
“Shen, jaga mata, Shen! Nggak bisa banget lihat barang bagus!” batin Shena.
Shena memilih membalikkan badannya dan bergerak hendak keluar. Namun, dengan iseng Elvino mencekal tangan Shena dan memutar badannya agar menghadap ke arahnya. Sontak hal tersebut membuat Shena refleks memejamkan mata karena malu, pipinya bersemu kemerahan bak tomat rebus.
Elvino pun terkikik geli melihat tingkah istrinya ini. Dia mencubit pipi Shena dengan gemas.
"Biasanya istri siapin baju lengkap untuk suaminya lo?" ucap Elvino dengan nada menggoda.
"Ah … a … iya sebentar. Lepasin tangan aku dulu," kata Shena tergagap karena gugup.
"Aku akan melepaskan jika kamu membuka mata. Tubuh ini sudah milikmu juga, Shen. Apa yang kau takutkan. Jangankan di lihat, di sentuh pun aku tak masalah."
Shena berdecak kemudian membuka mata perlahan. Tak bisa di bohongi, dirinya terpesona dengan tubuh Elvino. Tubuh yang selama ini dia lihat di majalah fashion, kini terpampang nyata di hadapannya. Shena meneguk ludahnya. Namun, dengan cepat ia tersadar dan menggelengkan kepala menepis pikiran kotor dari otaknya.
Setelah Elvino melepaskan cekalannya, Shena bergegas mengambil asal baju, celana dan juga dalaman untuk Elvino tanpa melihatnya. Kemudian, dia menyodorkan kepada Elvino sambil memalingkan wajah.
"Nih,"
"Kamu yakin aku suruh pakai dalaman ini, Shen?" tanya Elvino terkekeh geli.
Dahi Shena berkerut melihat dalaman yang dia berikan untuk Elvino. Seketika matanya membola lalu terpejam. Ia melipat bibir dan merutuki dirinya dalam hati. Tanpa sadar, dia mengambil dalaman yang salah. Pasalnya dalaman dia dan Elvino terletak bersebelahan hingga karena gugup, Shena tak menyadari jika dia justru mengambil dalaman renda biru miliknya dan langsung memberikannya pada Elvino.
Shena dengan cepat menarik kembali tangannya dan meletakkan kain segitiga itu di tempat yang seharusnya lantas mengambil dalaman hitam milik Elvino. Setelah itu dia memberikan dan berlari keluar kamar lalu menutup pintunya dengan kencang. Sungguh ini adalah hal yang sangat memalukan baginya. Sedangkan di dalam kamar, Elvino malah tertawa terbahak-bahak akibat kelakuan Shena.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, Shena menjadi lebih diam. Hal itu tak dibiarkan oleh Elvino. Dia mengajak sang istri jalan-jalan untuk menyenangkannya. Dia membawa Shena ke sebuah Mal dan membebaskan Shena untuk belanja apa pun yang dia inginkan. Mereka berjalan bergandengan tangan. Dunia serasa milik berdua.
Seminggu kemudian, Sandra meminta Shena untuk menemaninya menghadiri acara reuni SMA. Harusnya dengan Bagaskara, akan tetapi suaminya itu sedang sibuk di kantor, jadi dia tak bisa mengantarkan apalagi menemaninya. Mau tak mau Shena menerima ajakan Sandra untuk menemani wanita paruh baya tersebut.
Setelah bersiap, mobil mereka melaju menuju suatu hotel di kawasan elite. Mereka memasuki ruangan ballroom hotel dengan wajah semringah. Sandra meninggalkan Shena dan berbaur dengan teman-temannya.
Suasana seketika menjadi riuh rendah oleh obrolan-obrolan para wanita paruh baya. Mereka saling bercerita dan mengenang banyak hal. Sedangkan Shena menepi, dirinya asyik mencoba berbagai makanan lezat yang tersedia di sana. Iringan musik dan tatanan ballroom yang di buat sedemikian rupa, membuat Shena terpukau. Sambil memakan camilan, Shena mengangguk-angguk sesuai irama lagu yang di mainkan.
Tak lama, terdengar nama Shena di panggil. Hal itu tentu saja membuat Shena memutar bola matanya malas. Dia bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. Biasanya akan ada banyak orang menanyakan perihal dirinya sudah begini dan begitu. Dengan langkah gontai, Shena berjalan menuju gerombolan Mamanya.
"Ini anakku Shena. Dia punya butik lo? Kalian kalo mau pesen bisa ke dia tuh. Di jamin puas dah sama design-nya yang nggak kaleng-kaleng," ucap Sandra memamerkan putrinya. Shena hanya tersenyum mengangguk. Namun, dirinya tercengang saat mendapati Emma juga di sana. Dia dan Emma sama terkejutnya.
"Loh, Shena? Oalah, ternyata ini anak kamu, Jeng?" tanya Emma. Matanya berbinar mengetahui bahwa ternyata Shena adalah anak sahabatnya sendiri.
"Iya dong, Jeng. Cantik kan?"
"Semua wanita saya rasa punya gelar itu, Tante," jawab Shena sambil memasang senyum semanis mungkin. Padahal dalam hatinya keki setengah mati. Dia sudah sering bertemu dengan ibu-ibu tukang nyinyir di acara arisan Sandra. Jadi, sudah terbiasa menghadapinya.
Hal yang tidak Shena sadari, Emma menyunggingkan senyum juga karena terkesima dengan jawaban Shena yang membuat Sinta bungkam tak bisa berkata-kata.
Sedangkan Sandra tersenyum mengejek karena ejekan Sinta tak berpengaruh pada Shena.
"Sudah punya anak belum? Anakku Sonya sudah punya anak satu loh. Nggemesin banget."
__ADS_1
Seolah tak puas dengan kekalahannya, Sinta memberikan pertanyaan yang membuat Shena dan Sandra geram.
"Dia belum punya anak, Sin." Sandra menjawab lalu melirik ke arah Shena. Dia berharap Shena tidak terpancing emosi.
"Hah? Umur kamu berapa? Kok belum punya anak? Jangan-jangan belum nikah, ya?" Sinta semakin gencar memanasi Shena.
"Shena sudah punya suami, kok. Dia sudah menikah dengan pemilik bengkel besar. Yang jelas sudah mapan dan baik hati. Cuma, emang belum di publikasikan karena keduanya sibuk. Tapi, nanti ketika resepsi, kamu pasti aku undang, Jeng," ungkap Sandra. Hal itu membuat Shena tersenyum.
"Hah? Shena sudah menikah, Jeng?" tanya Emma menimpali.
"Kenapa emangnya, Jeng?" Dahi Shena dan Sandra berkerut mendengar pertanyaan itu. Mereka saling menoleh bingung.
"Sayang sekali, padahal aku sudah suka anakmu loh, Jeng. Tadinya mau ku jodohkan saja dengan anakku. Tapi malah sudah nikah. Ah, potek hatiku," Emma menampilkan wajah cemberut.
"Tak apa, Tante. Kan kita masih bisa shopping atau nyalon bareng," tukas Shena.
"Iya juga sih. Oke baiklah tak apa. Berarti kita bertiga bisa hang out bareng ya, kan. Yuhuuu. Mari kita pergi meninggalkan nenek bercucu satu itu. Permisi, Sinta." Emma menarik tangan Shena dan membawanya menjauhi Sinta, sedangkan Sandra mengikuti di belakang.
Mereka bertiga tertawa bersama, sedangkan Sinta mengepalkan tangan karena sebal dengan perlakuan Emma dan Sandra. Sejak dahulu, dia memang iri dengan Sandra dan Emma. Mereka akhirnya berbincang mengenang persahabatan Sandra dan Emma dahulu. Tak lupa, Emma menceritakan kesannya ketika ketemu Shena. Berkali-kali dia memuji Shena dan berharap anaknya menemukan istri sebaik dan sepintar Shena.
Entah apa yang di pikirkannya saat ini memanglah bercampur aduk. Tentu saja, Elvino menjadi salah satu alasannya untuk mengalihkan fokusnya. Apalagi, keberadaan Emma saat ini sudah dekat dengan Sandra. Dia juga tidak menyangka dengan sesuatu yang sangat kebetulan ini.
Esok, dia akan mulai berbicara pada Elvino tentang hal, jika keduanya tidak segera melakukan sesuatu, hal yang ditakutkan bisa saja terjadi. Emma akan mengetahui semuanya dari Sandra, meskipun wanita itu tak saling tahu hubungan rumit anaknya.
__ADS_1
Bersambung...
Terima kasih pembaca setia Elvino dan Shena. Kabar gembira, mulai hari ini author akan update setiap hari ya. Sampai ketemu besok 🥰❤️