Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Saling Menyiksa Diri


__ADS_3

Hari berganti hari, tidak terasa semenjak pertengkaran hebat sepasang suami istri tersebut memutuskan untuk pisah ranjang bahkan sampai pisah tempat tinggal sementara waktu,  sebelum semuanya membaik.


Tidak ada yang pulang ke apartemen  mewah, baik dari Elvino maupun Shena. Mereka sama-sama keras kepala  dan tidak ada yang mau mengalah sedikitpun, masih dengan ego masing-masing.


Shena memilih untuk tinggal di butik dan menyibukkan dirinya merancang pakaian untuk louncing barunya, karena tidak mungkin dia pulang ke rumah orang tuannya sedangkan dia ada masalah dengan Elvino.


Pasti urusan akan tambah runyam, apalagi dia sangat tahu betul karakteristik sang papanya seperti apa. Oleh sebab itulah, Shena memilih memendam semua masalahnya sendiri dan melampiaskannya pada pekerjaan yang digeluti saat ini.


 


"Shena, ya ampun ... kok gak di makan si? Nanti sakit loh! Sudah makan dulu, nanti jam makan siang keburu abis, kan tadi juga sarapan cuma sedikit!" tegur Melva pada Shena yang melihat makanan yang dia pesan sedaritadi masih belum juga disentuh oleh temannya.


"Nanti, ini belum selesai," sahut Shena sekenanya saat tangan itu terus mendesain baju yang ada di depannya.


Melva menghela napas saat memandangi diri Shena yang terus berkutik selama berhari-hari demi merancang busana, nampak raut wajah cantik temannya menjadi kusam dan tak urus. Membuat dia menjadi terenyuh atas masalah yang tengah meranda rumah tangga Shena.


 


Langkah kaki Melva perlahan mendekat ke arah Shena, dia menyuruh temannnya sekaligus atasannya untuk duduk terlebih dahulu. Walaupun wanita karir itu menolak tapi dia mampu menaklukkannya hingga mau menuruti kemauan untuk segera duduk, kemudian Melva mengambil piring tersebut dan berniat untuk menyuapi sahabatnya.


 


"Mel, apaan sih! Aku bisa sendiri, gak perlu disuapi, kaya anak kecil aja!" celetuk Shena dengan kesal, dia berniat mengambil piring tersebut dari tangan sahabatnya tetapi Melva justru menjauhinya dengan cepat.


 


"Nggak usah banyak omong, buka mulutnya! Aaaaaa ...." Melva terus memaksa Shena agar wanita itu mau membuka mulutnya. "Shen!"


Shena dengan tampang wajah kesal akhirnya dia mau membuka mulutnya menerima suapan dari tangan sahabatnya, bibirnya pun mengunyah makanan tersebut sampai air matanya pun menetes.


Namun, Shena mengalihkannya agar Melva tidak melihat dia menangis. Dia berusaha tegar agar tidak terlihat rapuh, menyemangati  dengan berbohong pada diri sendiri bahwa semua baik-baik saja.

__ADS_1


 


Melva yang tahu bahwa Shena menangis, dia pun berkata, "Nangis kan juga butuh tenaga, Shen. Kamu harus makan yang banyak, biar nangisnya juga kuat!"


Mendengar candaan dari Melva, Shena hanya terkekeh sembari mengunyah. Jujur seberapa kuat dirinya berpura-pura tegar tapi sebenarnya dalam dirinya sangatlah hancur, tetapi temannya itu selalu membuat dia tetap bisa berdiri.


 


Oleh karena itulah, Shena meneteskan air matanya karena terharu bahwa Melva selalu ada untuk menjadi tameng dalam hidupnya.


 


"Minum dulu!" ucap Melva yang menyerahkan gelas pada Shena, melihat temannya menurut dia kembali berkata, "Pinter, aaa ... lagi!"


Shena pun tersenyum, lalu membuka mulutnya. Dia pun mendapatkan perlakuan yang setidaknya membuat perasaan tahu bahwa dia masih ada yang memperhatikannya. Sampai makanan itu habis tak tersisa.


***


Sementara itu, di posisi di mana Elvino berada, pria yang memiliki paras tampan rupawan, kini berubah menjadi kucal dan kumal. Bahkan terlihat kurang sehat, semua itu tak luput perhatian dan bentuk simpatik dari Samuel.


Terpaksa Samuel pun kali ini bertindak tegas demi keselamatan Elvino, kakinya melangkah mendekat ke arah sang bos di mana Elvino selalu salah mengambil alat-alat yang akan digunakan.


Samuel mengambil kunci delapan dan menyerahkan pada Elvino saat tahu apa yang dibutuhkan oleh bosnya, dia pun melihat wajah datar yang terlihat pucat sembari mengucapkan kata terima kasih.


"Bos, mending istirahat aja dulu, biar kami yang mengerjakannya!" ujar Samuel yang kembali menasihati Elvino, karena sejak kemarin dirinya mendapatkan amukan bahwa dia dilarang ikut campur.


Elvino langsung terdiam sembari menghela napasnya dengan kasar, dia melirik ke arah Samuel sesaatr. "Sam, tolong kamu ambilkan oli di gudang!"


Samuel tidak beranjak sedikitpun dari tempat lnya dan itu membuat Elvino kembali mengulanginya kembali. "Sam!"


"Bos, saya akan patuh jika Bos mau mendengarkan saya untuk istirahat di dalam!" ucap Samuel yang kali ini tidak perduli mendapatkan amukan lagi.

__ADS_1


"Gaji kamu saya potong!" tukas Elvino dengan dingin, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Terserah, sebelum saya lihat bos istirahat, saya tidak akan menuruti perintah dari Bos!" ucap Samuel.


Namun, itulah Elvino yang memiliki ego yang tinggi. Dia tidak memperdulikan Samuel dan sangat malas untuk ribut, karena dia sendiri sudah tahu bahwa kondisinya sedang tidak sehat, hingga dia memilih untuk memerintahkan yang lain mengambil oli.


"Bos!" panggil Samuel yang memelas.


 


"Ok, saya akan istirahat, setelah menyelesaikan ini! Puas!" ucap Elvino dengan tegas yang tidak mau ribut dengan Samuel di saat tubuhnya benar-benar mulai melemah. "Dah urus pekerjaan kamu, jangan sampai saya mendengar komplenan dari pelanggan!"


Samuel merasa lega, akhirnya sang bos mau mendengarkan apa perintahnya. Hingga sorot mata itu pun melihat bagaimana Elvino sudah melangkah masuk ke dalam ruangannya.


Beberapa jam kemudian, saat hari mulai petang Samuel mulai menyerahkan laporan keseluruhan pada Elvino dengan masuk ke dalam ruangan. Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat Elvino sedang meringkuk di atas sofa dengan keringat dingin yang terlihat di wajah bosnya itu.


"Astaga, Bos!" Samuel akhirnya mendekat ke arah Elvino dan mengecek suhu tubuhnya. Dia pun memberikan selimut karena terlihat Elvino mengigit.


"Sam," gumam Elvino saat melihat sekilas karyawannya.


"Ya ampun, Bos, sudah dibilangin, keras kepala si!" Samuel memberikan rasa empati pada atasannya dengan mengambil air hangat untuk Elvino.


Secara telaten Samuel membantu Elvino untuk minum air hangat dengan cara menahan punggung lalu menyuruh bosnya minum secara pelan-pelan.


 


"Kita ke rumah sakit, ya Bos?" tawar Samuel saat kembali merebahkan Elvino dan menaruh gelas ke atas naka.


"Tidak usah, sebentar lagi juga membaik!" tolak Elvino yang kembali memejamkan mata sembari meringkuk.


Samuel berdengus kesal, karena Elvino masih aja tetap dengan pendirinya. Jalan satu-satunya adalah Shena, agar mau membujuk Elvino untuk pergi ke dokter.

__ADS_1


Namun, Samuel tahu penyebab Elvino sakit dan terus memporsir diri sendiri dengan bekerja terus menerus adalah msalah dalam rumah tangga. Hingga dia mencoba untuk menghubungi Melva.


Meminta bantuan terhadap wanita yang sebenarnya Samuel sendiri malas untuk menghubunginya, tetapi karena demi keselamatan bosnya, akhirnya dia nekat menghubungi Melva meminta tolong.


__ADS_2