Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Tersangka


__ADS_3

“Selamat sore, Pak Elvino. Ini saya bawakan hasil penyelidikan.” Polisi tersebut menyerahkan selembar kertas dan langsung dibaca oleh Elvino.


Matanya terbelalak sempurna saat ia mendapati nama Celia di tulisan tersebut sebagai tersangka—otak dari penculikan ini.


“Apa, ini nggak salah, Pak?”


“Berdasarkan keterangan para pelaku, mereka semua mengakui bahwa nama itulah yang menyuruh, juga membayar mereka. Dan pihak kepolisian juga sudah bergerak untuk mencari tersangka. Baik, kalau begitu, saya permisi dulu. Semoga istri Anda lekas pulih kembali.”


“Terima kasih, Pak, atas kerja samanya.” Elvino mengangguk sopan sebelum polisi tersebut meninggalkannya.


“Brengsekk kamu, Celia. Berani sekali kamu mengancam nyawa istriku. Wanita macam apa kamu, aku sudah sangat salah pernah menjadi bagian dihidupmu! Wanita biadab!” Elvino menarik napas panjang mencoba mengontrol emosinya.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang IGD. Elvino langsung berjalan cepat menghampirinya untuk menanyakan keadaan Shena.


Beruntung, Shena sudah bisa diselamatkan meskipun dia harus terluka. Setidaknya Elvino lega dia tidak kehilangan istrinya dan masih diberi kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga yang berantakan karena kesalahpahaman. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti jika tanpa sang istri, ditambah Elvino masih mempunya rasa bersalah dan penyesalan yang begitu mendalam terhadap Shena.


Beberapa hari lalu, saat Shena pergi seorang diri, Celia mengikutinya bahkan hingga beberapa jam perjalanan. Sesampainya di kota yang Shena tuju, Celia tersenyum licik ketika dia tahu Shena tengah menginap di Hotel Diamond. Wanita itu langsung menghubungi seseorang untuk mengawasi setiap gerak gerik Shena karena merasa saat yang tepat untuk menyelakai Shena karena sedang berjauhan ddengan Elvino.


Setelah dua hari dalam pengawasan orang suruhan Celia, akhirnya hari ini Shena berhasil diculik. Namun, rencana tak semulus yang mereka harapkan. Siapa angka bahwa nasib mereka akan sial karena Elvino kebetulan menyusul sang istri dan malah mendapati para penculik tengah membawa Shena.


Celia pun kini juga sudah berhasil diamankan oleh kepolisian setempat. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang keji.

__ADS_1


“Pak, saya nggak bersalah. Lepasin saya! Saya sedang hamil!” berontak Celia saat dia mulai memasuki ruang tahanan setelah di BAP.


Wanita itu bahkan tak ada rasa penyesalan, dia masih terus menyumpah serapahi wanita yang bergelar istri dari mantan suaminya. Baginya, ini semua karena Shena, andai wanita itu tidak menikah dengan Elvino, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Jeruji besi yang tertata rapi menjadi penghalang Celia untuk berbuat kejahatan lagi. Bulir air matanya bahkan tak terbaca kesedihan sama sekali, hanya ada dendam dan kebencian dalam tangisnya. Dia berharap akan bisa cepat keluar dari sana dan bisa menghabisi Shena tanpa jejak sekalipun.


Sementara itu, di rumah sakit, Shena sudah berada di ruang inap. Elvino terus menunggu wanita itu untuk sadar. Namun, tampaknya Shena masih belum membuka matanya.


“Sayang, setelah ini, aku janji akan menebus semua kesalahanku, cepatlah bangun. Jangan terlalu lama tidur, aku sangat merindukan ocehanmu.” Elvino mencium punggung tangan wanita itu.


Suara ketukan pintu mengunggah Elvino yang tengah pilu memperhatikan wajah sang istri. Lelaki itu langsung membukakan pintu, ternyata seorang perawat memberikan hasil lab darah dan menjelaskan tulisan yang ada di dalamnya.


“Di sini tercatat bahwa tidak ada yang serius, Pak, semuanya bagus. Dan untuk kandungannya juga baik-baik saja.”


“Apa, Sus? Bi-bisa diulang kalimat yang terakhir?” pinta Elvino sedikit gagap, memastikan bahwa dia tidak salah dengar.


“Maksudnya kandungannya, Pak? Iya, kandungan Ibu Shena baik-baik saja. Janinnya sehat.”


Elvino terdiam membeku di tempat lalu menampar pipinya untuk memastikan bahwa yang ia dengar bukanlah mimpi semata. Namun, rupanya ia masih merasakan pedih di pipi. Itu berarti apa yang terjadi adalah nyata.


“Jadi ... jadi istri saya sedang hamil?” tanya Elvino kembali dengan mata berbinar.

__ADS_1


“Loh, Bapak belum tau? Iya betul, Pak, Ibu Shena sedang mengandung, usia kehamilannya empat minggu. Selamat ya, Pak.” Perawat tersebut berkata dengan ramah dan mengukir senyuman karena ikut merasakan kebahagiaan yang Elvino rasakan.


"Terima kasih ya, Tuhan. Aku akan jadi seorang Daddy, Sus?" tanya Elvino lagi.


Sang suster hanya mengangguk lalu berpamitan untuk mengecek kondisi pasien-pasien lainnya.


Sepeninggal suster, Elvino berdiri di samping brankar tempat Shena berbaring. Ia terus mengecup tangan sebelah kanan Shena yang tak terkena pisau. Elvino berharap Shena cepat bangun. Ia ingin meminta maaf. Sungguh ia sangat menyesal.


“Sayang, kapan kamu bangun? Apa kamu nggak mau melihatku? Aku sangat mencintaimu, Shen. Buka matamu dan aku ingin menyampaikan maaf dan terima kasih sebanyak-banyaknya untukmu. Wanita tulus yang rela berkorban demi aku. Namun, aku justru menyia-nyiakanmu dan tidak memercayaimu." Tanpa ia sadari bulir bening mengalir ke pipinya tanpa permisi.


"Aku minta maaf, Shen. Ku mohon bangunlah. Aku janji akan menjaga dan percaya selalu kepadamu apapun yang terjadi. Kalau perlu kamu boleh hukum aku atas kejahatanku kemarin-kemarin. Kamu boleh pukul aku. Aku jahat banget, Shen. Kamu pasti sangat sedih melalui ini semua sendirian. Maafin aku," monolog Elvino lantas mengecup bibir sang istri dengan lembut. Tangannya pun terulur mengelus pucuk kepala Shena, sesekali menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya.


Perlahan, mata wanita itu terbuka ketika dia merasa tidurnya terusik. Shena mengerjap dan mendapati wajah Elvino di atasnya tengah menangis sambil memandangnya.


“Sayang, syukurlah. Akhirnya kamu bangun, maafkan aku. Aku mohon maafkan aku, hukum aku Shen. Hukum aku,” Elvino menempelkan tangan Shena di wajahnya, lalu menangkup dengan kedua tangannya. Ia tergugu. Badannya bergetar karena sedih dan merasa sangat bersalah.


“El,” panggilnya lirih.


“Iya, kamu kalau mau marah, mau maki mau mukul mau hukum aku nggak papa, Sayang. Aku pantas menerimanya. Aku sudah berdosa kepadamu karena lebih memercayai hal yang tidak seharusnya aku percayai. Cemburuku membutakan segalanya, Shen. Kumohon maafkan aku." Elvino terus mencurahkan segala isi hatinya sambil terisak penuh penyesalan.


Wajah pucat dan tampak lemah tergambar jelas di sana, Shena masih terdiam dan berusaha mengingat kejadian apa yang baru saja dialami. Ia masih bingung. Namun, setelah mengingat semuanya, Shena menangis.

__ADS_1


“Sayang, apa yang kamu rasakan? Apa masih ada yang sakit? Aku panggilkan dokter, ya?” Elvino langsung panik melihat Shena tiba-tiba menangis.


Shena menggeleng pelan. Ia menatap manik mata suami tercintanya. Ada perasaan lega mendengar sang suami telah mengetahui semuanya. Mungkin inilah jawaban dari doa-doa yang ia panjatkan selama ini.


__ADS_2