikap suaminya seraya menepuk jidatnya sendiri dan meninggalkan sang suami yang masih kebingungan. "Papa, Papa!"
"Loh, Mama kok pergi? Ma, tunggu!" Bagaskara tambah bingung dengan sikap kedua wanita yang paling berharga di hatinya.
"Tau, akh! Masa begitu aja Papa tidak tahu!" kesal Sandra yang menangkis tangan suaminya.
Bersambung...
Maaf ya, author sibuk banget hari ini jadi baru bisa upload. Semoga kalian suka part ini yaa. Tetap jaga kesehatan di tengah maraknya wabah batuk pilek dan cuaca yang ekstrim ya guys. Semangat jalani aktivitas. Love you ❤️
__ADS_1