
Tangannya meraih dashboard di bagian depan, mengingat waktu itu dia pernah menyimpan cek di dalam sana.
“Ah, syukurlah. Ternyata nasibku nggak buruk-buruk banget. Setidaknya aku masih bisa bayar dan nggak malu-maluin. Masa wanita cantik dan berduit nggak bisa bayar servis mobil. Nggak banget!” Shena pun menuliskan jumlah angka di cek itu sejumlah lima kali lipat dari nota dan langsung keluar dari mobilnya.
“Nih aku bayar! Lunas, ya!” Shena berjalan menghampiri Elvino untuk menyerahkan cek tersebut. Namun, naas dirinya tak melihat ada alat servis yang tergeletak di lantai, sehingga membuat dirinya terpeleset.
“Akh!” pekik Shena.
Beruntung, Elvino segera menangkap dan mendekap tubuh wanita itu. Shena pun langsung menegakkan tubuhnya sedikit menjauh, karena tak mau berlama-lama berada di pelukan lelaki tampan tersebut.
Cek pun masih berada di genggamannya karena belum sempat diterima oleh Elvino. Sementara itu, Shena mengembuskan napasnya dengan kasar, kemudian menyisipkan cek tersebut di bawah pintu.
__ADS_1
“Dasar cowok nggak punya perasaan! Baiklah, aku pamit dan udah bayar sesuai janji. Silakan cek dan terima kasih!” Shena meninggalkan area bengkel dan mencari hotel terdekat, dia malas untuk pulang ke rumah.
Setibanya di sebuah hotel, dia segera check in, lantas segera memasuki kamar yang dia pesan setelah mendapatkan kunci. Dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, sebuah benda mengalihkan perhatiannya saat dia tengah bercermin. Sebuah plester menempel di dahinya. Senyumnya mengembang seperti bulan sabit.
“Dia sweet ternyata.” Monolog Shena dalam hati.
Mentari sudah menampakkan kilaunya, cahaya jingga berpadu dengan biru semakin menambah indahnya suasana pagi ini. Sinarnya masuk melalui sela-sela gorden putih, membuat Shena menyipitkan matanya karena silau. Dia mencoba terbangun, tapi ternyata badannya terasa pegal, sepertinya efek samping dari kecelakaan kemarin.
Setelah mandi, Shena memakai baju kemarin lalu turun ke lobi bawah untuk sarapan. Hotel ini cukup mewah dan menyediakan sarapan gratis bagi pengguna layanan hotel. Shena mengambil menu lontong sayur sebagai menu paginya. Shena adalah tipe yang tidak mudah gemuk, jadi tak ada pantangan makan. Meski dia makan banyak setiap harinya, tetapi badan tetap langsing karena rajin berolahraga dan minum air putih.
Shena memilih tempat duduk paling pojok, karena dirinya harus mengecek beberapa email yang masuk. Sambil berkutat dengan ponselnya, gadis itu sesekali mengambil ketupat beserta kuah dan sayur labu.
__ADS_1
Tiba-tiba, sebuah suara menginterupsi kegiatannya. Suara yang membuatnya membeku beberapa saat karena terkejut. Perlahan, kepalanya mendongak ke atas. Matanya membola, melihat seseorang yang sudah lama dia hindari kini malah tanpa sengaja bertemu.
“Hai, Baby ... long time no see,” sapa seorang pria berperawakan tinggi, gempal dan cukup tampan melambai ke arah Shena.
“Anda siapa?” tanya Shena berlagak tidak kenal. Dia berusaha menetralkan kegugupannya.
“Tidak perlu pura-pura lupa, Beb. Kamu tidak pandai berbohong. Ha ha ha,”
“Saya sudah lupa dan menolak ingat. Kita sudah selesai. Tolong anggap kita tidak kenal!” pinta Shena dengan tatapan tajam.
Bukannya pergi, lelaki itu—Roger justru duduk tepat di samping Shena. Hal itu membuat Shena sedikit gemetar dan risih, mengingat kisah yang sudah tidak ingin dia ingat lagi. Semua perlakuan kasar Roger yang membuat dirinya trauma hingga harus ke psikiater karena hampir saja hilang kendali akibat stres. Beruntung sahabatnya selalu support dan menemaninya kala itu. Jika tidak, mungkin saat ini dia sedang mendekam di rumah sakit jiwa karenanya.
__ADS_1
Kini, setelah dia sudah bisa lepas dan bangkit, justru Roger datang kembali. Entah ini kebetulan atau takdir. Shena bergeming sesaat, kemudian menyuruh Roger pergi, meskipun dia tahu itu tidak akan mempan.