
“Dasar anak durhaka ... kamu lebih melindungi dia! Pake bajumu!” bentak mama Celia yang mendorong jidat anaknya dengan satu jari.
Usai memakai celana, Roger pun bergegas pergi dari kamar itu sesudah menyempatkan mencium kening Celia, lalu pergi dari rumah itu dengan tergesa-gesa sampai dia hanya memakai celana saja.
“Dasar kurang ajar! Masih berani mencium anak saya!” maki sang Mama, saat pria itu sudah keluar dari dalam kamar.
“Mah, sudah!” Celia menahan tahan sang mama agar tidak mengejar Roger.
“Pakai baju kamu! Mama mau bicara sama kamu! Mama tunggu di bawah!” bentak Mama Celia, dia pun ke luar dari kamar itu.
Celia pun bergegas memakai bajunya dan menghampiri Sandra yang berada di ruang tamu, dia melihat dari arah tangga yang dia turuni, bahwa ada rasa amarah pada diri mamanya.
“Mah,” panggil Celia dengan lembut.
“Kamu itu kenapa sih, bisa melakukan itu di belakang Elvino? Mama enggak habis pikir sama kamu! Pokonya Mama mau, kamu harus mengakhiri hubungan gelap kamu dengan laki-laki brengsek itu!” perintah Sandra.
Celia yang mendengar suruhan dari Mamanya, merasa kesal. Dia tidak mau bila hubungannya bersama Roger berakhir begitu saja, karena bagi dirinya, Roger bisa memberikan apa yang tidak bisa dia dapatkan dari sang suami.
“Pokoknya, Mama tidak mau, kamu masih berhubungan lagi dengan dia!” tukas sang mama dengan nada marah.
“Kenapa Mama larang Celia?” tanya Celia yang masih dengan egonya.
__ADS_1
Sandra tidak mau bila anaknya di ceraikan oleh Elvino dan menjadi janda setelah mengetahui bahwa anaknya telah selingkuh dan tidak mendapatkan harta Elvino, karena itu dia juga menyarankan kepada Celia agar bisa menjadi istri yang diinginkan Elvino dan mengambil hatinya.
“Awas saja, kalau kamu tidak mau menuruti ucapan Mama! Jangan harap Mama masih menganggap kamu anak!” ancam sang Mama yang tidak bisa di bantah.
Mau tidak mau, Celia menuruti keinginan sang Mama, walaupun hatinya ingin menolak tapi apa yang diucapkan oleh mamanya demi kebaikan dirinya.
Keesokan harinya, dua insan masih tergolek di atas ranjang, berselimut tebal saling berpelukan. Suhu ruangan semakin dingin menembus pori-pori kulit. Shena hendak membenarkan posisi tidurnya seraya menarik bed cover karena kedinginan. Akan tetapi, tubuhnya terasa berat saat ada tangan yang menimpa tubuhnya saat dia tidur meringkuk. Shena lalu mengerjapkan matanya, menetralkan pikirannya karena belum sepenuhnya sadar dari alam mimpinya.
Shena lalu membuka matanya yang masih berat dan meraba tubuh bagian samping. Ada tangan yang melingkar di perutnya.
“Aaa!” teriaknya seraya terperanjat langsung duduk. Dia melihat ke sebelah kirinya, ada sosok lelaki yang begitu mengejutkannya. Elvino pun setengah tersadar, dia mulai mengumpulkan nyawanya. Teriakan itu begitu nyaring memekik telinganya.
“El! Kamu ngapain di sini? Kenapa kita ...” Shena langsung melihat di bawah selimut, memeriksa tubuhnya, memastikan dia tidak telanjang.
“Hah? Maksud kamu ... aku yang membawamu ke sini? Kurang kerjaan banget aku!”
“Kenapa kau tidak memesankan kamar sendiri-sendiri? Kenapa harus bersama?” Elvino mengusap wajahnya kasar.
“Aku sudah memesankanmu kamar, dan lihat ini! Ini jelas kamarku,” tutur Shena seraya menunjukkan angka 301 di belakang key card yang tergeletak di meja nakas. “Harusnya kamarmu di depan, 302.”
“Lalu, kenapa aku bisa di sini? Apa kamu sengaja, ini akal-akalan kamu, kan, supaya bisa deket sama aku?” tanya Elvino tak hentinya menuduh Shena.
__ADS_1
“Aku nggak tahu! Justru aku yang harusnya nanya sama kamu. Lagian di sini aku yang dirugikan. Kau lupa aku ini perempuan, ini sudah seperti pelecehan!” Shena menggerutu tak karuan, di sisi lain dia sebenarnya ada perasaan senang ketika dia dipeluk Elvino dalam tidurnya tadi.
“Sedikit pun aku tidak berniat menyentuhmu! Harusnya kamu bisa merasakan sesuatu jika memang aku sudah melecehkanmu!” Elvino beranjak dari ranjang dan segera pergi ke kamar mandi.
Elvino berjalan dengan wajah bingungnya, masih mengingat-ingat apa yang terjadi semalaman. Dia yakin tidak melakukan apa pun pada Shena, tetapi satu hal yang membuatnya penasaran dan tidak ingat apa yang menyebabkannya tidur bersua dengan Shena. Elvino segera membasuh wajahnya dengan kasar.
“Sial! Apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak bermaksud mengkhianatimu, Celia. Maafkan aku,” ucap Elvino saat dirinya menatap cermin yang memantulkan dirinya, bayangan Celia berada di pelupuk mata.
Sementara itu, Shena yang masih terpaku di atas ranjang, sia berusaha memutar ingatannya semalam. Namun, tak sengaja, tangannya menyentuh benda kotak berlipat berwarna coklat berbahan kulit yang tak lain adalah dompet Elvino.
Shena pun mengambil dompet tersebut, yang kemungkinan terjatuh dari saku saat tengah tertidur. Ada rasa ragu dan takut saat berniat membuka dompet tersebut. Pada akhirnya, karena rasa penasaran, dia ingin melihat identitas asli Elvino, setidaknya dia akan tahu umur lelaki itu.
Mata Shena memanas begitu membuka dompet tersebut, dilihatnya sebuah foto pengantin wanita dengan gaun putih, sedangkan sang pria tengah mencium kening wanita tersebut. Dada Shena terasa sesak, dia memukulnya beberapa kali berusaha menghilangkan rasa sakit yang menjalar dalam ke hati seolah tersayat belati. Entah apa yang harus dia lakukan saat ini. Melihat lelaki yang dicintainya ternyata sudah menikah, membuatnya frustrasi. Tubuhnya seakan lunglai terkulai. Asa yang dulu melangit, kini hanya sebatas khayalan semu yang tak mungkin digapai.
“Bodoh, bodoh! Bodoh sekali kamu, Shen. Kenapa kamu mencintai lelaki yang sudah beristri,” batinnya. Tanpa permisi, buliran hangat itu dengan lancangnya keluar dari matanya. Segera dia mengusapnya saat suara pintu kamar mandi terbuka, menandakan sebentar lagi Elvino akan keluar. Shena segera meletakkan kembali dompet yang sejak tadi dipegangnya.
Lelaki dengan rambut basah itu tampak keluar dari kamar mandi, lantas menatap Shena dengan sorot mata tajam. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, dia mengingat Shena memohon untuk meminta bantuannya, dan sekarang malah terjadi hal yang sama sekali tidak terpikirkan Elvino sama sekali.
Jika tahu akan seperti ini, mungkin dia akan lebih memilih mengabaikan Shena dan benar-benar menjauhinya. Apalagi, Celia sudah mau memahaminya dan memaafkannya saat dirinya kepergok berduaan dengan Shena di mall waktu itu. Dia tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali pada rumah tangganya.
“Shena, apa pun yang kamu rencanakan, aku tidak akan bisa terima. Seharusnya kamu tahu batasan dan menghindari satu kamar dengan seorang lelaki, jangan lanjutkan rencanamu itu, bisa saja aku membencimu setelah ini,” tegur Elvino, dia berjalan ke tepi ranjang dan duduk membelakangi Shena yang tengah bersandar di kepala ranjang. Rasa kecewa Elvino berkecamuk saat menganggap Shenalah yang salah dalam hal ini.
__ADS_1
Bersambung.....