
Elvino pun mengangguk dan terus menatap wanita itu. Tak lupa, Shena lalu meraih tangan Elvino untuk bersalaman dan mencium punggung tangannya.
Setelah kepergian Shena, Elvino menatap tajam ke arah Samuel.
"Hari ini kamu lembur. Tidak ada alasan." Elvino mendengus lalu pergi dengan muka kesal. Pasalnya dia masih merindukan sang istri. Namun, karena Samuel dan Melva bertengkar, membuat Shena harus pergi agar keduanya berhenti berdebat.
Samuel hanya menghela napas beratnya pasrah. Rencana pulang cepatnya gagal.
"Ish, semua gara-gara cewek rese itu! Aku jadi gagal untuk pergi menemui seseorang. Dasar nyebelin!" batinnya dalam hati. Tangannya mengepal dan meninju angin.
**
Di tengah jalan, Shena mendapatkan telepon dari Emma. Wanita paruh baya itu mengabarkan jika akan berkunjung ke butik untuk melihat desain yang Shena buat untuknya. Shena memacu mobilnya dengan lebih cepat agar mertuanya itu tidak terlalu lama menunggu. Dia harus membuat kesan yang baik agar mendapat restu yang selayaknya suatu saat nanti ketika Elvino mengenalkan dirinya kepada kepada Emma.
Tepat ketika Shena sampai di butik, bersamaan Emma yang juga baru keluar dari mobil.
"Hallo, Tante. Kebetulan sekali saya juga baru mau masuk ke butik setelah makan siang tadi," sapa Shena kemudian menyalami punggung tangan Emma dengan lembut.
Emma tersenyum dan terkesan dengan sikap Shena yang sangat sopan kepadanya.
"Mungkin kita berjodoh. Ha ha. Maksudnya kamu dan saya akan menjadi sepasang menantu dan mertua," celetuk Emma diiringi tawanya. Namun, sebetulnya itu adalah kata-kata jujur dari dalam hatinya.
Shena hanya membalas dengan senyum. Melva menyenggol siku sahabatnya itu dan menaikturunkan alis menggoda Shena. Hal itu membuat Shena melotot dan memberinya kode untuk diam.
"Saya aminkan ya, Bu." Melva ikut menimpali.
"Iya betul. Hi hi."
"Ya sudah, mari Tante, kita lihat desain yang sudah saya buat. Melva jangan melamun nanti makin nggak laku," cibir Shena. Melva pun menekuk wajahnya mendengarnya dan memajukan bibir.
Shena hanya menggelengkan kepalanya. Mereka bertiga berjalan beriringan masuk ke butik.
__ADS_1
"Bentar ya, Tan. Aku ambil desainku di atas. Ehm, atau Tante ikut aja ke ruanganku, biar lebih santai kita diskusinya?" tanya Shena.
"Oh, bolehkah? Baiklah, Tante rasa itu lebih baik."
Shena mengamit jemari Emma kemudian menggandengnya. Dia menoleh ke arah Melva lalu berkata, "Mel, aku ke atas dulu. Tolong jangan biarin siapa pun ke atas, ya?"
Melva mengangguk mantap dan tersenyum. Shena menggandeng Emma menuju ke lantai atas–ruangan kerjanya. Hati Emma menghangat diperlakukan seperti itu oleh Shena. Dia merasa memiliki anak perempuan seperti yang selama ini dia idamkan.
Dahulu, setelah Emma melahirkan Elvino rahimnya terdapat kelainan karena kesalahan medis. Jadi, dia tidak bisa hamil lagi meskipun dengan operasi dan lainnya. Padahal dia ingin memiliki anak perempuan juga agar bisa di ajak belanja bareng, salon bareng dan hal lainnya. Namun, dia tetap bersyukur bagaimana pun dia sudah memiliki Elvino–anak semata wayangnya.
"Tante, selamat datang di ruanganku. Semoga Tante nyaman." Shena membuka pintu dan mempersilakan Emma masuk dan memintanya untuk duduk di sofa.
Emma mengucapkan terima kasih. Dia menatap takjub ruangan Shena yang tampak bersih, rapi dan juga simple tapi nyaman. Ada sofa abu-abu di pojok kanan, tak jauh dari situ terdapat meja kerja berukuran sedang. Laptop dan dan peralatan tulis juga buku gambar tampak rapi di atas meja tersebut. Dinding berwarna biru laut dan lukisan pemandangan sebagai pemanis ruangan menambah estetika tempat ini. Ada sebuah pot besar diisi bunga buatan di sudut kiri tepat sebelah jendela. Lampu berwarna kekuningan, membuat kesan tenang.
"Tante, ini desain sesuai dengan apa yang Tante rincikan. Bagaimana menurut, Tante?" tanya Shena sembari menyodorkan sebuah kertas kepada Emma.
"Waw. ini pas banget, Shen. Tante mau yang seperti ini. Aduh rasanya senang sekali kamu bisa mengerti keinginan Tante," ucap Emma dengan mata berbinar.
"Syukurlah. Oke aku ukur badan Tante dulu, ya. Setelah itu aku akan cari bahan dan mungkin membutuhkan waktu seminggu untuk menyelesaikannya. Gimana, Tan?"
"Oke. Baiklah, kalo begitu lebih baik. Maaf permisi mau ukur badan Tante. Boleh berdiri dulu, Tan?" pinta Shena.
Emma berdiri dan merentangkan tangannya. Shena mengukur dari lingkar dada, lengan, dan juga pinggang lalu mencatatnya di balik kertas desain tadi. Setelah itu, mereka mengobrol santai.
Hari berganti begitu cepat, seminggu kemudian, Emma datang lagi dan mencoba gaun yang Shena buat. Dia merasa puas dan senang terhadap kinerja gadis itu.
"Shen, kamu sibuk nggak?" tanya Emma selesai dari ruang fitting.
"Enggak. Kenapa, Tan?"
"Temenin Tante shopping, yuk? Tante pengen belanja bulanan."
__ADS_1
"Baiklah dengan senang hati, Tan. Tapi tunggu Shena dalam sepuluh menit ya. Shena mau menyelesaikan ini dulu."
Mereka pun berbelanja ke mal terdekat. Emma semakin menyukai Shena. Ternyata, mereka memiliki banyak kesamaan dari selera tas, baju, dan lainnya.
Mereka dijemput oleh Elvino, tepat setelah makan malam di restoran mal.
"Terima kasih," ucap Shena saat sudah sampai di depan rumah orang tuanya. Elvino hanya mengangguk sambil tersenyum kemudian pergi mengantarkan Emma.
"El, kamu yakin tidak ada hubungan apa-apa dengan Shena?" tanya wanita tersebut.
"Apaan sih, Ma. Tanya itu terus deh."
"Tapi kamu dan Shena, mencurigakan. Kamu bisa tahu persis di mana alamat dia tanpa dia sebutkan. Kamu sering ke sana, yaa? Hayo ngaku?"
Elvino mati kutu, dia bingung harus menjawab apa. Otaknya berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat dan logis agar mamanya tidak bertanya lebih jauh. Entah kebetulan atau bagaimana, dering ponsel mengalihkan perhatian Emma. Sepertinya itu dari teman sesama arisannya.
Elvino mengembuskan napas lega, akhirnya dia selamat dari cecaran Emma. Dia tau persis sang mama gampang teralihkan. Jadi, setelah ini dia bakalan lupa dengan apa yang barusan di bicarakan.
Setelah mengantar Emma, Elvino bertolak ke apartemen. Dia sudah tidak semangat bekerja. Hari ini kebetulan adalah jatah Shena tidur di apartemen. Dengan senyum semringah, Elvino memacu mobilnya ke arah apartemen. Ketika melewati sebuah toko boneka, terbesit untuk membelikan satu untuk sang istri.
Jika di pikir, selama menikah, dia belum memberikan apa pun untuknya. Dia memilih boneka bear paling besar untuk Shena.
Sambil bersenandung, Elvino pulang dan memasuki apartemen. Dia mandi dengan sabun yang banyak. Tak lupa menyemprotkan parfum ke tubuh dan bajunya demi menyambut Shena.
Pukul lima sore, Shena datang membawa bingkisan camilan untuk Elvino.
"Hai, El. Tumben sudah di sini?" tanya Shena.
"Ah iya, tadi tidak begitu banyak pelanggan datang. Jadi, aku memutuskan untuk pulang. Oh ya kamu bawa apa?"
"Oh, begitu. Aku bawain kamu tiramisu. Tadi mama beli buat arisan terus lebih. Ya sudah aku bawa aja ke sini," papar Shena kemudian mencium tangan Elvino. Elvino memgecup kening Shena sekilas. Hal itu membuat Shena seperti tersengat aliran listrik. Padahal, sudah beberapa kali Elvino seperti itu. Namun, entah kenapa sensasinya tidak berubah.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
Hai readers sayang, jaga kesehatan selalu yaa. Semoga rezeki kalian berlimpah jadi bisa tetep beli kuota buat baca Shena dan El. Sampai ketemu di chapter selanjutnya. Love you ❤️🥰