Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Bertengkar


__ADS_3

Di apartemen, sepasang suami istri saling beradu mulut tiada habisnya  Shena yang sedari tadi diam tanpa kata di perjalanan, kini meluapkan semua kekesalannya begitu sampai apartemen. Bahkan, sejak tadi Elvino berusaha membujuk pun tak mempan sama sekali. Shena tetap dengan pendiriannya, bersikeras untuk menghindar dari ucapan suaminya itu.


“Cukup, El! Jangan terus membujukku seperti itu. Percuma. Kamu tuh hanya membuat moodku berantakan. Aku pengen sendiri, jangan ganggu aku terus!” Shena mulai kesal dan membuka pintu kamar, dia lalu melempar tasnya ke ranjang.


Elvino terus mengikuti Shena, dia berdiri di ambang pintu dengan menyenderkan lengannya. Kedua bola matanya tak henti menatap Shena yang tengah duduk di tepi ranjang tanpa menatap Elvino.


“Shen, jangan seperti anak kecil begini. Kamu juga sudah tau, kan, aku sama Celia udah resmi cerai. Apa yang membuatmu sampai seperti ini? Apa kamu cemburu?” Pertanyaan Elvino sontak membuat Shena tertegun. 


“What, cemburu? Sorry, nggak ada di kamusku buat cemburu, apalagi sama wanita sekelas mantan istri tercintamu itu!” Shena melirik tajam. 


Setelah mengucapkan kalimat itu, wanita itu pun gegas berjalan ke kamar mandi. Tanpa aba-aba, dia membanting keras pintu tersebut, membuat Elvino sangat terkejut dan mengelus dadanya. Sebagai seorang suami, dari awal dia memang sangat paham dengan sifat istrinya itu. Wanita manja yang terkadang sangat duka mengubah moodnya sewaktu-waktu, menjadikan lelaki itu untuk belajar lebih sabar menghadapinya.


Setelah ritual mandinya selesai, Shena keluar dengan menggunakan bathrobe putih, sedangkan Elvino tengah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lelaki itu melipat satu tangannya ke atas untuk bantal kepala. Dia menatap Shena dengan lekat tak berkedip. Wanita yang kini berdiri di depannya tengah sibuk membetulkan gelungan handuk di kepala tanpa menyadari jika Elvino ada di sana. 


“Ehem!” Elvino berdehem. Hal itu membuat Shena terperanjat. 


“Ngapain kamu di situ? Keluar!” 


“Kenapa memangnya? Bukankah ... aku berhak untuk meminta hakku?”


“Jangan mendekat dan jangan macam-macam!” 


Shena semakin memundurkan langkahnya, sedangkan Elvino sengaja menggoda istrinya itu. Tam peduli seberapa jelek mood Shena saat ini, yang jelas dia hanya berusaha mencairkan suasana. 

__ADS_1


“Ayolah, Shen. Jangan marah-marah terus. Kamu semakin membuatku panas.” Dalam hati Elvino, dia sangat ingin tertawa geli melihat ekspresi Shena yang ketakutan. 


“El, kalau kamu terus mendekat, aku akan telepon papa dan kamu akan tau akibatnya!” 


Elvino lantas diam, tetapi langkah dan tatapannya tak kunjung beralih dari wajah ayu Shena. Apalagi, wangi tubuh khas Shena membuat kelakian Elvino tergugah, ditambah dengan rambutnya yang basah, membuat Shena semakin terlihat seksi. 


Lelaki mana pun, jika disuguhi pemandangan wanita cantik yang dicintainya, pasti akan menimbulkan hasrat yang begitu mendalam. Elvino tak tinggal diam, dia lalu mendekatkan tubuhnya ke Shena. Wanita itu semakin terimpit di dengan dinding. Elvino menatap mata indah Shena lalu berkata, “Shen, aku suamimu. Sudah sepantasnya kamu memberikan hakmu padaku.” 


“El, ingat perjanjian kita di awal. Kamu nggak berhak memilikiku seutuhnya sebelum kamu meresmikanku di mata negara dan orang tuaku. Paham!” 


Tanpa mendengar penuturan Shena, Elvino memegang bahu Shena, dia malah semakin berani mencium bibir wanita yang tam berdaya di depannya. 


“Emb!” Shena hendak mengeluarkan kalimat. Namun, Elvino tak memberinya ruang.


“El! Kamu gila, ya!” Kali ini, Shena benar-benar marah, dia merasa Elvino sudah keterlaluan. 


Tamparan mendarat di pipi Elvino, entah kenapa Shena begitu refleks melakukan hal itu. Elvino seketika berhenti dengan aktivitasnya, dia mundur satu langkah. Lelaki itu benar-benar tidak menyangka kalau Shena akan tega menampar suaminya sendiri. Namun, El berusaha menata hatinya, mungkin memang dia salah. Kali ini, mengalah lebih baik.


“Maaf, Shen. Aku cuma ingin kamu tidak seperti ini terus, marah-marah tanpa alasan yang jelas. Baiklah, aku akan tidur di luar malam ini.”


Shena terdiam membeku. Dia tak tahu harus berbuat apa. Setelah kepergian Elvino, dia mengusap kasar wajahnya. Buliran hangat menetes begitu saja dari pipi wanita itu. Bibirnya bergetar hebat tanpa mengeluarkan isakan tangis sama sekali. Padahal, air mata itu telah berhasil membasahi pipi.


 “Maafkan aku, El. Tapi, kamu terlalu memaksaku di situasi seperti ini.” Shena beranjak, langkahnya pelan menuju ranjang. 

__ADS_1


Sementara Elvino, dia berada di ruang tengah, merebahkan tubuhnya di sofa. Pikirannya jauh menerawang ke awang-awang. Rasanya memang sedikit sakit di hatinya dibandingkan sakit tamparan itu, tidak ada apa-apanya. Bagaimana bisa wanita yang kini berstatus sebagai istrinya bisa menamparnya begitu saja hanya karena persoalan kecil. 


Dua jam kemudian, suami istri tersebut kini telah terlelap di tempatnya masing-masing. Namun, Shena kembali terbangun saat jam menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Dia begitu tak tenang memikirkan Elvino. Akhirnya, perlahan Shena mengendap-endap keluar dari kamar untuk melihat Elvino. Dia sangat merasa bersalah setelah apa yang dia lakukan beberapa jam yang lalu. 


Tangan halus itu terulur membelai pipi Elvino yang tengah pulas. Suara dengkuran tipis membuat wanita itu semakin berani mencium pipi bekas tamparannya tadi. Lelaki itu sama sekali tidak bergerak. Tampaknya dia sedang berada di alam mimpi. “El, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, besok aku akan menebus semua kesalahanku. Maafkan aku.” 


Sekali lagi, Shena mencium pipi suaminya untuk beberapa detik, juga mengelus pelan pucuk rambutnya. Kemudian, dia menyelimuti Elvino dengan selimut yang dibawanya dari kamar tadi.


Keesokan paginya, Elvino menggeliat dan menyadari sebuah selimut tergelar di atas tubuhnya. Sebersit senyum terbit di bibir membuat hatinya menghangat. Ia beranjak dari sofa dan berjalan ke arah dapur mencium aroma sedap menyeruak ke dalam hidung.


Ia terkesiap saat melihat sang istri tengah berdiri di depan kompor memasak. Shena terlihat cantik saat mengenakan celemek. Wajahnya yang begitu manis dari samping tak lupa leher jenjang yang terekspos karena rambut panjangnya dicepol ke atas.


Merasa ada yang memperhatikan, Shena menoleh ke arah samping. Kedua netranya bersitatap dengan Elvino. Ia mematikan kompor lalu memalingkan wajah ke arah lain.


"Maaf," lirihnya.


Elvino tersenyum lalu berjalan menghampiri Shena. Wanita itu pun sedikit demi sedikit bergeser hingga mentok di depan kulkas.


"A-aku tidak bermaksud. Kemarin sangat emosi." Shena gugup saat Elvino kini sudah berdiri di belakangnya.


Pria itu membalikkan tubuh Shena kemudian sedikit menunduk karena tinggi wanitanya itu hanya sebatas dada.


"Beginikah cara kamu meminta maaf?" tanya Elvino menaikan dagu Shena secara perlahan dengan satu tangannya.

__ADS_1


__ADS_2