Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Lahirnya Anak Celia


__ADS_3

Lelaki itu sangat emosional setelah beberapa minggu berada di kursi roda karena kondisinya yang sedang lemah. Alat vitalnya bermasalah, setiap kali dia buang air kecil selalu mengeluarkan nanah bersamaan dengan rasa panas seperti terbakar di ujung sana. Dia menahan sakit luar biasa yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya. Hal itu membuat dia merasakan nyeri untuk berjalan sehingga dia harus menggunakan kursi roda untuk ke sana kemari.


“Ini ulah kamu sendiri, Roger, anggap ini sebagai pelajaran dan memang sudah konsekuensinya seperti ini. Kalau tidak begini, mungkin kamu akan terus melakukan hobi menjijikkan itu. Papa nggak habis pikir sama kamu, Papa pikir kamu di sini bisa menjadi pria yang baik dan mandiri setelah kepergian mama kamu, nyatanya Cuma Papa sendiri yang berjuang untuk hidup kita. Papa kecewa sama kamu, ingat Roger, kamu sudah dewasa dan harusnya tidak perlu Papa kasih tahu mana yang baik dan mana yang buruk.”


Roger terus mantikkan air mata. Baru kali ini, lelaki itu merasa lemah dan tak berdaya. Padahal, sebentar lagi Celia membutuhkannya untuk hadir di rutan, menyambut kelahiran bayinya.


“Maafkan Roger, Pa. Roger khilaf.”

__ADS_1


Lelaki paruh baya itu pun keluar dari kamar Roger dengan perasaan campur aduk, antara kasihan, tak tega, dan juga amarah yang membuncah. Namun, seberapa emosinya orang tua, dia tetap akan peduli pada anak satu-satunya itu, terlebih sejak istrinya meninggal, ia sama sekali tak ingin menikah lagi.


Meskipun dia sudah berobat, tetapi masa penyembuhan memang agak lama mengingat karena Roger sudah cukup terlambat memeriksakannya. Bahkan gejalanya pun tak dirasa oleh Roger. Lelaki itu terus meratapi kebodohannya. Semua penyesalan terasa sia-sia. Jika bisa, dia ingin sekali memutar waktu untuk tidak terus hidup dalam kesenangan sesaat di klub—menghabiskan malam dengan wanita liar bayaran di luar sana. Namun, nasi sudah menjadi bubur, dia hanya perlu fokus untuk penyembuhannya sekarang ini.


Di rumah tahanan dengan pengawasan polisi di sebuah klinik khusus tahanan, Celia tengah berjuang untuk kelahiran bayinya, ditemani oleh Roger. Penyakit tersebut tak menghalangi Roger untuk memberi semangat Celia.


Selang beberapa menit, bayi mereka pun terlahir. Bidan yang menangani pun mengecek semua kesehatan bayi, membawanya ke ruangan khusus. Namun, ada satu hal yang sangat mengejutkan Celia dan Roger saat bidan memberitahu bahwa bayi mereka ternyata mempunyai kelainan pada jantungnya. Penyakit bawaan tersebut disebabkan oleh faktor genetik ataupun bisa juga adanya gangguan perkembangan janin.

__ADS_1


"Salahku kamu bilang? Kamu sendiri yang tidak memberikanku makanan dan minuman yang layak untuk anak kita. Kemana saja kamu hah? Anak ini lahir di penjara dan kamu menyalahkan aku? Sedangkan kamu sendiri asyik main wanita dan melupakan keberadaanku? Kamu campakkan aku seperti sampah dan sekarang menyalahkanku? Pergi kamu Roger! PERGII! PERGI KAMU!" teriak Celia frustasi.


"Dasar wanita sialan. Aku tidak bisa memberikanmu makanan enak karena dilarang oleh petugas penjara! Dan asal kamu tahu aku sakit HIV! Puas kamu hah!" teriak Roger tak kalah emosinya.


"Itu salahmu karena suka bermain dan bergonta-ganti wanita! Itu pantas buat penjahat kelamin sepertimu, Roger!"


Plak! Roger menampar Celia lalu meninggalkan wanita yang tengah terisak dalam kesedihan itu.

__ADS_1


Celia memukul-mukul kepalanya sendiri meluapkan emosinya lalu menangis tersedu-sedu.


"Maafkan aku, Elvino," ucapnya sambil tergugu dan badan bergetar karena menahan sesak di dada. Ia menyesali perbuatannya selama ini. Mungkin ini adalah cara Tuhan memberikannya peringatan dan teguran atas semua perilakunya.


__ADS_2